Pertama Kali Mengenal John Lennon

Siang tadi, sesampainya di rumah, saya sengaja memutar lagu-lagu John Lennon/ Plastic Ono Band untuk mengenang John Lennon setelah paginya membaca artikel tentang kematiannya: Hari ini, tepat 37 tahun yang lalu, Lennon meninggal setelah diserobot peluru yang dilepaskan Mark David Chapman. Saya malah ketiduran dan hampir melewatkan salat Jumat andai adik tidak membangunkan saya. Saya sebenarnya susah dibangunkan, namun juga mempunyai ketakutan kalau adik saya itu bakal menyulut alis saya dengan puntung rokok jika tak segera bangkit.

Saya kembali mengingat-ingat kapan kali pertama saya mengenal John Lennon: kelas dua Aliyah, kalau tidak salah, dan tentu saja lewat The Beatles. Terlambat memang, sebab setahu saya, banyak hal menjadi tidak menarik setelah kelas dua Aliyah; Guru PPKn, misalnya, atau pelajaran yang mengandung pesan moral yang terlalu dibuat-buat, atau cara kerja mesin fotokopi. Continue reading

Advertisements

Kematian Pajatu dan X dan Y dan Z

Pajatu bersandar di tembok yang sebagian besar kini telah hancur. Tembok itu dulunya adalah dinding tebal sepanjang limapuluh meter yang membatasi sebuah Sekolah Dasar dengan jalan raya. Kedua tangannya menggenggam erat lengan AK-47 walau ia tahu selongsongnya kini telah kosong. Ia berpikir, mereka akan menemukannya kurang dari lima menit.

Pajatu baru saja kehilangan tiga orang temannya: X dan Y dan Z. Dua di antara mereka, X dan Y, tewas lantaran dinding tembok tempat mereka berlindung dihantam meriam sebuah kendaraan lapis baja. Pajatu dan Z beruntung karena berjarak beberapa meter dari mereka. Ia melihat mereka tergeletak dan mengerang. Dengan napas putus-putus, X mengatakan kalau ia haus sekali sedangkan Y tertawa terbahak-bahak. “Cuma segitu kemampuan kalian, ha, pantek?! Nenekku bahkan mampu menghajarku lebih dari ini!” Y terus mengulanginya sampai akhirnya tubuhnya tak bergerak sementara X terus saja meminta air minum. Z kemudian bangkit, mencoba untuk memberi botol air minum pada X. Ketika itulah sebutir peluru menembus tepat di mata kiri Z dan ia menjatuhkan botol air minum begitu saja. Continue reading

Melihat-lihat Apartemen

Oleh: Montasser Al-Qaffash

Cerita dimulai dengan sebuah panggilan telepon dari Muhsin. Ia menemukan sebuah apartemen di sekitaran Nil. Harganya termasuk dalam biaya yang kuanggarkan. Aku langsung menolak saat mengetahui apartemen tersebut dekat dengan penjara Tora. Aku juga menaruh curiga karena harganya sangat murah. “Kau tidak akan kehilangan apa pun jika datang melihatnya.” Aku telah mendengar pernyataan ini sedemikian rupa sehingga  kupikir aku tidak akan memperoleh apa-apa selain melihat apartemen dan membayangkan diriku tinggal di sana. Kuputuskan untuk pergi lantaran ini adalah apartemen pertama yang ditawarkan Muhsin untuk ditunjukkan kepadaku—dia telah mendengar sebagian besar cerita tentang apartemenku.

Aku tiba tepat waktu. Bukannya aku terbiasa tepat waktu, tapi lalu lintas di sepanjang kornis* secara tak terduga, mengalir dengan sangat lancar sehingga seorang penumpang di angkot terus berkata, “Ada apa?”—tak yakin dengan jawaban penumpang lain, mengomentari mereka: “Yang pasti, ada sesuatu yang lain,” tanpa menambahkan jawaban yang berbeda.

