Sing Street (2016): Sebuah Perayaan Atas Mimpi-mimpi

SingStreet28201629image12

This is life, Conor. Drive it like you stole it. (Brendan Lalor)

***

Bagaimana seandainya jika dalam kehidupan manusia tak mempunyai impian. Hal itu membuat saya bertanya-tanya. Jadi sebenarnya hidup ini untuk apa? Apakah impian hanya untuk anak SD yang bercita-cita menjadi guru, dokter, pilot, dan astronot, lalu secara perlahan waktu memudarkan semua impian itu, terkubur bersama tahi dan omong kosong tentang realistis. Siapa yang ingin jadi pilot? Orang yang tak bisa melakukan apa pun akan menjadi guru, dan siapa yang ingin jadi astronot di masa sekarang?

Maka lewat film Sing Street, John Carney berupaya menyampaikan hal ini, tentang betapa pentingnya perjuangan meraih impian, tak peduli alasan semua impian itu kadang—sungguh—tak masuk akal.

SingStreet28201629image2

Sing Street adalah salah satu film dalam list yang ingin saya tonton di tahun 2016. Alasannya sudah pasti karena John Carney. Seandainya saya belum menonton karya Carney sebelumnya: Once (2007) dan Begin Again (2013), mungkin saya tidak akan begitu antusias. Sebagai pecinta musik, dan penikmat film yang diunduh gratis dari internet, tentu saya beruntung bisa menikmati keduanya sekaligus dalam satu waktu: menonton film bertema musik!

Sing Street berlatar di Dublin, Irlandia tahun 1985. Bercerita tentang seorang remaja bernama Conor ‘Cosmo’ Lalor (Ferdia Walsh-Peelo) yang pindah sekolah karena masalah keuangan yang sedang dihadapi keluarganya. Di sekolah barunya, dia bertemu Raphina (Lucy Boynton), seorang gadis misterius yang mengaku sebagai seorang model. Pertemuan itu membuat Conor menyukai Raphina (saya kadang masih bertanya-tanya, bagaimana seseorang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama?) dan langsung berencana membentuk sebuah band sebagai usaha untuk membuat Raphina terkesan dan tentu saja untuk membuat Raphina mau menjadi model video klip band mereka.

SingStreet28201629image4

SingStreet28201629image9

Ceritanya hanya sesederhana itu. Tak serumit kode enigma pasukan Jerman saat Perang Dunia Kedua atau sesulit dandanan Syahrini. Hanya tentang menyukai dan berusaha mendapatkan perhatian. Namun sialnya, seperti hukum aksi-reaksi, peristiwa itu berlanjut dengan hal-hal yang tak terduga. Seperti film Carney sebelumnya, yang bercerita tentang usaha mengejar impian dan makna hidup, ada yang lain dalam film Sing Street. Jika film Once (2007) terasa kesan yang suram dan Begin Again (2013) begitu banyak hal kelabu dan patah hati, Sing Street  justru dibawakan dengan khas anak muda. Pesta, tentu saja. John Carney sukses meramu Sing Street menjadi tontonan yang manis untuk merayakan impian dan cita-cita. Ceritanya klise namun tidak murahan. Kisah cinta yang manis, persahabatan, persaudaraan, masa muda yang penuh gejolak pemberontakan terhadap aturan, polemik keluarga, masalah ekonomi, dibuat senatural mungkin dan  tak terkesan menggurui. Secara tidak langsung, dalam film ini, kita bisa merasakan adanya kritik sosial yang penuh dengan isu familiar.

tumblr_o5quskritl1snp9uao1_1280

SingStreet28201629image1

Entah saya yang terlalu subyektif, saya tidak tahu. Saya pribadi selalu menyukai film John Carney bertema musik. Dalam film Sing Street, ada chemistry yang kuat antara tokoh utama. Oh ya, jangan lupakan tokoh Brandon Lalor yang diperankan Jack Reynold. Dia adalah saudara impian setiap orang yang menggilai musik sepenuh hati. Tentu saja yang paling menonjol menurut saya adalah Lucy Boynton. Memparafrasekan kalimat Brandon Lalor dalam film ini: “Tanpa Lucy Boynton, Sing Street hanyalah film tentang remaja homo yang bermain musik di gang.”

SingStreet28201629image7

Maka dalam film ini dengarlah lagu Duran-Duran, The Clash, The Cure dan beberapa lagu yang dinyanyikan langsung oleh Ferdia Walsh-Peelo yang membuat saya berdoa: Tuhan, jika tidak bisa kembali ke masa ketika The Beatles masih berjaya, setidaknya kirimlah saya ke tahun 80-an!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s