Lelaki Penghitung Detik

Suaranya terdengar sekilas. Sebuah getaran sesaat, tak bisa diulangi lagi. (Yang Sudah Hilang – Pramoedya Ananta Toer)

***

Ia selalu menghitung setiap detik yang terlewat. Lalu, ia memutuskan untuk berhenti.

Selanjutnya, detik-detik berlalu bagaikan sebuah kehampaan yang panjang. Kehampaan itu terulur, seakan tiada pernah habis seperti seutas pita yang keluar dari mulut seorang pesulap. Laki-laki itu merasa takjub, ternyata mereka bisa bertahan selama itu. Tak mengucap sepatah kata pun seperti orang bisu. Ia ingin mengatakan sesuatu—apa pun itu untuk memecah keheningan yang kian terasa menyesakkan—namun kembali mengurungkan niat.

Pikirannya kini fokus pada suara yang tak ia sadari sebelumnya: suara napas yang tak teratur namun terdengar menenangkan. Laki-laki itu bisa membayangkan kalau seseorang itu tengah berbaring dalam selimut tipis sambil menghadap dinding kamar, sedangkan tangan kirinya terjulur melewati sisi tempat tidur seperti papan lompatan di sebuah kolam renang.

Ia sungguh merasa tak nyaman saat ini. Ada banyak hal dalam pikirannya sehingga ia harus segera mengambil keputusan: tetap bertahan seperti ini hingga keheningan di antara mereka semakin menebal; mulai berbicara apa saja, misalnya tentang kebun binatang atau gejala kebotakan; atau mencoba untuk tidur sambil membayangkan sebuah topi lebar yang melindungi kepalanya dari terik sinar matahari sementara dirinya terus dibawa aliran sungai dengan sebuah kayak. Namun pilihan-pilihan itu tak akan membuat dirinya merasa lebih baik. Semua hal yang berjalan saat ini terasa tidak benar. Dan menjadi lebih menyesakkan ketika ia sendiri tak tahu apa yang salah dari semua itu.

***

Semua awalnya berjalan sempurna dan ia begitu antusias menceritakan sebuah cerita pendek yang baru saja ia baca. Ia tak pernah mendengar nama penulis cerita pendek itu sebelumnya dan merasa yakin kalau perempuan di ujung telepon juga tak mengetahui penulis tersebut. Ada semacam kepuasaan tersendiri yang menyeruak dalam dadanya. Seperti ketika suatu sore, ia dan temannya tengah berjalan di sudut kota, kemudian dari dari rumah seseorang terdengar radio menyenandungkan musik. Ia hafal lirik pada bagian chorus dan ikut bergumam menyanyikan lagu tersebut. Temannya dengan rasa kagum menanyakan siapa yang menyanyikan lagu ajaib itu. Ia tersenyum sambil menunjukkan wajah mencemooh: Apa?! kau tak tahu lagu ini? Oh, yang benar saja!

Lalu apa yang membuat mereka kini di telepon, sementara malam kian larut? Tak ada hal yang bisa dikatakan wah hingga mereka seolah kehilangan kata-kata; perempuan di ujung telepon tak mengabarkan ia didiagnosa menderita kanker otak stadium lanjut hingga hidupnya mungkin hanya tinggal beberapa bulan lagi; tidak pula perempuan itu menelepon dalam keadaan tangan yang masih berlumuran darah karena baru saja membunuh seorang aparat kepolisian menggunakan sebilah garpu. Tidak, jika kau ingin tahu, sama sekali tak seperti itu. Mereka hanya kehilangan kata-kata.

Seperti yang sudah-sudah. Awalnya ia menelepon sebagaimana sebelumnya. Laki-laki itu memasang paket menelepon dengan tarif murah, menyeduh kopi, menyiapkan rokok di dekat jangkauan, mengosongkan asbak, memasang earphone, mencari posisi yang nyaman sambil membuka daftar panggilan cepat—hanya nomor perempuan itu yang masuk dalam daftar panggilan cepatnya. Memencet tombol dial dan menunggu dengan perasaan tak sabar.

