Cerita Pendek, Terjemahan

Seperti Kelelawar

Oleh Etgar Keret

Terkadang aku memikirkan dia, dan kemudian aku sangat merindukannya. Terutama pada malam hari. Aku tak bisa tidur. Terlalu panas di musim panas dan kelewat dingin di musim dingin. Rasanya tak pernah benar. Beberapa hewan juga tidak tidur. Mereka berburu di malam hari, tapi pada malam hari aku bahkan tidak bangkit dari tempat tidur buat buang air kecil. Di malam hari, aku bahkan tidak beranjak menuju kulkas. Aku pernah bilang padanya kalau aku takut kecoak. Setelah itu, sepanjang musim panas, setiap kali habis berhubungan seks, dia akan menggendongku ke shower atau kamar mandi seperti taksi. Aku akan memeluk punggungnya dan pergi ke mana pun aku mau. Ibu bilang karena itulah dia meninggalkanku. Sebab aku terlalu masa bodoh dan menjalani hidupku seolah-olah aku tidak peduli pada apa pun, setelah semua senyum yang dia berikan, segala hal yang dia lakukan untukku, aku tidak pernah bilang kalau aku mencintainya dan ini adalah hukuman buatku karena tak bisa bersikap seperti seorang mensch*. Continue reading “Seperti Kelelawar”

Advertisements
Books, Uncategorized

PERIHAL “OMONG KOSONG” ROBBY JULIANDA

*Disiarkan di Halaman Cagak, Padang Ekspres (17/2/2019)

Oleh: Esha Tegar Putra, Penyair dan Peneliti bergiat di Ruang Kerja Budaya

Pada akhir bulan Desember 2018 editor Penerbit Mojok meminta saya membaca dan memberikan pandangan singkat mengenai draft novela Robby Julianda, dengan segera saya meng-iya-kan. Sebelum membaca draft novela tersebut, saya memang tertarik dengan beberapa cerita pendek karangan penulis dari Nagari Sungai Landia, Kabupaten Agam, yang lahir pada tahun 1991 itu.

Tak banyak memang Robby menyiarkan cerpen-cerpennya di media massa, tapi satu cerpen bertajuk “Pilihan Ganda dari Tuhan” diterbitkan Koran Tempo, 22 Desember 2017. Di cerpen tersebut, saya membaca pembukaan cerpennya dengan deskripsi lanskap cukup ketat. Juga mengenai suasana, bagaimana secara biologis tubuh manusia merespon suhu cuaca di sekitarnya dideskripsikan dengan baik. Narator dalam cerpennya terus mengajak pembaca, dengan sebutan “Anda”, untuk terus ikut sesak dalam keketatan deskripsi cerita.

Satu cerpen itu kemudian membuat saya mencari lebih lanjut tulisan-tulisannya dan bertemu dengan blog tempat ia menampilkan beberapa karyanya: cerpen, karya terjemahan, ulasan film, ulasan buku. Hampir semuanya ditulis dengan sangat pendek dan mengasyikkan. Dari cerpen “Pilihan Ganda dari Tuhan” dan beberapa tampilan karya tersebut saya menyadari bahwa Robby agaknya gemar mengintertekstualisasi bacaan, film-film yang ditontonnya, juga masik-musik didengarkan ke dalam tulisannya. Sebagaimana juga cerpen “Pilihan Ganda dari Tuhan” disebutkan pada bagian akhir bahwa cerpen tersebut merupakan pengembangan dari tulisan Eko Triono berjudul Cerita dalam Ulangan Harian Kita.

Kecendrungan Robby menggunakan model atau piranti intertekstual tersebut memang kerap hadir dalam karya sastra modern dengan asumsi bahwa satu karya dapat mengantarkan pembaca pada suasana atau peristiwa dalam karya lain. Interterteks dapat dikatakan jejaring antara satu karya (teks) dengan karya lain dan jejaring tersebut tidak harus antara satu karya dengan genre sama. Pola itu kerap hadir dalam karya-karya Robby, ia menggunakan hipogram atau dapat dimaknai dengan struktur prateks dan generator puitika berupa struktur film, musik, atau tokoh. Continue reading “PERIHAL “OMONG KOSONG” ROBBY JULIANDA”

Ilustrasi: Yuyun Nurrachman/ Koran Tempo
Cerita Pendek

Pilihan Ganda dari Tuhan

(Dimuat di Koran Tempo, 23 Desember 2017)

Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu huruf a, b, c, atau d, sesuai dengan jawaban yang Anda anggap paling benar!

