Jalan Raya

Sebatang coklat. Sebatang coklat yang terselip di saku samping ransel seorang bocah perempuan terjatuh ketika ia tengah menyeberang jalan, melangkah tersuruk-suruk di belakang–sambil mencoba meraih ujung baju–ibunya yang ingin cepat-cepat sampai di pelataran parkir. Udara panas dan berdebu dan kering.

Seorang sopir angkot membunyikan klakson lalu menginjak rem lalu mengoper persneling, memperhatikan sebatang coklat di tengah jalan dari balik kaca, di waktu yang bersamaan. Dan untuk hal tersebut, ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali, tanpa mengalihkan pandangan, tangan kirinya memperbesar volume pemutar musik sembari mengira-ngira: apa ia harus melindas coklat tersebut atau tidak. (*)

Advertisements

Poldi

Kutemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi, seekor anak kucing yang datang padaku tak lama setelah kau memutuskan untuk pergi.

Rasanya seperti mimpi. Aku mengambang di udara seperti gelembung busa dan dengan jelas melihat diriku sendiri: tertelungkup mencium muntahan dan kotoran yang sudah mengering. Aku terlihat menyedihkan dan itu membuatku tak betah. Rasanya aku ingin lekas bangun, menyeduh kopi atau membaca buku atau apalah, kalau bisa melupakanmu. Namun alam bawah sadar terlalu kuat menahanku.

Lalu terdengar suara ketukan. Seseorang memanggil namaku dan kembali memanggil namaku. Suaranya yang serak bergantian dengan ketukan pada daun pintu. Aku—dalam keadaan yang masih mengambang—menjawab, namun anehnya, tak satu pun suara yang keluar dari mulutku. Apakah sekarang aku masih bermimpi? Selanjutnya ketukan itu berubah menjadi gedoran demi gedoran.

Tiba-tiba pintu rumah sudah didobrak. Tiga orang lelaki masuk sambil menutup mulut dengan telapak tangan dan menemukan tubuhku di ruang tengah. Wajah mereka seketika mengerinyit melihat tubuh pucat, terlalu pucat hingga kelihatan membiru, dan nyaris membusuk. Salah seorang dari mereka lantas membuka jendela dan yang lainnya hanya diam saling berpandangan sebelum akhirnya seseorang di antara mereka berkata, “beritahu orang-orang!” Continue reading

Waktu Makan Malam

Oleh: Russell Edson

Seorang pria tua sedang duduk di meja menunggui istrinya menghidangkan makan malam. Ia mendengar istrinya menggebuk panci yang menyebabkan tangannya terbakar. Dia membenci suara panci saat dipukuli, karena menyebabkan rasa sakit sedemikian rupa sehingga membuatnya ingin menimbulkan lebih banyak hal yang serupa. Dan ia pun mulai meninju wajahnya sendiri, dan buku-buku jarinya memerah. Betapa dia membenci buku-buku jari merah, warna yang menyala itu, lebih benci dari pada luka itu sendiri.

Ia mendengar istrinya menjatuhkan seluruh makanan di lantai dapur sambil mengumpat. Karena saat menentengnya benda itu membakar jempolnya. Ia mendengar garpu dan sendok, cangkir dan piring, semuanya menjerit sekaligus ketika mendarat di lantai dapur. Betapa dia membenci makan malam yang, setelah disiapkan, mulai membakar, dan seolah-olah itu tidak cukup, memekik dan bergemuruh saat mendarat di lantai, di tempat asalnya.

Ia meninju dirinya lagi dan jatuh ke lantai. Continue reading

Setelah Membaca “24 Jam Bersama Gaspar”

Di dalam sebuah kamar, di samping meja kayu kecil, di atas kasur lipat tipis dan berbau keringat, tokoh kita ini duduk terbengong-bengong ketika menyelesaikan novel 24 Jam Bersama Gaspar. Ia lantas menyalakan rokok dan mulai memikirkan kemungkinan, dari caranya menjepit rokok di antara kedua sudut bibir, dirinya hampir menyerupai Tuan Clint Eastwood dalam salah satu film western kesukaannya. Untuk sesaat ia merasa senang dengan penilaiannya sendiri dan mulai tersenyum, hampir mendekati sebuah seringai jahat. Sebentar kemudian ia kembali memegang buku yang baru selesai dibacanya. Ia harus membuat beberapa catatan tentang buku ini, pikirnya kemudian. Namun ia tak tahu harus memulai dari mana.

Maka dalam rentang waktu yang sama dari azan magrib hingga datang waktu isya, ia tidur-tiduran, mendiamkan pikirannya sembari mendengarkan album Rid of Me dari PJ Harvey yang diputar lewat ponsel. Untuk beberapa hal yang tak perlu dipusingkan, kita harus menerima alasan dari tokoh kita ini melakukan hal tersebut.

Tepat ketika lagu Ecstasy berakhir, tokoh kita ini meraih laptop di atas meja kecil dan membukanya, memencet tombol power, dan menunggu dengan jengah layar menampilkan aplikasi Smadav berlalu. Sungguh menyebalkan, pikirnya. Ia mengikuti dorongan halus untuk merokok lagi dan membiarkan layar menampilkan gambar pemandangan yang sering ia lihat di kalender untuk beberapa saat. Setelah tujuh atau delapan hisapan, tokoh kita ini mengunci pandangannya ke taskbar dan mengklik logo Microsoft Office Word.

