Pagi Seorang Lelaki Muda

Aku telah melalui banyak hal dalam hidup, dan sekarang,  kurasa aku telah menemukan apa yang diperlukan demi kebahagiaan. Hidup terpencil di negeri yang tenang ini, dengan kemungkinan berguna bagi orang-orang yang biasa berbuat baik, dan yang tidak terbiasa untuk menerima hal tersebut. Dan berusaha agar harapan mana pun akan dapat berguna. Kemudian istirahat, alam, buku, musik, dan mencintai sesama. Itu adalah sumber kebahagiaan bagiku. Kemudian, di atas segalanya, kau mencari pasangan, dan mungkin anak-anak. Apalagi yang diinginkan oleh hati seorang pria? (Family Happiness – Lev Nikolayevich Tolstoy)

***

Inilah yang terjadi pagi itu, suatu pagi di akhir bulan Juni: seorang perempuan bergaun putih mengambang seperti Superman-di-hadapan-Lois-Lane di depan jendela kamar seorang lelaki muda.

Tak ada yang tahu pasti sudah berapa lama ia seperti itu. Namun sang lelaki muda, yang masih merasakan kantuk berat, mau tak mau terbangun ketika mendengar kepak sepasang sayap sang perempuan. Jika ini terdengar terlalu aneh, ada baiknya kita sebut saja perempuan bergaun putih dan bersayap itu bidadari. Lelaki muda itu sejenak terpana menatap gaun putih sang bidadari berkibar di udara seolah menyatu dengan awan. Setelah benar-benar hilang rasa kantuknya dan tak yakin sedang bermimpi usai menampar pipi kirinya dua kali, barulah ia terkejut. Sial, umpatnya. Ia menarik selimut menutupi kepalanya dan berhitung sampai enambelas. Pada hitungan ke sembilan, ia sedikit demi sedikit menurunkan selimut. Di hitungan ke enambelas, ia dengan jelas menatap bidadari itu masih mengambang di jendelanya seperti seekor capung. Lantas tokoh kita ini melirik jam digital di atas meja sebelah kiri tempat tidur. Di sana tertera angka hijau: 06:12.

Lelaki muda, tokoh kita ini, tentu saja mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Akan menjadi tidak wajar seandainya ia merasa biasa-biasa saja ketika didatangi seorang bidadari. Atau mungkinkah itu malaikat maut? Ah, rasanya tidak. Sepengetahuannya, malaikat maut datang dalam bentuk yang menakutkan: pancaran sinar mata semerah saga, bercula seperti badak umur lima tahun, sepasang taring di kiri dan kanan yang menyembul di tepi mulutnya, dan taring itu digenangi air liur. Oh ya, satu lagi, ia mengacung-acungkan trisula seperti tokoh jahat dalam film kartun. Tapi lupakan gambaran itu, setidaknya jika malaikat maut memang datang pagi itu untuk mencabut nayawanya, malaikat maut itu sungguh akan menyeramkan melebihi dari apa yang bisa ia bayangkan, mengingat dirinya tak begitu religius seperti pengakuannya sendiri pada seorang perempuan yang dekat dengannya lewat internet.

Sang bidadari tersenyum kepada lelaki muda, tokoh kita yang masih kebingungan itu, kemudian mengepakkan sayap dan meliuk mendekati daun jendela. Lelaki kita ini, seakan mengerti, bangkit dari tempat tidur dengan ragu-ragu, lalu dengan langkah tertahan berjalan menuju jendela kamar sambil memikirkan arti senyuman bidadari. Ia merasa pernah melihat senyuman itu, tapi di mana, pikirnya. Internet, toko buku, atau dalam mimpi, yang jelas tak mungkin ketika upacara. Ia sungguh tak mampu mengingat. Lelaki itu kini menaikkan kaca jendela dan bersyukur. Bidadari itu, kalau dipikir-pikir, cukup sopan untuk menunggu ia membuka jendela. Bisa saja bidadari itu menerobos masuk kamarnya atau yang lebih menakutkan menembus kaca jendela lalu duduk di kursi, membaca buku cara-beternak-ayam-kampung sembari menunggu ia benar-benar bangun tidur.

