Movie: Deux Jours, Une Nuit (2014)

Two Days One Night Poster

Banyaknya film Amerika atau film Hollywood yang beredar di Indonesia baik di bioskop maupun di website yang begitu mudah untuk didownload membuat selama ini saya terfokus pada film-film dengan efek canggih dan aksi yang dahsyat itu. Sehingga saya tidak tahu kalau begitu banyak film-film bagus dengan biaya produksi yang rendah yang tidak kalah bagus dalam sisi cerita. Misalnya film-film Eropa. Jujur saya pertama kali mengenal film Eropa ketika mengetahui The Artist sukses menjadi film terbaik di Academy Awards tahun 2011. Dan sensasinya memang jelas terasa berbeda dengan film Hollywood. Jika film Hollywood adalah film entertaiment, maka film Eropa menurut saya adalah film seni. Semenjak itu saya mulai menonton film-film Eropa. Dan semalam saya baru saja selesai menonton film Prancis, Deux Jours, Une Nuit atau Two Days One Night dalam bahasa Inggris.

Two Days One Night adalah sebuah film garapan Dardenne brothers (Luc Dardenne dan Jean-Pierre Dardenne) yang bercerita tentang Sandra (Marion Cotillard), seorang wanita muda dan ibu rumah tangga yang memperoleh kabar dari sahabat yang juga rekan kerjanya, Juliette (Catherine Salee), bahwa ia dipecat oleh perusahaan tempat ia bekerja karena dianggap tak bisa lagi bekerja dikarenakan stress dan depresi. Keputusan itu merupakan hasil dari pemungutan suara yang melibatkan enam belas pekerja lain yang mendapatkan jam kerja tambahan untuk menutupi posisi yang ditinggalkan Sandra. Tentu saja jam kerja tambahan artinya mendapatkan bonus tambahan.

Namun voting tersebut berlangsung di bawah tekanan seseorang yang tidak menyukai Sandra, maka pemimpin perusahaan memberikan kesempatan untuk melakukan voting ulang. Dibantu suaminya, Manu (Fabrizio Rongione), Sandra mendatangi satu persatu rekan kerjanya, berharap simpati mereka untuk memilihnya. Masalahnya: jika mereka memilih Sandra, mereka harus merelakan bonus tambahan.

Two Days One Night

Jika baru menonton beberapa menit, film Two Days, One Night yang masuk nominasi Best Film Not in the English Language di BAFTA Awards 2015 ini, terasa datar dan terkesan membosankan karena pengulangan secara terus menerus yaitu ketika Sandra bertemu dengan rekan kerjanya, memulai percakapan dengan mengucapkan baris dialog yang secara garis besar selalu sama. Namun hal yang menjadi menarik dalam film ini adalah ketika Sandra harus bertemu dengan tipe-tipe orang yang berbeda dengan masalah masing-masing yang berkaitan dengan bonus tambahan tersebut. Mereka dihadapakan pada dilema, pergolakan perasaan, rasa simpati, logika, bahkan ketidakpedulian.

Film ini minim kejutan bersama cerita yang sangat sederhana yang mencoba memutar masalah kecil untuk menggambarkan isu kemanusiaan. Namun walaupun begitu, proses atau perkembangan karakter dalam film ini menjadi daya tarik paling besar, pesan dalam film ini begitu kuat dan mendalam. Bisa dikatakan tiap adegannya terasa intim dan intens.

Two Days One Night Postr

Dan saya harus mengakui penampilan Marion Cotillard. Meskipun karakter Sandra hanyalah karakter biasa seperti kebanyakan orang, bukan seseorang yang spesial, tapi apa yang Marion Cotillard sungguh mempesona. Lewat karakter Sandra, ia berhasil menarik saya untuk merasa simpati pada masalah yang ia hadapi, kemudian mulai menyaksikan gejolak emosi yang dialaminya. Ia berhasil menjadi wanita yang gigih sekaligus rapuh secara bersamaan dengan masalah dan tekanan dan depresi yang ia alami. Tak heran kalau ia masuk dalam nominasi Oscars 2015 kategori Best Performance by an Actress in a Leading Role.

Two Days, One Night adalah film yang memikat yang membuat saya merasa tertampar ketika selesai menontonnya. Di balik kesederhanaan yang ditampilkan, film ini berhasil menyampaikan sisi humanisme. Tentu saja film yang bagus—menurut saya pribadi—adalah film yang meninggalkan pertanyaan dan pelajaran untuk saya sendiri: Bahwa hal yang kejam dapat kita temukan dengan sangat mudah di kehidupan yang sederhana. Bisa saja kita memiliki puluhan teman untuk berbagi kebahagiaan, namun ketika berada dalam situasi yang sebaliknya, apakah masih ada kata ‘teman’ dalam hubungan itu? Apalagi jika harus berurusan dengan materi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s