Sebuah cerita detektif, eh? gumamnya. Continue reading

Film Trilogi Terbaik

Awalnya saya berencana untuk membuat daftar keinginan sebelum mati, misalnya: mati di usia muda setelah sebelumnya mengikuti tes CPNS, menjadi penyuluh pertanian, menerjemahkan novel berbahasa asing ke dalam bahasa Minang, dan seterusnya dan seterusnya. Alih-alih menjadi kenyataan, keinginan itu malah menguap pada suatu sore yang tak ingin saya ceritakan karena keterbatasan bahan dan kosakata. Maka jadilah ini: daftar film trilogi terbaik yang sudah saya tonton dan tentu saja saya sukai.

1. Trilogi Dollars A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), The Good, the Bad, and the Ugly (1966)

pagemmmmmbb

Director: Sergio Leone

Film western—sepatu boots yang pada bagian telapak dilengkapi dengan penggeret korek api, saloon, padang tandus, baku tembak, topi laken, semuanya ada di “Trilogi Dollars” garapan Sergio Leone, yang jelas sangat lihai menampilkan aksi-aksi koboi dengan dramatis.

Banyak yang menyatakan bahwa Leone melahirkan genre baru dalam perfilman: Spaghetti Western. Disebut demikian karena film yang mengambil seting old-west Amerika, namun gambarnya diambil di Italia. Pun sutradaranya adalah orang Italia. Karena itulah kata ‘Spaghetti’ ditambahkan di kata tersebut. Continue reading

Proses | Franz Kafka

Entah kenapa, saya sangat menyukai bagian ini—bagian percakapan Josef K dengan seorang pendeta di sebuah katedral—yang sengaja saya ketik ulang, yang saya juga tidak tahu alasan kenapa melakukannya.

the-trial-proses-franz-kafka

Halaman 234-236 buku The Trial-PROSES oleh Sigit Susanto, yang diterjemahkannya dari novel Der Prozess, Franz Kafka.

…..

“Di pengantar buku hukum, tipu daya dijelaskan seperti ini: Di depan hukum, berdirilah seorang penjaga pintu. Seorang laki-laki dari desa datang menemui penjaga pintu itu dan minta izin untuk masuk menghadap hukum. Tapi penjaga pintu itu mengatakan bahwa ia tidak bisa mengizinkannya masuk sekarang. Orang desa itu berpikir dan bertanya apakah dia akan diperbolehkan masuk nanti. ‘Mungkin saja,’ jawab penjaga pintu, ‘tapi bukan sekarang.’ Karena pintu masuk menuju hukum itu selalu terbuka, seperti biasanya, dan penjaga pintu itu sedikit melangkah ke samping, orang desa itu membungkuk untuk melihat ke dalam pintu itu. Ketika penjaga pintu itu menyadarinya, dia tertawa dan berkata, ‘Kalau kau berhasrat sekali, cobalah masuk meskipun aku melarangmu. Tapi ingat, aku berkuasa. Dan aku hanyalah penjaga pintu yang kekuasaannya paling rendah. Dari satu ruang ke ruang lain, berdiri penjaga pintu yang kekuasaannya lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Ketika berhadapan dengan penjaga pintu ketiga, menatap sekalipun aku tak berani.’ Kesulitan-kesulitan seperti itu tak pernah terbayangkan oleh lelaki desa itu; hukum seharusnya bisa didapat oleh setiap orang dan setiap saat, pikirnya, tapi selagi saat ini dia mengamati dengan lebih jeli penjaga pintu yang mengenakan mantel bulu itu, mengamati hidung besarnya yang mancung dan jenggot Tar-tar-nya yang panjang, hitam, dan tipis, laki-laki itu memutuskan lebih baik ia menunggu sampai diizinkan masuk. Continue reading

Sebuah Cerita Tanpa Pesan Moral dan Tak Patut Dipercaya

Begitulah percakapan siang itu berhenti: aku mengatakan semoga kami bertemu lagi dan Yon menguap alih-alih menjawabnya. Janis Joplin sedang bernyanyi, diputar lewat ponsel. Dari liriknya, perempuan itu tanpa malu meminta pada Tuhan untuk membelikan sebuah Mercedes Benz dan sebuah televisi berwarna. Saat itu Yon sedang duduk di kursi plastik merah pudar tanpa menoleh kepadaku. Ia kemudian menekuri tangan kanannya yang dijatuhkan di atas lutut sambil menatap asap yang mengepul dari rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya seolah bisa menemukan sesuatu di sana. Badannya menghadap ke jendela. Di luar gerumbul rumput liar sedang berbunga. Bunganya seperti kapas dan rontok begitu dihembus angin. Aku akhirnya bangkit dan beranjak menuju pintu.

Untuk membuat cerita lebih menarik, esoknya Yon mengirimkan sebuah bungkusan serupa paket pengiriman barang kepadaku yang ia titipkan lewat seorang bocah laki-laki yang setiap sore rutin menangkap capung dengan getah nangka di belakang rumah. Aku membuka bungkusan itu dan menemukan barang-barang aneh di dalamnya: dua bongkah batu sebesar kelereng, papan nama—sepertinya nama seorang petugas beacukai atau kenalannya, busa pencuci piring yang berbentuk kue lapis dengan warna hijau dan kuning, sebuah botol minuman bersoda, tiga buah penjepit jemuran, dan album Coney Island Baby dari Lou Reed yang telah dipindahkan ke dalam sebuah CD, kemudian secarik kertas putih yang bertuliskan: AKU AKAN MENGAMBILNYA SEGERA SETELAH AKU KEMBALI. Aku mengumpat dalam hati, kenapa ia tak sekalian mengirimkan bokong pengendara ojek online, setumpuk koran harian yang menunggu diloakkan, sisa permen karet di bawah meja, atau apa pun yang akan membuatmu kesal. Kupikir itu adalah sebuah lelucon jelek. Tapi mengingat Yon memang agak aneh, kusimpan semua titipannya di bawah kolong lemari. Continue reading