Surat Untuk Marlon

Marlon, jika kau berniat menghabiskan sisa musim ini untuk berkelana, kuharap kau berkenan menyampaikan surat ini kepada seorang wanita. Alamatnya sudah kububuhkan di  amplop ini. Meskipun judulnya, Surat Untuk Marlon, sekali-kali jangan pernah kau berani membukanya. Aku tahu kau dapat dipercaya.

“Nda,

Kubaca, seorang laki-laki introvert menciptakan internet secara tak sengaja, sehingga semua orang tak lagi merasa kesepian dan memungkinkan jarak itu bagai seutas benang yang bisa digulung. Manusia menciptakan media sosial dan mesin pembuat jus. Dan atas nama kemajuan dan teknologi, manusia meracik lotion dengan aroma pomegranate. Ilmuwan menemukan penisilin. Amerika, Rusia, bahkan China bermimpi untuk meninggalkan Bumi dan hidup di Mars sambil menanam kentang, beranak-pinak, lalu mampus di sana sendirian. Dan menariknya mereka—mungkin—abadi karena tak ada makhluk pengurai yang hidup di sana (apakah benar demikian?) Ah, aku tak peduli dan tak menyukai Biologi.

Atas nama semua kemajuan itu, atas nama internet, apa yang aku dapatkan di sini, Nda, selain sebuah kesia-siaan? Pernakah kau berpikir demikian di ujung sana sambil memeriksa berapa  lagi sisa kuota yang bisa kaugunakan demi hal remeh-temeh di Twitter?

Andai Shakespeare dulu mengatakan, “Apalah arti sebuah jarak?” Apakah itu bisa membuat rindu ini berkurang? Apakah aku bisa menatap ceruk wajahmu dengan jelas seperti kemaren kulihat anak-anak melayangkan sendal jepit di bawah guyuran hujan sambil menghindari genangan lumpur dan tahi sapi, dan aku berpikir apakah aku akan bahagia seperti mereka.

Nda,

Aku menyukaimu apa adanya. Hanya sesederhana itu. Tak serumit masalah jarak, tak serumit rasa memiliki atau serumit menentukan sikap. Aku hanya menyukaimu, itu saja. Ini semestinya juga tak serumit membandingkan Deja vu dengan Deja Vecu atau membedakan Deja Vecu dengan Deja Visite, dan mendebatkan hal sialan lainnya.

Lalu apa yang salah dengan semua ini sehingga kau menarik garis dan beralasan bahwa kau harus mengambil sikap? Apakah aku hanya semacam domba putih salju yang kedinginan, lalu dalam kedingin paling keparat, kehangatan itu kaucukur  habis. Harus kujawab dengan apa, sedang aku tak bisa meminjam lidah para dewa untuk mengatakan bahwa kau sempurna.

Nda, Tidakkah kau merasakan bahwa semua kemajuan ini adalah sebuah kesia-siaan?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s