Aku turun dari angkot. “Bangunan ketiga setelah penjara, lalu lurus ke depan,” seperti yang dijelaskan Muhsin dengan cara seolah alamat itu adalah sepotong kue. Namun aku merasa tak enak saat membayangkan harus mengulangi penjelasan semacam ini kepada tamu, merasa berkewajiban untuk berbagi tawa setiap kali dia berlagak takut dengan penjara. Aku berdiri di depan pintu gedung. Aku bertemu seorang pria mengenakan jelaba** putih, gaun longgar tradisional, keluar dengan dua kursi plastik di tangan. “Saya Ismail. Mari, kita duduk di kornis.” Dia berkata dengan penuh semangat dan begitu Continue reading

Selepas Menonton Film Asghar Farhadi

Kau menarik napas panjang usai menonton film Asghar Farhadi yang bercerita tentang polemik dalam rumah tangga sepasang suami istri. Alih-alih merasa lega, perasaanmu sedikit tertekan mendapati akhir film tersebut tak sesuai harapanmu: menurutmu, akhir ceritanya tak benar-benar ada penyelesaian. Kau berharap setidaknya film itu berakhir bahagia atau penuh dengan adegan baku hantam atau sama sekali berakhir buruk–tak masalah bagimu.

Ketika kredit film di layar masih berjalan, kau bangkit dari sofa, melangkah menuju mesin pendingin, mengeluarkan sebotol minuman bersoda, dan sedikit terhibur mendengar bunyi desisan saat membuka penutup botol dengan bantuan tepian meja dan sedikit hantaman menggunakan telapak tangan. Sembari melangkah balik ke sofa, kau menyesap minuman itu langsung dari mulut botol, duduk, kemudian menyalakan rokok .

Isapan kedua rokok yang kaunyalakan mengingatkanmu pada istrimu. Ia belum pulang semenjak sore tadi. Jam dinding yang terpasang tepat di atas televisi sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lewat lima menit. Istrimu tak menjelaskan akan pergi ke mana dan kau terlalu cemas; menanyakan hal itu akan melukai perasaannya. Sebenarnya kau sudah tahu tanpa istrimu perlu menjelaskan. Ia sekarang pasti sedang bersama Palindih, pikirmu. Palindih adalah kolegamu di kantor, seorang lelaki tampan dengan model potongan rambut George Clooney, tak pernah berubah semenjak kau mengenalnya. Lingkar perutnya masih tampak wajar jika dibandingkan denganmu dan orang-orang seusia kalian. Banyak kelebihan Palindih yang masih bisa kaupikirkan namun kau memilih untuk mengabaikannya.

Kredit film masih berjalan di layar. Kau kembali mengisap rokok. Bayangan sebatang pipa saluran air dan sebuah lubang kakus melintas di kepalamu. (*)

Tentang Film A Ghost Story (2017)

MV5BMzcyNTc1ODQzMF5BMl5BanBnXkFtZTgwNTgzMzY4MTI@._V1_SY1000_CR0,0,674,1000_AL_

Adegan dimulai dengan gelak tawa Rooney Mara dan Casey Affleck di sofa lalu disambung dengan kutipan dari Virginia Woolf: “Whatever hour you woke there was a door shutting.”

A Ghost Story bercerita tentang kehidupan sepasang suami istri, lalu—karena ini film tentang hantu, maka harus ada seseorang yang meninggal—pada suatu pagi si suami ditemukan meninggal di balik kemudi karena kecelakaan. Si suami lalu menjadi hantu dengan tampilan yang agak absurd: mengenakan kostum dari seprei putih yang pada bagian mata dilubangi—sepertinya terinspirasi dari film Spirited Away-nya Hayao Miyazaki. Ia kemudian menghantui, atau lebih tepatnya, mendiami rumah tempat ia dan istrinya tinggal semasa ia hidup.