Anda sedang berada di atap sebuah gedung 37 lantai, berdiri di salah satu titik yang mempertemukan sisi gedung agar mata Anda leluasa memandang kota di bawahnya, seolah Anda sedang memandangi miniatur kota rancangan seorang arsitek agung: petak-petak rumah dan gedung-gedung yang menjulang; barisan pepohonan; ratusan kendaran yang bergerak lambat menyusuri jalan raya bercabang yang membagi pemukiman menjadi bagian-bagian kecil; lapangan; juntaian kabel yang menghubungkan tiang-tiang; sebuah sungai lebar yang mengalir tenang menuju laut yang begitu jauh dari pandangan Anda, membelah kota menjadi dua bagian, serta sebuah jembatan kukuh yang kembali menghubungkan dua bagian tersebut. Anda memperhatikan semua itu dengan saksama hingga menimbulkan perasaan takjub. Segalanya tampak simetris dan tertata. Lebih-lebih usai menatap kerlip sinar matahari yang dipantulkan air sungai dan seluruh kota membuat perasaan tenang menghinggapi Anda untuk sejenak.

Anda kemudian merasakan keringat mengalir di dahi Anda dan tengkuk Anda terasa panas. Anda mendongak. Matahari yang sejajar dengan kepala membuat Anda harus mengerinyitkan mata karena silau. Tak ada awan. Hanya hamparan langit biru yang memayungi Anda.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Gelombang rasa takjub dan tenang yang menjalari Anda sebelumnya lenyap, berganti dengan rasa khawatir kalau-kalau angin membuat Anda limbung. Andai jatuh, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke bawah? Anda bergidik memikirkannya kemudian mundur beberapa langkah sembari melihat jam tangan. Pukul 12 tepat. Empat puluh lima menit yang lalu Anda baru saja dipecat dari pekerjaan.

Setelah pemecatan tersebut, hal apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?

a. Mengambil ancang-ancang lalu terjun bebas dari gedung.
b. Turun lewat tangga darurat dan kembali menemui atasan Anda di salah satu ruangan lantai 29.
c. Pulang ke rumah dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.
d. Menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Continue reading “Pilihan Ganda dari Tuhan”

Journal

Pertama Kali Mengenal John Lennon

Siang tadi, sesampainya di rumah, saya sengaja memutar lagu-lagu John Lennon/ Plastic Ono Band untuk mengenang John Lennon setelah paginya membaca artikel tentang kematiannya: Hari ini, tepat 37 tahun yang lalu, Lennon meninggal setelah diserobot peluru yang dilepaskan Mark David Chapman. Saya malah ketiduran dan hampir melewatkan salat Jumat andai adik tidak membangunkan saya. Saya sebenarnya susah dibangunkan, namun juga mempunyai ketakutan kalau adik saya itu bakal menyulut alis saya dengan puntung rokok jika tak segera bangkit.

Saya kembali mengingat-ingat kapan kali pertama saya mengenal John Lennon: kelas dua Aliyah, kalau tidak salah, dan tentu saja lewat The Beatles. Terlambat memang, sebab setahu saya, banyak hal menjadi tidak menarik setelah kelas dua Aliyah; Guru PPKn, misalnya, atau pelajaran yang mengandung pesan moral yang terlalu dibuat-buat, atau cara kerja mesin fotokopi. Continue reading “Pertama Kali Mengenal John Lennon”

Cerita Pendek, Terjemahan

Melihat-lihat Apartemen

Oleh: Montasser Al-Qaffash

Cerita dimulai dengan sebuah panggilan telepon dari Muhsin. Ia menemukan sebuah apartemen di sekitaran Nil. Harganya termasuk dalam biaya yang kuanggarkan. Aku langsung menolak saat mengetahui apartemen tersebut dekat dengan penjara Tora. Aku juga menaruh curiga karena harganya sangat murah. “Kau tidak akan kehilangan apa pun jika datang melihatnya.” Aku telah mendengar pernyataan ini sedemikian rupa sehingga  kupikir aku tidak akan memperoleh apa-apa selain melihat apartemen dan membayangkan diriku tinggal di sana. Kuputuskan untuk pergi lantaran ini adalah apartemen pertama yang ditawarkan Muhsin untuk ditunjukkan kepadaku—dia telah mendengar sebagian besar cerita tentang apartemenku.