Ketika kaca jendela dinaikkan, bidadari itu menatapnya lembut dan lelaki muda mengangguk. Sang bidadari melayang masuk. Sebelum duduk di kursi yang terletak di ujung tempat tidur, ia mengepakkan sayapnya sekali. Lelaki muda kita merasakan hawa sejuk dari kepakan sayap bidadari. Semacam kesegaran ketika cuaca panas atau seumpama kolak pisang ketika berbuka puasa. Kibasan angin dari sayap bidadari itu sungguh melenakan sehingga lelaki muda merasa tak perlu mandi. Ia hanya mengucek mata dan merapikan rambut dengan jari tangan. Kali ini, setengah mati, ia berusaha bersikap normal. Dengan tenang ia mengambil kaos dan mengenakan celana jins yang tergeletak di ranjang. Di luar, embun tipis masih menggantung di ujung-ujung daun dan seakan terhipnotis, ia makin lebih tenang melihat lingkaran riak di telaga yang tak putus-putus.

“Mau kubuatkan teh hangat?” tanyanya pada bidadari.

Bidadari masih menatap lelaki itu dengan tatapan seorang gadis sedang jatuh cinta: tatapan menenangkan sekaligus meluluhkan mata yang memandangnya. Ia masih duduk dan sayapnya, entah bagaimana caranya, lenyap begitu saja seperti menyusut ke balik punggungnya, membuatnya tak lagi terlihat aneh. Lelaki muda kita sekarang hanya melihat perempuan cantik di pagi hari yang mengenakan gaun putih.

“Oh tentu, kalau tak keberatan bisakah kautambahkan dengan madu?” pintanya. Lelaki muda mengangguk lalu sejenak kebingungan mencerna apa sebenarnya yang tengah ia alami

Lelaki muda kita, menghampiri lemari kecil tempat koleksi musiknya disusun rapi, lalu menarik sebuah piringan hitam. Tak lama, gramofon menyenandungkan lagu Radiohead, Morning Bell. Lelaki itu sekarang menuju ujung ruangan, membuka kulkas, menyalakan kompor dan menaruh ceret pemanas air di atasnya. Ia sesekali mengikuti suara Thom Yorke bernyanyi sambil menyiapkan dua buah cangkir.

“Maaf, kelihatannya kita kehabisan madu,” kata lelaki itu kecewa. “Bagaimana kalau kuganti saja dengan seiris jeruk nipis?”

“Jeruk nipis terdengar bagus,” jawab bidadari menyilangkan kakinya sambil tetap menatap lelaki.

Lelaki kita ini, kembali merasa menjadi manusia normal ketika menatap bidadari, atau katakanlah gadis ini—mengingat ia tak lagi terbang dan sayapnya menyusut begitu saja. Dan ia mulai membayangkan setiap pagi dibangunkan gadis secantik bidadari yang kini juga tengah menatapnya. Bidadari itu bergerak dengan cara yang anggun: caranya menyunggingkan senyum tipis namun menenangkan; caranya tersenyum sambil menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga; bahkan saat ia menyilangkan kaki yang memperlihatkan betisnya yang halus. Lelaki muda lantas bertanya sambil mencoba membuka tutup toples kaca bening, kemudian mengambil empat buah kubus gula kecil dan membaginya sama banyak ke dalam dua cangkir.

“Begini…” katanya tenang, “aku sungguh tak keberatan jika seseorang bertamu ke rumahku pagi-pagi seperti ini.”

“Kalau kau tak keberatan, jadi?”

“Aku hanya terkejut kau datang dengan cara yang tak biasa,” kata lelaki muda yang kini sudah membelakangi bidadari.

“Apakah kau tak terbiasa melihat perempuan cantik?”

“Beberapa bulan belakangan, aku memang sendirian dan belum pernah bersosialisasi dengan orang-orang. Tapi sebelum itu, aku bersosialisasi dengan orang normal. Mereka tidak bersayap dan tentu saja tak pernah masuk ke rumah seseorang lewat jendela.”

“Kenapa kau sendirian?” tanya sang bidadari.

“Kukira itu bukan urusanmu! Oh, maaf.”

“Kau tak perlu meminta maaf.”

“Maksudnya, aku minta maaf karena terdengar sedikit kasar. Aku selalu mengalami ini: sulit mengeluarkan hal-hal yang ada dalam kepalaku sesuai dengan apa yang kukatakan.”