Menonton film ini, alih-alih merasa ngeri—jika dikaitkan dengan judulnya, saya malah berpikir kalau A Ghost Story bisa dimasukkan ke dalam daftar film tersedih tahun ini. David Lowery, si sutradara, menggunakan perspektif dari si hantu: Bagaimana rasanya menjadi hantu, kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai, dan hanya bisa mengamati tanpa dapat melakukan apa pun, walau sesekali menggangu dengan membuat lampu berkedip. Ia hanya tokoh pasif (bahkan si hantu, dalam salah satu adegan, hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan istrinya menahan tangis sambil mencoba menelan pie coklat selama lima menit). Si hantu menjalani waktu yang terus berjalan tanpa menemukan sesuatu, katakanlah sebuah alasan, kenapa ia masih harus berada di dunia manusia.

O, ternyata, entah itu manusia atau hantu sekali pun, tiada artinya jika berhadapan dengan waktu.

 

Jalan Raya

Sebatang coklat yang terselip di saku samping ransel seorang bocah perempuan terjatuh ketika ia menyeberang jalan. Bocah perempuan itu melangkah tersuruk-suruk di belakang, berusaha menyamai langkah sembari mencoba meraih ujung baju ibunya yang ingin cepat sampai di pelataran parkir, di lantai bawah gedung tiga tingkat yang berada di sisi kanan jalan. Saat itu pukul sebelas lewat duapuluh menit. Udara panas dan berdebu dan kering.

Sepersekian detik setelah coklat itu jatuh, seorang sopir yang tengah mengemudikan angkot dengan kecepatan sedang, menginjak rem perlahan lalu membunyikan klakson lalu mengoper persneling. Matanya terbiasa melihat sesuatu dari jauh. Ia bisa langsung mengetahui benda itu adalah sebatang coklat yang baru saja jatuh dari ransel seorang bocah perempuan. Gema bunyi klaskson masih berngiang di telinganya. Sebatang coklat di badan jalan, pikirnya, terdengar seperti judul sesuatu.

Saat itu pukul sebelas lewat duapuluh satu menit. Udara panas dan berdebu dan kering. Jarak antara angkot dan coklat itu semakin ringkas. Sisa waktu yang dibutuhkan angkot untuk sampai ke coklat adalah waktu yang menentukan bagi sang sopir; apakah ia memutuskan untuk melindas coklat tersebut atau tidak. (*)

Poldi

Kutemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi, seekor anak kucing yang datang padaku tak lama setelah kau memutuskan untuk pergi.

Rasanya seperti mimpi. Aku mengambang di udara seperti gelembung busa dan dengan jelas melihat diriku sendiri: tertelungkup mencium muntahan dan kotoran yang sudah mengering. Aku terlihat menyedihkan dan itu membuatku tak betah. Rasanya aku ingin lekas bangun, menyeduh kopi atau membaca buku atau apalah, kalau bisa melupakanmu. Namun alam bawah sadar terlalu kuat menahanku.

Lalu terdengar suara ketukan. Seseorang memanggil namaku dan kembali memanggil namaku. Suaranya yang serak bergantian dengan ketukan pada daun pintu. Aku—dalam keadaan yang masih mengambang—menjawab, namun anehnya, tak satu pun suara yang keluar dari mulutku. Apakah sekarang aku masih bermimpi? Selanjutnya ketukan itu berubah menjadi gedoran demi gedoran.

Tiba-tiba pintu rumah sudah didobrak. Tiga orang lelaki masuk sambil menutup mulut dengan telapak tangan dan menemukan tubuhku di ruang tengah. Wajah mereka seketika mengerinyit melihat tubuh pucat, terlalu pucat hingga kelihatan membiru, dan nyaris membusuk. Salah seorang dari mereka lantas membuka jendela dan yang lainnya hanya diam saling berpandangan sebelum akhirnya seseorang di antara mereka berkata, “beritahu orang-orang!” Continue reading