Aku tiba tepat waktu. Bukannya aku terbiasa tepat waktu, tapi lalu lintas di sepanjang kornis* secara tak terduga, mengalir dengan sangat lancar sehingga seorang penumpang di angkot terus berkata, “Ada apa?”—tak yakin dengan jawaban penumpang lain, mengomentari mereka: “Yang pasti, ada sesuatu yang lain,” tanpa menambahkan jawaban yang berbeda.

Aku turun dari angkot. “Bangunan ketiga setelah penjara, lalu lurus ke depan,” seperti yang dijelaskan Muhsin dengan cara seolah alamat itu adalah sepotong kue. Namun aku merasa tak enak saat membayangkan harus mengulangi penjelasan semacam ini kepada tamu, merasa berkewajiban untuk berbagi tawa setiap kali dia berlagak takut dengan penjara. Aku berdiri di depan pintu gedung. Aku bertemu seorang pria mengenakan jelaba** putih, gaun longgar tradisional, keluar dengan dua kursi plastik di tangan. “Saya Ismail. Mari, kita duduk di kornis.” Dia berkata dengan penuh semangat dan begitu Continue reading “Melihat-lihat Apartemen”

Movie

Tentang Film A Ghost Story (2017)

 

Adegan dimulai dengan gelak tawa Rooney Mara dan Casey Affleck di sofa lalu disambung dengan kutipan dari Virginia Woolf: “Whatever hour you woke there was a door shutting.”

A Ghost Story bercerita tentang kehidupan sepasang suami istri, lalu—karena ini film tentang hantu, maka harus ada seseorang yang meninggal—pada suatu pagi si suami ditemukan meninggal di balik kemudi karena kecelakaan. Si suami lalu menjadi hantu dengan tampilan yang agak absurd: mengenakan kostum dari seprei putih yang pada bagian mata dilubangi—sepertinya terinspirasi dari film Spirited Away-nya Hayao Miyazaki. Ia kemudian menghantui, atau lebih tepatnya, mendiami rumah tempat ia dan istrinya tinggal semasa ia hidup.

Menonton film ini, alih-alih merasa ngeri—jika dikaitkan dengan judulnya, saya malah berpikir kalau A Ghost Story bisa dimasukkan ke dalam daftar film tersedih tahun ini. David Lowery, si sutradara, menggunakan perspektif dari si hantu: Bagaimana rasanya menjadi hantu, kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai, dan hanya bisa mengamati tanpa dapat melakukan apa pun, walau sesekali menggangu dengan membuat lampu berkedip. Ia hanya tokoh pasif (bahkan si hantu, dalam salah satu adegan, hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan istrinya menahan tangis sambil mencoba menelan pie coklat selama lima menit). Si hantu menjalani waktu yang terus berjalan tanpa menemukan sesuatu, katakanlah sebuah alasan, kenapa ia masih harus berada di dunia manusia.

O, ternyata, entah itu manusia atau hantu sekali pun, tiada artinya jika berhadapan dengan waktu.

 

Cerita Pendek

Poldi

Kutemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi, seekor anak kucing yang datang padaku tak lama setelah kau memutuskan untuk pergi.

Rasanya seperti mimpi. Aku mengambang di udara seperti gelembung busa dan dengan jelas melihat diriku sendiri: tertelungkup mencium muntahan dan kotoran yang sudah mengering. Aku terlihat menyedihkan dan itu membuatku tak betah. Rasanya aku ingin lekas bangun, menyeduh kopi atau membaca buku atau apalah, kalau bisa melupakanmu. Namun alam bawah sadar terlalu kuat menahanku.

Lalu terdengar suara ketukan. Seseorang memanggil namaku dan kembali memanggil namaku. Suaranya yang serak bergantian dengan ketukan pada daun pintu. Aku—dalam keadaan yang masih mengambang—menjawab, namun anehnya, tak satu pun suara yang keluar dari mulutku. Apakah sekarang aku masih bermimpi? Selanjutnya ketukan itu berubah menjadi gedoran demi gedoran.

Tiba-tiba pintu rumah sudah didobrak. Tiga orang lelaki masuk sambil menutup mulut dengan telapak tangan dan menemukan tubuhku di ruang tengah. Wajah mereka seketika mengerinyit melihat tubuh pucat, terlalu pucat hingga kelihatan membiru, dan nyaris membusuk. Salah seorang dari mereka lantas membuka jendela dan yang lainnya hanya diam saling berpandangan sebelum akhirnya seseorang di antara mereka berkata, “beritahu orang-orang!” Continue reading “Poldi”