“Itu terdengar menyedihkan.”

“Ya. Memang menyedihkan.”

Ceret pemanas air mengeluarkan uap lalu berbunyi. Lelaki muda kita mematikan kompor. Ia menuang air, menyiram dua cangkir dengan hati-hati sambil memutar-mutar teh celup dalam cangkir. Kemudian, ia mengiris jeruk nipis—tentu saja dengan hati-hati.

Sang bidadari masih saja betah duduk di kursi seolah bantalan kursi itu dilapisi lem super cap burung hantu hingga ia tak bisa ke mana-mana selain memutar-mutar kepalanya memperhatikan keadaan sekeliling. Rumah itu terlihat rapi untuk seorang laki-laki. Terlalu rapi, terlalu bersih, dan sedikit terlalu perempuan. Tak ada sekat antar ruangan sehingga rumah itu benar-benar hanya sebuah ruangan. Dua sisi dindingnya dilapisi kaca tembus pandang sehingga telaga bisa terlihat jelas dari dalam rumah. Sayangnya, jika seseorang berniat jahat, tentu akan lebih mudah memperhatikan gerak-gerik lelaki muda dari jauh. Bidadari kini memperhatikan dua sisi dinding rumah lainnya. Di sisi yang panjang ada rak buku yang tak begitu lebar namun cukup tinggi hingga menyentuh langit-langit rumah. Di sebelah rak buku ada lemari kecil tempat lelaki muda menyimpan koleksi musik yang di atasnya gramofon yang sedang memutar Radiohead yang sudah berganti lagu, lalu sebuah meja dengan komputer, keyboard, buku-buku catatan dan lampu kerja serta sebuah lukisan cat minyak bergambar segi empat menempel di dinding. Melihat posisi lukisan itu diletakkan, orang-orang akan membayangkan jika lelaki muda selalu menatap lukisan itu sebelum mulai bekerja: mengetik sesuatu, melamun, membuat catatan penting atau sketsa di buku harian. Lukisan itu seakan menjadi sumber semua inspirasi.

Di sisi dinding yang lain, tempat laki-laki itu sekarang berdiri, mungkin saja itu bisa disebut dapur. Ada kulkas, wastafel, kompor, lemari tempat menyimpan gelas dan piring, satu lemari kayu berukir rumit entah untuk apa, dan wajan yang digantung dengan rapi. Lalu terdapat sebuah meja makan yang agak menjorok ke dalam ruangan. Di tengah ruangan hanya ada sofa panjang serta bantal kecil yang terlihat empuk dan sofa itu tampak tak pernah diduduki. Lelaki ini memang berniat mengasingkan diri, pikir sang bidadari.

Lelaki muda kita kini berjalan sambil membawa dua cangkir yang mengepul-ngepul di tangan kanan dan kirinya. “Bagaimana kalau kita minum teh di luar,” tanya lelaki muda sambil melirik dan menunjuk dengan tangan kanannya yang berisi cangkir: di sana ada dua buah kursi kecil dan sebuah meja bundar di tengahnya.

“Oh, tentu saja,” kata bidadari bangkit dari tempat duduknya. “Perlu kubantu?” tanyanya pada lelaki muda. Sang lelaki menggeleng.

 Bidadari itu sudah sepenuhnya menjadi perempuan, maksudnya perempuan yang benar-benar normal. Tanpa sayap dan mengambang karena kini ia berjalan dengan langkah anggun sementara gaunnya melayang karena gerakannya. Rambutnya yang hampir menyentuh pinggang dibiarkan tergerai. Sang bidadari mendorong pintu kaca diikuti lelaki muda di belakangnya yang tampak kepayahan dengan dua cangkir teh itu.

Begitulah, mereka duduk di sana pagi itu sambil memandangi telaga.

“Kalau aku boleh tahu, apa yang membawamu kemari?” tanya lelaki muda kita tanpa basa-basi.

“Aku tak ingin kau terkejut mendengarnya.”

“Hari ini sudah begitu banyak kejutan yang kuterima, mengingat hari baru saja mulai berjalan.”

“Bukankah hari terus berjalan?”

“Maksudku, sekarang masih pagi dan sudah terlalu banyak kejutan. Entah mimpi apa aku semalam.”

“Justru mimpimu semalamlah yang membawaku ke mari,” jawab sang bidadari.

