Apa yang Dibicarakan Semut Ketika Mereka Berpapasan?

Mengapa ayam menyeberang jalan? Apakah wanita usia dewasa lebih memilih pria yang mulai mengalami krisis kepercayaan diri, misalnya masalah kebotakan, atau lebih memilih pria yang seumur hidupnya selalu mencukur kumis dan jenggot setiap pagi? Bagaimana cara bertahan hidup di Alaska agar tak berakhir seperti Alexander Supertramp di film Into The Wild? Banyak, jika kau ingin tahu, terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Namun semua hal itu biasanya tak berputar terlalu lama dalam kepala. Sekitar dua-sepuluh detik kemudian saya seperti tak memikirkan apa-apa dan melupakannya begitu saja. Namun tidak dengan hal ini: Apa yang dilakukan—atau yang dibicarakan—semut pada saat mereka berhenti sejenak ketika berpapasan dengan semut lainnya?

Di kamar, ada secangkir kopi yang sudah dingin, rokok murahan karena tak cukup mampu membeli rokok Amerika setiap hari, komputer jinjing, gitar (senar tiganya putus), poster Kurt Cobain, lukisan Starry Night Van Gogh yang diunduh dari internet berukuran dua lembar kertas A4 menempel di lemari, dan dua buku fiksi yang belum selesai dibaca tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Saya duduk menghadap dinding yang kusam. Terakhir kali dicat, kata ibu saya, waktu saya berumur 5 bulan 12 hari, itu pun karena tante saya akan menikah. Sampai sekarang saya tak pernah tahu hubungan menikah dengan cat baru di dinding rumah. Maaf, saya harus berhenti memikirkan cat rumah dan pernikahan.

Tentang semut, saya ingat Raja Solomon. Sang penguasa bangsa jin dan binatang, dan tentu saja sang raja mengerti bahasa mereka. Bagaimanapun, saya bukan Raja Solomon. Lagipula saya tak terlalu berminat bisa mengerti arti dengusan jin Ifrid. Saya hanya penasaran, apa yang semut bicarakan ketika mereka berpapasan?

Dua puluh menit yang lalu, atau bisa saja lebih, saya tengah di dapur memegang sebilah sendok di tangan kiri dan menenteng cangkir kosong di tangan kanan. Adalah ritual menyeduh kopi yang benar-benar serius saya lakukan selain membaca fiksi dan tidur. Di lantai hingga bagian tengah dinding, sebarisan panjang pasukan semut berpawai menuju langit-langit dapur.

Ada cermin dengan bingkai kayu rotan yang disangkutkan pada sebuah paku dan kemoceng yang tergantung di sampingnya. Saya pikir, koloni semut itu akan berhenti sebentar, bersikap waspada pada cermin di atas mereka dan memutuskan cermin itu adalah jebakan agar kemoceng di sampingnya bisa melenyapkan mereka sekali sapu. Alih-alih mundur, mereka tetap berjalan hingga membuat saya harus meletakkan gelas di meja lalu mendekat, memperhatikan mereka seperti raksasa mencium bau anak gadis untuk diculik atau dijadikan gundik. Saya menebak semut di barisan paling depan adalah ketua koloni, dan mungkin ia seekor semut betina (ia berjalan sedikit melenggok mengikuti kontur dinding).

Mereka terus berjalan (atau merayap di dinding?) menuju langit-langit dapur seolah ada tujuan mulia yang harus mereka selesaikan, semacam misi maha-penting—menyelamatkan dunia misalnya. Maka saya menoleh ke langit-langit dapur untuk melihat apa yang begitu penting di atas sana. Menyusuri langit-langit, menuruni pandangan dan menemukan koloni kecil semut lain. Mungkin mereka semut pengungsi, pikir saya asal. Dua ekor semut tengah memikul butir beras dan tujuh atau lebih semut lain menggotong kerangka serangga mati. Ya, mereka mungkin sedang mengungsi, saya menyakinkan diri.

Ada semacam kecemasan dan harapan bahwa mereka akan betemu di jalur yang sama dan itu benar terjadi. Maka ketika ketua dari kedua rombongan semut berpapasan, mereka berhenti sejenak saling membisikkan sebuah kode kemudian kembali berjalan, diikuti semut lainnya. Apa yang mereka bicarakan? Apakah itu bentuk simpati atas kemalangan semut pengungsi dari langit-langit dapur yang ditimpa bencana? Bisa saja, kan?

Ketel pemanas air berbunyi, saya menuju meja, meraih cangkir dan sendok. Menyeduh secangkir kopi adalah hal yang tidak semua orang bisa lakukan. Itu bukan kegiatan yang bisa langsung mahir dalam hitungan hari, dan jangan percaya tutorial menyeduh kopi di youtube. Maka saya katakan padamu, cara menyeduh kopi itu: buka toples gula – buka toples kopi – siapkan cangkir – isi dengan dua sendok gula (saya menggunakan gula pasir, walaupun dokter menyarankan untuk mengkonsumsi gula aren karena mengandung unsur glikemik lebih rendah) – ambil dua sendok kopi (tergantung selera) – raih ketel – tuangkan air sepenuh cangkir – putar dengan sendok duabelas kali putaran.  Ketika itu, uapnya akan mengepul ke wajahmu dan sejenak kau merasakan aroma surga.

Kopi saya masih mengepul-ngepulkan uap. Saya kembali ke kamar, mencoba untuk mengerjakan sesuatu dengan serius, memikirkan sesuatu dengan serius, bermalas-malasan dengan serius, membaca dengan serius, atau tak mengerjakan apa-apa dengan serius.

Hingga saat ini, ketika kopi saya tak lagi megepulkan uap dan aroma kopi sudah tak lagi menggantung di udara, saya masih memikirkan apa yang dibicarakan semut ketika mereka berpapasan. Saya tak menemukan jawaban yang memuaskan karena misteri tetaplah misteri tetaplah misteri.

Beberapa menit yang lalu saya membaca sebuah artikel di internet bahwa seorang peneliti dari New York University, T.C.Schneirla, menyimpulkan bahwa makanan mengeluarkan zat kimia kemudian menempel pada semut, dan ketika semut yang terkena zat kimia makanan bertemu dengan semut lainnya, semut ini akan menyapa (bersentuhan) dengan semut yang tidak terkena zat kimia makanan. Dengan menyapa inilah zat kimia dari semut akan memberi tahu semut lainnya, melalui antena di kepala semut. Apakah di lingkungan sekitarnya ada makanan atau ada musuh.

Tapi siapa yang benar-benar bisa membuktikannya? Saya ragu. Saya tak bisa mempercayai penelitian itu begitu saja.

Bagaimanapun, saya sungguh tak mengetahui jawaban yang pasti. Saya bukan Raja Solomon sang penguasa bangsa binatang dan bangsa jin itu. Saya hanya orang aneh yang meyaksikan semut dengan sungguh-sungguh dari lantai, melintasi cermin di dinding dan betemu dengan semut lainnya dari langit-langit dapur lalu membayangkan saya menjadi salah satu dari mereka.

Sungai Landia/14-08-2016

Advertisements

2 thoughts on “Apa yang Dibicarakan Semut Ketika Mereka Berpapasan?

  1. Simply want to say your article is as surprising.
    The clarity in your post is just excellent and i can suppose
    you’re knowledgeable in this subject. Fine with your permission let me to
    take hold of your RSS feed to stay up to date with
    impending post. Thank you a million and please carry on the enjoyable work.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s