Cinema Paradiso (1988): Kenangan, Persahabatan, dan Pencarian Jati Diri

1990-cinema-paradiso-poster1

Seandainya setiap orang di dunia hanya boleh menonton sepuluh film selama hidupnya, saya tak ragu dan tak menyesal samasekali untuk memasukkan film Cinema Paradiso ke dalam 10 list film yang akan saya tonton. Begitu hebatnya film yang disutradarai oleh Giuseppe Tornatore buat saya. Ceritanya sederhana: tentang seseorang pembuat film (Salvatore) yang teringat masa kecil di kampung halamannya di kota Sisilia (Italia Selatan). Sebuah bioskop bernama Cinema Paradiso yang berdiri di tengah alun-alun kota mengingatkannya pada berbagai hal.

Lalu apa yang membuat saya jatuh hati? Jawabannya tak lain karena film itu sendiri. Saya begitu terkesan dengan cerita yang begitu apik yang sebagian besar berpusat pada sebuah objek. Bioskop. Di bioskop orang menemukan passion, di bioskop orang menemukan cinta, menemukan jodoh, ada pula yang menemukan kematiannya di sana. Bioskop menjadi saksi kehidupan sosial budaya pada masa itu (setingnya pasca Perang Dunia II). Bagaimana seorang pendeta menjadi seorang yang berkuasa atas nama gereja yang berhak untuk menyensor film yang dianggap tak layak untuk ditonton karena mengandung nilai-nilai pornografi, dan bioskop menjadi saksi bagaimana terjadinya pergeseran norma dalam masyarakat yang ditunjukkan dengan pengaruh gereja yang mulai berkurang dari waktu ke waktu. Cinema Paradiso juga menjadi saksi sebuah teknologi yang makin maju mengikuti perkembangan zaman.

Menurut saya, Cinema Paradiso menawarkan segalanya: cinta, persahabatan, ingatan, kenangan indah yang justru diletakkan ke belakang agar tak hanyut dalam bayangan masa lalu yang membuat film ini terasa begitu getir sekaligus manis. Namun bagaimana lagi, kenangan tak begitu saja bisa dilupakan apalagi dihilangkan mengingat kenangan itulah yang pada akhirnya membentuk jalan hidup Salvatore. Dan beruntunglah Salvatore atau Toto Kecil pernah menjalin persahabatan dengan seorang proyeksionis Cinema Paradiso, Alfredo. Ia menemukan banyak hal. Ia merasakan bagaimana mencintai pekerjaan dengan sepenuh hati, ia menemukan kebijakan hidup “merantau” dari sahabatnya dan terus ia pegang teguh hingga sahabatnya meninggal. Ia pun merasakan bagaimana jatuh cinta yang berakhir pahit dengan Elena. Cinema Paradiso terasa lebih menyesakkan saat hidup menawarkan pilihan: melupakan atau mengingat. Melupakan semua dan meletakkannya di belakang namun sialnya kenangan yang akan ditinggalkan bukanlah kenangan pahit, melainkan kenangan semanis madu.

Cinema_Paradiso_3-1024x526

Bagi sebagian orang film mungkin hanya sebagai hiburan, dan Cinema Paradiso memberikan lebih dari pada itu untuk saya: Pelajaran.Pertama, bahwa masa lalu adalah masa yang akan membentuk kehidupan kita di masa depan. Waktu memang merubah semuanya namun tanpa disadari ada hal-hal yang tak pernah berubah. Kenangan akan tetap seperti itu. Kedua, bagaimana sebuah drama dalam kehidupan dimainkan dalam bentuk proses pencarian jati diri.

Mungkin saya tidak bisa dikatakan obyektif mengingat betapa saya begitu memuja film ini. Namun tak bisa dipungkiri Cinema Paradiso memberi gambaran berbagai aspek mulai dari sosial, kultural, teknik pengambilan gambar, sinematrografis, nilai estetik. Dan jangan lupakan scene terakhir film ini. Sebuah momen yang menjadi puncak keindahan dramatik (adegan ciuman dari film-film klasik yang merupakan potongan-potongan film hasil sensoran pendeta, dirangkai menjadi sebuah montase yang memukau. Adegan ini semakin sempurna ketika diiringi musik yang memikat dari composer Ennio Morricone. 

“Living here day by day, you think it’s the center of the world. You believe nothing will ever change. Then you leave: a year, two years. When you come back, everything’s changed. The thread’s broken. What you came to find isn’t there. What was yours is gone. You have to go away for a long time… many years… before you can come back and find your people. The land where you were born. But now, no. It’s not possible. Right now you’re blinder than I am.” –Alfredo

Info tambahan, Cinema Paradiso banyak memenangkan penghargaan, di antaranya:

Oscar atau Academy Award (1990): Best Foreign Film

Cannes Film Festival (1989): Grand Prize of the Jury

Golden Globe (1990): Best Foreign Film

BAFTA Awards (1991): Best Actor, Best Actor in a Supporting Role, Best Original Film Score, Best Screenplay-Original, Best Cinematography, and Best Custome Design.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s