Nada tunggu…

Seorang perempuan di ujung sana menjawab dengan suara setengah mengantuk.

“Halo.” Terdengar suara berat dan sedikit tertahan. Laki-laki itu tersenyum. Ia menggeser tempat duduk sambil menanyakan apakah perempuan di ujung telepon sudah ketiduran.

 “Belum,” jawab perempuan di ujung telepon. “Aku menunggu. Lima menit lagi mungkin aku akan mati kebosanan. Kamu dari mana? Tak biasanya menelepon larut malam?” tanya perempuan di ujung telepon penasaran.

“Aku tadi ada urusan,” jawab laki-laki itu singkat. Tak tahu bagaimana cara menjelaskan, walaupun ia ingin sekali menceritakan bahwa ia baru saja dijemput temannya, mengajaknya keluar untuk minum kopi, ditambah lagi temannya itu baru saja membeli smartphone dan dengan wajah penuh pengharapan memintanya untuk memindahkan beberapa folder lagu tahun 60-an ke dalam smartphone barunya. Namun jika ia menceritakan hal itu, semuanya akan menjadi rumit. Ia tak suka menjelaskan detail tentang apa yang dikerjakannya yang tak berhungan sama sekali dengan perempuan itu.

“Oh, urusan apa? Mau menceritakannya?”

“Ini malam minggu, sebaiknya kita membahas hal yang lain saja,” jawab laki-laki itu berkilah.

“Memangnya ada apa dengan malam minggu?

“Kamu tahu, malam minggu seperti ini sebaiknya dihabisakan dengan menelepon, membaca buku, atau mendengarkan lagu Bobby Womack ditemani secangkir kopi.”

“Bagaimana dengan menonton film?”

“Itu juga terdengar bagus selama ceritanya bukan tentang jatuh cinta, main serong, kemudian cinta kembali menyatukan mereka,” jawab laki-laki sinis.

“Aku baru selesai menonton film Her. Ceritanya tentang seorang lelaki umur tiga-puluhan yang merasa kesepian lalu berteman dengan mesin super canggih. Akhirnya mereka saling jatuh cinta,” kata perempuan di ujung telepon. Kini suaranya terdengar jernih, seperti tak pernah kesusahan menahan kantuk sebelumnya.

Laki-laki itu sejenak berpikir. “Kisah cinta itu pengecualian. Itu film yang pantas untuk ditonton malam minggu,” katanya mengamini. Ia pernah menonton film itu dan membayangkan kalau Samantha benar-benar nyata.

“Baiklah, jadi apa yang seharusnya tidak dilakukan saat malam minggu?” perempuan di ujung telepon bertanya lagi.

“Yang jelas bukan sebuah cerita yang membosankan. Misalnya tentang seorang teman yang mengajak keluar untuk minum kopi, berbasa-basi tentang pekerjaan, tapi sebenarnya ada hal lain yang ia inginkan. Ia baru saja membeli ponsel dan minta dikirimkan koleksi lagu Beatles hanya untuk sekedar kebanggaan alih-alih mendengarkan lagunya.”

“Baiklah jika kamu tak mau menceritakannya,” jawab perempuan ringan. Laki-laki itu membayangkan perempuan di ujung telepon tersenyum sambil berpikir betapa konyolnya dirinya. Mungkin ia telah berbalik posisi tidur dan sekarang tengah menatap lemari pakaian dekat pintu kamar.

“Bagaimanapun aku baru saja menceritakannya padamu.”

“Aku tahu.”

“Dan syukurlah ia tak sempat membahas banyaknya menteri yang diganti dalam kabinet.

Perempuan di ujung telepon tertawa. Kemudian empat detik berlalu dalam keheningan, dan begitu seterusnya.

