Cerita Sebuah Lingkaran

Most everything you think you know about me is nothing more than memories. (Haruki Murakami – A Wild Sheep Chase)

***

Ini adalah cerita sebuah lingkaran.

 “Apakah ini semacam pencarian makna yang sia-sia oleh manusia?” Pada suatu malam keparat, ia bertanya.

“Tentu saja tidak,” jawab mereka.

Karena mereka dipertemukan dalam sebuah dongeng yang berakhir bahagia.

Namun ada kebenaran yang mereka anggap sebagai ketidaksadaran bahwa mereka tidak pernah benar-benar bersama: menikmati matahari tenggelam sambil membahas warna jingga; janji bertemu di sebuah tempat yang belum pernah mereka kunjungi sambil berharap hal-hal menakjubkan akan terjadi; mencaci habis-habisan buku roman picisan karya seorang penulis muda dan menertawakan musik murahan; atau mengagumi tata ruang sebuah kafe tempat mereka menuntaskan panekuk dan secangkir kopi. Kenyataannya, mereka belum pernah merasakan atmosfer yang membuat mereka sadar kalau mereka tak seharusnya saling berpandangan terlalu lama, karena cinta di mata mereka akan membuat mereka pada akhirnya harus kehilangan.

Maka ia mengerti bahwa tak seharusnya ia merasa memiliki. Dongeng bahagia tak pernah usai. Menyisakan lipatan-lipatan halaman yang enggan untuk dibaca. Buat apa?

Lalu kata kenangan seakan tak berarti apa-apa, karena ia sebenarnya tak punya ingatan selain gambar suram pada sebingkai lukisan kebahagiaan berpigura bingkai kayu yang dipernis, dipajang pada dinding ruang keluarga agar bisa dilihat para tamu yang datang pada saat yang tak diinginkan. Ia hanyalah garis putus-putus.

Dan ketika ia tersisih dan diasingkan, ia bertanya, apakah ia sebenarnya terlalu nyaman dengan kemalangan? Atau ia hanyalah bentuk lain dari Sisifus, putra Aeolus, yang dikutuk untuk selalu melakukan hal yang sia-sia?

Entah, ia tak mengerti apa masalah sebenarnya. Lantas ia mengambil ponsel dan mengirim pesan, entah untuk yang ke berapa kali. Malam itu, ia menatap ponsel yang tak kunjung berdering. Satu, dua, sepuluh, duapuluh menit. Kemudian ia sadar kalau ia harus mengirim pesan sekali lagi.

Kita sama-sama mengerti, tokoh kita ini akan melakukan hal yang sama berulang kali. Mencoba melakukan hal yang sama, dan entah bagaimana bisa, mengharapkan hasil yang berbeda. Bukankah itu sebuah kegilaan? Tapi siapa yang peduli, karena begitulah cerita sebuah lingkaran ini dibuat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s