Di Balik Film ‘Cobain: Montage of Heck’ (2015)

kurt-cobain-montage-of-heck

Baru saja selesai menonton film dokumenter tentang vokalis favorit saya. Kurt Cobain. Cobain: Montage of Heck, sebuah film dokumenter karya Brett Morgen, dengan produser eksekutifnya Frances Bean Cobain, putri Kurt Cobain sendiri. Majalah Rolling Stone mengomentari film ini: You’re left completely emotionally spent.

Sedikit bercerita, saya mulai mengenal Nirvana ketika kelas satu SMA. Setiap pulang sekolah saya main ke rumah seorang teman—lebih tepatnya Abang karena usia kami terpaut cukup jauh. Hal yang menarik dari teman saya itu adalah hobinya: menulis. Menulis dalam arti secara harfiah. Ia bukan penulis novel atau seorang penyair, ia hanya gemar menulis. Maka entah untuk alasan apa, ia menulis lirik-lirik lagu, atau mencatat ulang sebuah artikel dalam majalah. Tak heran kalau kamarnya penuh dengan buku tulis. Kemudian hal kedua yang menarik adalah koleksi kasetnya. Waktu itu musik dalam format mp3 masih belum terlalu dikenal di kampung, dan memiliki koleksi kaset yang banyak sungguh terlihat sangat keren. Maka dari sanalah saya mengenal Nirvana, Pearl Jam, Red Hot Chili Peppers, Megadeth, dan band-band rock lain. Saya langsung menyukai Nirvana ketika mendengar lagu Heart Shaped Box.

Kurt Cobain. Anggota Club 27, ketergantungan obat, kemeja flanel, jins belel, antikemapanan, yang tak suka dipuji apalagi diwawancara, membenci popularitas. Semua stigma itu seperti sudah melekat pada dirinya. Kurt dengan segala cerita dan sisi gelap dari kehidupan rock n roll. Dan Montage of Heck memberikan sisi lain dari semua cerita itu.

Dengan, 4.000 lembar diary, 200 jam rekaman audio dan video rekaman pribadi Kurt dan keluarga. Montage of Heck dibuat dengan apik oleh Brett Morgen. Film ini mengungkap Kurt apa adanya. Berisi beberapa wawancara dengan orang terdekat Kurt. Mulai dari ibu kandung, ibu tiri, ayah kandung, istri, mantan pacar, hingga partnernya di Nirvana, Krist Novoselic. Montage of Heck menceritakan kehidupan Kurt ketika masih kecil hingga ia bertemu istrinya, Courtney Love. Masa kecil Kurt sebenarnya bahagia, ia anak yang aktif dan selalu sibuk dengan apa yang ada di sekitarnya. Bakat seninya sudah terlihat dari kecil. Ia suka bermain gitar dan menggambar. Ketika orangtuanya bercerai, Kurt merasa terpukul dan mulai berubah menjadi pribadi yang susah diatur sehingga ia harus hidup berpindah-pindah, mulai dengan ibunya, ayahnya, serta kakek neneknya. Ia belum bisa menerima bahwa ia tak bisa mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Kemudian Kurt akan mulai melampiaskan dengan kemarahan. Hingga ia berkenalan dengan mariyuana.

Beberapa rekaman audio juga berisi suara Kurt menceritakan masa sulitnya dipermalukan di sekolah. Ia sudah bosan dengan sekolah karena teman-temannya sering mengejekknya. Tentang bagaimana dia mendapat julukan ‘The Retard F*cker’. Ia merasa dipermalukan. Dalam film ini Krist Novoselic mengatakan bahwa Kurt tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Ia—Krist—bisa saja dipermalukan tapi tidak dengan Kurt.

Bersama Krist Novoselic, Kurt membentuk band. Mereka mulai manggung dari bar ke bar. Hingga orang-orang mulai mengenal Nirvana dengan ciri musik yang powerful dan distorsi gitar yang kasar, suara serak Kurt, dan tentu saja aksi panggung mereka yang tak lazim—menghancurkan alat-alat musik. Setelah menelurkan album Bleach, Nirvana bergabung dengan label major, dan tahun 1992 lahirlah album Nevermind. Lagu Smells Like Teen Spirit membuat hidup mereka berubah secara drastis. Sebuah kepopuleran yang tidak mereka harapkan sama sekali. Mereka hanya peduli dengan musik. Dalam wawancaranya, Kurt mengatakan kalau ia lebih suka mendengarkan apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain terhadap musiknya dari pada harus menjelaskan. Tak ada yang perlu dijelaskan dengan musik mereka.

Di saat puncak kepopuleran, Kurt bertemu dengan Courney Love dan tak lama kemudian mereka menikah. Saat Courney mengandung anak mereka, media membuat Kurt kesal dan tertekan karena mengatakan bahwa Kurt dan Courney adalah pasangan pecandu yang menjijikkan, bahkan saat Courney mengandung anaknya.

Di balik kehidupan Kurt, dalam Montage of Heck bisa dilihat lucu, konyol, dan sisi humanis Kurt. Saat kecil, ia berdandan seperti Batman, bermain dengan gembira di salah satu rekaman video keluarganya. Kemesraan dan kelucuan Kurt dengan Courtney yang juga terekam dengan baik—saya merasa tersentuh dengan foto-foto mereka dengan latar belakang suara Kurt menyanyikan lagu I Love Her dari The Beatles. Beberapa foto dan video yang juga memperlihatkan kedekatan Kurt dan Frances, putrinya saat kecil. Momen yang menggambarkan bahwa Kurt adalah ayah yang penyanyang.

animation_still

Yang patut dipuji dalam film ini selain arsip yang tak pernah dipublikasikan sebelumnya adalah adanya animasi. Animasi sangat membantu menghidupkan coretan atau gambar-gambar yang dibuat Cobain. Satu lagi, banyaknya rekaman percakapan berlatar suaranya sendiri membuat sebuah hubungan yang intens. Menurut saya, kekurangannya adalah tidak adanya sosok Dave Grohl, penabuh drum Nirvana, menjadi narasumber dalam film ini.

Apa pun cerita tentang Kurt, harus diakui bahwa Kurt telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang jenius. Karya yang dikenang dan pembahasan yang tak pernah habis tentangnya walaupun ia sudah lama meninggal. Ia seperti John Lennon pada generasinya. Sebagai salah satu penggemar Nirvana, saya merasa bersyukur adanya film ini.

Rest in peace, Kurt.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s