Dua Ribu Perak

Kunduik meneguk kopi, lalu sembari meletakkan cangkir kopi ke tatakan, ia menanyakan berapa belanjanya di warung itu. “Mau ke mana dia?” pikir Mr. Parker karena melihat kopi yang dipesan Kunduik belum benar-benar habis.

“Bakwan—tiga, kopi—sekerat, kerupuk ubi—dua, dan pisang,” ujar Kunduik pada pemilik warung, meruntut apa saja yang sudah ia makan. Kunduik mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu kemudian mengelap mulut seakan mulutnya digenangi minyak goreng.

Mr. Parker menatap cangkir kopinya. Belum habis setengah. Ia mengedarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain pemilik warung yang tak terlalu akrab dengannya, bahkan untuk memulai pembicaraan pun Mr. Parker merasa segan. Kunduik menerima uang kembalian lalu menoleh pada Mr. Parker dan berkata: “Maaf, aku duluan. Ada urusan penting.”

Mr. Parker berpikir keras. Bagaimana cara membayar kopi dan dua buah bakwan yang terlanjur ia makan, mengingat isi sakunya tinggal dua ribu perak. Ia mengutuk Kunduik—atau dirinya sendiri. Mengapa ia menerima ajakan Kunduik duduk di warung itu. Awalnya ia pikir, Kunduik berniat mentraktir kopi karena habis menang judi. Dalam kondisi normal, terlalu kecil peluang Kunduik berbaik hati. Apa lagi alasan yang tepat kalau ia tak menang judi?

Tapi kini punggung Kunduik sudah hilang di balik tikungan dan Mr. Parker benar-benar mengerti sekarang, seperti apa rasanya ditinggalkan.

Mr. Parker memutar otak, karena memang itulah yang seharusnya ia lakukan. Kau akan memaksa otakmu memikirkan apa yang seharusnya kaulakukan dalam keadaan terjepit. Mr. Parker mencoba memilih cara yang masuk akal seperti: bagaimana jika menawarkan diri untuk mencuci piring? Sejurus kemudian, ia sadar kalau itu bukan Rumah Makan dan ia terlalu malu untuk berhutang.

Tiba-tiba ia ingat kata-kata Kurt Cobain: “Look at the bright side is suicide.” Ya, bunuh diri. Tapi bisa apa ia di warung seperti ini? Bunuh diri dengan pisau karatan, yang untuk membuka bungkus Torabika saja, susahnya minta ampun? Mr. Parker juga tak melihat manfaat tali rafia yang terentang di antara sisi warung. Ia bahkan tak bisa menggantung diri dengan tali itu. Tali itu sudah cocok tempat di mana makanan ringan, Autan, kopi instan, bahkan pembalut tergantung. Sial, Mr. Parker mengumpat lagi.

Maka Mr. Parker mulai berharap. Jalan yang diambil manusia putus asa karena tak ada hal lain yang bisa kaulakukan selain itu. Mungkin ada beberapa hal lagi yang bisa Mr. Parker lakukan, tapi menurutnya itu juga tak membantu: pura-pura mati atau kejang-kejang, atau baiknya mengumpat saja? Meneriakkan umpatan yang membuatnya dianggap gila: baruak gadang, kalera (dengan huruf ‘A’ dibaca jelas dan huruf ‘R’ terdengar samar).

Mr. Parker tak melakukannya. karena setelah memikirkan umpatan—yang tak ia temukan—tiba-tiba saja ia mengingat bentuk jambul seorang teman lama. Benar, ini memang tak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang sedang tokoh kita alami. Namun pikiran kadang tak bisa dipercaya, kau berharap ia akan membawamu keluar dari masalah, namun kau malah terbawa jauh lebih dalam menuju lubang kebodohan, dan kebodohan tentu saja tak bermanfaat dalam situasi apa pun.

Saudara yang Budiman, kau boleh saja percaya atau tidak dengan cerita ini. Tapi seingatku, ketika aku melewati warung itu tiga jam yang lalu, tokoh kita ini, Mr. Parker, tampak bagai orang kehilangan harapan.  Kupikir, bagaimanapun setiap masalah pasti ada jalan keluar, namun aku tak bisa membayangkan Mr. Parker menyayat lengannya sendiri dengan pisau karatan pembuka bungkus Torabika itu.

 

Sungai Landia/ 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s