Laki-laki itu meraih Marlboro Merah dekat lutut kanannya, mengeluarkan sebatang, bingung sejenak sambil menoleh ke sana ke mari mencari korek. Pertama kali ujung rokok terbakar, ada asap kelabu yang bergulung di ruangan itu. Ia menghirup napas yang panjang seolah tak ingin mengeluarkan racun itu dari mulutnya, sedetik kemudian ia menghembuskan asap itu dengan perlahan. Asap itu terurai bagai bayangan hantu sebelum menghilang.

 “Kenapa diam?”

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aneh, bukan?”

 “Jadi sekarang kamu lagi apa? tanya laki-laki itu.

“Tidur-tiduran sambil teleponan, kan?”

Laki-laki tertawa. “Pertanyaanku terdengar bodoh sekali. Tentu saja kita sedang teleponan.”

“Jawabanku sama bodohnya. Aku membayangkan seseorang bertanya, apa yang sedang kau kerjakan? Kemudian aku menjawab: saya sedang bernapas dan menjawab pertanyaan Anda.”

Mereka tertawa lagi. Laki-laki itu bisa membayangkan perempuan di ujung telepon itu terlihat sangat cantik ketika tertawa. Ia menjentikkan puntung rokok, menoleh ke jendela kamar dan melihat awan melintas di balik kaca. Malam itu bulan tampak sempurna.

“Aku baru saja membaca cerita pendek Jumpha Lahiri,” ujar laki-laki itu kemudian.

“Jumpha Lahiri? Dia siapa?”

“Sepertinya penulis keturunan India,” jawab laki-laki itu.

“Seperti Salman Rushdie?”

“Mungkin,” kata laki-laki itu tak yakin.

“Kenapa aku tak tahu?”

Saat itulah—hanya dua detik—ada sebuah kebanggan menyeruak yang tak bisa ia jelaskan. Biasanya, perempuan itulah yang mengenalkannya dengan bacaan yang bagus, yang membuatnya selama ini merasa hanya menghabiskan waktu membaca kumpulan cerita sampah yang dipoles dengan cerita cinta mendayu-dayu. Selama dua detik, kebanggan memenuhi ruang dadanya seperti asap rokok yang mengambang dalam kamarnya. Kemudian suara perempuan di ujung telepon membuyarkan konsentrasinya.

“Apakah kau mencintaiku?”

“Ya,” jawab lelaki pendek.

“Hanya itu saja?”

“Apakah ada hal yang lebih dari itu?”

Tak ada jawaban dari perempuan di ujung telepon. Laki-laki itu menyapu pandangan ke sekeliling ruang kamarnya. Di kasur masih tergeletak lembar cerita pendek yang ia print siang tadi karena terlalu malas membaca sambil menatap layar laptop. Ia merasa tak pernah benar-benar membaca bilamana ia tak membalikkan lembar demi lembar kertas lewat jemarinya. Kemudian ia menengadah menatap langit-langit kamar. Asap rokok berpendar seakan mencoba melepaskan diri. Cat langit-langit kini telah pudar hingga ia tak bisa tahu warna asli cat tersebut apakah putih atau krem. Sebagian triplek yang menutupi langit-langit dipenuhi noda yang ia tak tahu apa sebabnya. Kumpulan-kumpulan noda itu terlihat seperti deretan pola-pola aneh dan serangkaian awan-awan imajiner. Ia teringat atlas. Bagaimana ia bisa mengingat atlas di saat seperti ini? Pikirnya.

Kopinya tak lagi mengepulkan uap, sudah dingin namun masih terasa hangat untuk diseruput.

“Hei, kamu masih di sana?”

Laki-laki itu tidak menjawab. Namun balik bertanya, “apakah kau juga mencintaiku?”

“Ya,” jawab perempuan rendah.

Suaranya terdengar sekilas. Sebuah getaran sesaat, tak bisa diulangi lagi.*

Sungai Landia – 31/07/2016

*diambil dari kalimat Pramoedya Ananta Toer, Yang Sudah Hilang.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s