“Aku benar-benar tak ingat mimpiku tadi malam.”

“Kau kesepian.”

Lelaki seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Tidak, aku tak kesepian. Aku bisa saja sekarang sedang berada di pasar, di mal, atau di terminal, tapi aku lebih memilih untuk di sini,” jawab lelaki muda gusar dituduh kesepian oleh orang yang baru ia kenal. Dan orang itu tak normal! “Jadi apa yang membawamu ke mari?” tanyanya lagi.

“Sudah kukatakan: mimpimu tadi malam.”

“Aku tak mengerti dan tak ingat samasekali mimpiku tadi malam.”

“Apakah perlu aku ingatkan?”

“Silakan.”

“Intinya kau tak ingin sendirian,” jelas sang bidadari.

“Aku tak sendirian. Aku punya banyak teman.”

“Di tempat seperti ini?” tanya bidadari tak percaya, ia hampir tertawa namun masih bisa ia tahan. “Siapa?”

“Chekov, Jack London, Lord Byron, atau perlu kesebutkan satu-satu semua koleksi bukuku?”

“Kau tak ditemani, kau hanya membaca. Kau bilang siapa? Chekov, Jack London, Byron? Mereka semua sudah mati. Aku sekarang malah curiga koleksi bukumu di sana adalah buku-buku orang yang sudah mati. Jadi kau benar-benar sendirian.”

Sinar matahari mulai muncul melalui celah-celah batang bambu kuning di seberang telaga. Permukaan telaga begitu tenang dan mengepulkan asap. Sang lelaki menoleh ke samping dan melihat pipi bidadari itu merona diterpa sinar mentari. Sang bidadari lalu meraih cangkir di meja kemudian menyeruput teh hangat secara perlahan. Apakah semua bidadari seayu perempuan yang dilihatnya sekarang (entah bagaimana, bidadari itu memiliki sebuah jerawat di dahinya), tanya lelaki dalam hati. Melihat kecantikan bidadari itu membuatnya merasa harus berpikir ulang: tampaknya ia memang kesepian dan betapa menyenangkan jika setiap hari bisa selalu seperti ini: bersama seorang bidadari yang bahkan ia belum tahu namanya.

“Nikahilah aku,” kata sang bidadari masih memegang cangkir di tangan kanannya.

Maka tokoh kita ini, lelaki muda kita, tentu saja dibuat terkejut mendengar permintaan bidadari. Apa ia salah dengar? Tentu saja tidak. Dan ia yakin tak sedang bermimpi karena ia sekarang dengan jelas mencium aroma jeruk nipis.

“Kau aneh!”

“Aku aneh?” tanya bidadari. “Aku datang karena mimpimu. Tak perlu kujelaskan arti mimpimu itu,” jawab bidadari tenang.

“Aku tak mengenalmu,” jawab lelaki muda kita ini.

“Kau sudah mengenalku.”

“Jika memang aku sudah mengenalmu, sungguh aku ingin mempercayainya. Hanya saja kau terlihat sempurna. Lagi pula aku takkan bisa membahagiakanmu,” kata lelaki.

“Aku yakin kau belum membaca ini—karena yang menulisnya masih hidup. Ada sebuah kutipan yang mengatakan kalau hidup bersama itu bukan untuk membahagiakan pasangan, tapi untuk sama-sama berjuang.”

Lelaki muda kita mendadak kaget. Hatinya berdebar-debar. Siapa perempuan ini, pikirnya. Seakan sudah tahu apa yang dipikirkan oleh sang lelaki, bidadari itu pun menjawab, “akulah orang yang selama ini kaucari.”

“Kamu perempuan yang di internet itu?” Lelaki muda kita ini tak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Lagi pula, ia bukan orang yang lihai mengungkapkan pikirannya lewat perkataan, seolah sewaktu ia lahir isi kepalanya lupa disingkronkan dan mulutnya.

“Menurutmu?” tanya bidadari balik bertanya.

“Sendainya memang benar, aku sekarang hanya ingin memelukmu.”

“Peluklah kalau begitu,” jawab sang bidadari tersenyum. Sayapnya tiba-tiba keluar dari balik punggungnya. Seakan hendak merengkuh dan memeluk lelaki muda kita selamanya.

Sungai Landia – 01/07/’16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s