Eternal Sunshine of The Spotless Mind

Ternyata menyenangkan bisa merenungkan sesuatu saat waktu terasa berhenti dan tak pergi ke mana-mana. Misalnya saat sedang hujan: tak tahu harus pergi ke mana atau melakukan apa selain berada di rumah sambil menyaksikan rintik hujan dan selapis kabut tipis dari balik jendela. Kemudian semua kenangan-kenangan yang sudah mengendap bertahun-tahun atau beberapa bulan belakangan muncul ke permukaan serupa kayu yang dilemparkan ke sebuah telaga. Tenggelam sebentar, sesaat kemudian mengambang di permukaan pikiran dan mau tak mau kau harus memikirkannya karena dia memang berada di sana.

Beberapa bulan ini sebenarnya tak ada—atau lebih tepatnya hampir tak ada samasekali yang menarik—yang terjadi selain bisa berada di rumah, dan saya merasa bersyukur untuk itu. Seperti semua orang pada umumnya, saya sedang menjalani kehidupan. Dalam rentang ‘menjalani kehidupan’ itu, saya tak tahu apakah saya sudah menikmatinya atau saya harus mengumpat, dan sayangnya saya tak tahu harus mempersalahkan siapa untuk hal ini.

Novelis Milan Kundera mengatakan: “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Saya hanya membanding-bandingkan hal itu dengan diri saya sekarang. Kekuasaan dan perjuangan saya melawannya. Maka sesungguhnya kekusaan bagi saya adalah kehidupan yang datar yang saya berusaha kuat untuk berusaha melawannya atau berusaha untuk membuatnya terlihat bermakna. Ini terdengar menyedihkan? Tentu saja tidak, karena saat itulah saya mulai menyadari bahwa inilah hal yang menyenangkan, bahwa kehidupan yang datar bisa jadi lebih bermakana dari pada kehidupan yang menarik namun tidak ada usaha untuk menikmatinya. Menyenangkan? Menarik? Mari kita lupakan karena itu hanyalah sebuah konsep, hanya label, dan saya samasekali tidak tahu bagaimana sebenarnya menggambarkan sesuatu hal yang menyenangkan atau menarik itu. Terlalu muluk jika saya memikirkan hal yang mengawang seperti menemukan penisilin atau menanam kentang di planet Mars seperti di film The Martian. Saya hanya ingin kejutan persis seperti sekarang ini, kejutan yang tak radikal namun terasa—bagaimana saya mengatakannya—dalam. Biasanya kejutan seperti ini mampu membuat saya pecah menjadi molekul-molekul.

Maka saat seperti inilah: ketika hujan, beberapa orang akan memilih berada di balik selimut, menyeduh kopi, mendengarkan musik, membaca novel Salman Rushdie atau Dostoyesvsky, atau memikirkan apa yang salah—yang sebenarnya semuanya baik-baik saja. Seumpama dewan juri yang meminta waktu untuk membuat sebuah keputusan; jadi intinya apa? Saya tak tau pasti. Namun ketika merasakan bahwa ada yang salah, bisa jadi setitik debu di cermin yang tak akan mempengaruhi bentuk wajah, tapi tetap saja kamu ingin mengenyahkannya dari sana, maka itulah hal yang membuat sesutu jadi bermakna atau tidak.

17:26-08/02/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s