Malano dan Orang-orang Inggris yang Hidup di Hatinya

Aku mengenal Thom Yorke, sejauh yang kuingat, di suatu sore yang cemerlang dan aku bisa melihat dengan jelas tiupan angin menggugurkan daun suren dari tempatku duduk. Sore itu langit begitu cerah dan tak terdengar lagi berita tentang orang yang mati karena penyakit kelamin. Thom Yorke sedang menyanyikan lagu Creep versi akustik, yang entah karena alasan apa, di kemudian hari ia begitu membenci lagu tersebut sebagaimana halnya orang-orang di media sosial membenci satu sama lain karena pandangan politik yang berseberangan.

Jika kau tengah mengamati kami, kau tentu bisa melihat Malano, pria yang sebentar lagi mengenalkan Thom Yorke kepadaku, duduk dua meter dariku. Ia memandang jauh ke arah bukit Indah dengan raut muka penuh perhitungan, memikirkan beberapa hal yang sekiranya tak bisa ia jelaskan. Sebentar kemudian Malano menoleh ke arahku yang sedari tadi memperhatikannya dan itu membuatku sedikit gugup. Ia tersenyum kemudian membalikkan badan dan menjangkau sebuah kotak berisi puluhan kaset. Dengan ujung telunjuk kiri, ia meloloskan sebuah kotak kaset (ya, kaset. Jika kau ingin tahu, kaset adalah benda yang tak asing bagi manusia sebelum terciptanya tatanan dunia baru; dulu kau akan terpingkal-pingkal mendengar kata ‘powerbank’ atau ‘flashdisk’. Itu adalah masa di mana kaset begitu berharga dan orang-orang belum berteriak-teriak di jalanan menanggapi kenaikan harga daging sapi). Malano menyodorkan kotak kaset itu tepat di pangkal hidungku kemudian meneguk kopi.

“Dengarkan baik-baik, Anak Muda,” ucap Malano hati-hati. Aku menggeser posisi duduk dan melihat ampas hitam mengendap di dasar cangkir kopi yang baru saja disesap Malano. “Kau tahu siapa yang sedang bernyanyi?” tanya Malano. Aku menggeleng.

“Ia adalah pria yang sama dengan pria yang ada dalam kaset yang sedang kaupegang,” ujar Malano tenang. Aku pun mengalihkan pandangan pada kotak kaset yang tengah kugenggam. “Sebaiknya kau berkenalan dengan pria dalam kaset itu,” katanya. “Dan perlu kautahu, pria dalam kaset itu adalah orang Inggris.” Malano sengaja menekankan kata ‘orang Inggris’ karena menurutnya orang Inggris adalah orang-orang ajaib yang pernah diciptakan dan hidup di muka bumi kecuali Margaret Thatcher.

“Orang Inggris?”

“Orang Inggris, Anak Muda!” jawab Malano dan aku tahu Malano tidak bisa menyimpan senyum saat suasana hatinya sedang cerah berawan.

“John Lennon juga orang Inggris,” jawabku.

“Sir Isaac Newton juga.”

“Ratu Elizabeth, David Beckham, dua orang kuli angkut pasir di jorong Gantiang kabarnya juga keturunan orang Inggris,” kataku bergairah.

Malano tampak gusar dan aku tak tahu kenapa ia begitu. “Tampaknya kau belum mengerti maksudku, Anak Muda,” kata Malano tenang. “Bukan seperti itu maksudku.” Malano menyalakan rokok Class Mild lalu melentingkan batang korek api dengan jari tengah dan ibu jari kanannya. Wajahnya berubah serius. Kukira ia akan mengatakan sesuatu yang penting atau barangkali menjelaskan hal yang menurutnya tak kumengerti. Namun ia tak mengatakan apa pun. Ketika rokoknya hampir habis, ia akhirnya berkata dengan nada lelah: “Dengarkan saja, Anak Muda. Dengarkan saja.”

Aku mengikuti perintahnya. Memencet tombol stop pada tape, kemudian memencetnya sekali lagi yang membuat penutup kaset terbuka (aku selalu kagum pada tape yang memiliki kemampuan semacam itu). Aku memasukkan kaset yang tadi kupegang, mengatupkan penutup kaset kemudian memencet tombol play. Hening sejenak sebelum akhirnya lagu Packt Like Sardines In A Crushd Tin Box mengalun. Lagunya terdengar aneh karena tidak dimulai dengan dentuman drum atau petikan gitar, tapi diawali oleh bunyi-bunyi sekelompok pemuda mabuk yang memukul tiang listrik atau barangkali kaleng kerupuk.

Kau tahu, itu mungkin sore yang melelahkan bagi Malano yang masih kesal perihal orang Inggris yang tak kumengerti. Namun kau juga tahu, bagiku, itu adalah sore yang sama seperti sore yang sedang berlangsung: sore yang cemerlang dan aku bisa melihat jelas tiupan angin menggugurkan daun suren dari tempatku duduk sambil mendengarkan Thom Yorke bernyanyi.

Kau boleh menganggap itulah awal bagaimana aku mengenal Thom Yorke, yang pada hari-hari berikutnya aku mulai menjejali isi kepalaku dengan lirik yang tak kumengerti karena waktu itu aplikasi google translate belum setenar artis organ tunggal yang biasa berkunjung ke kampung kami dua atau tiga tahun sekali. Kukira semua hal yang terjadi—hal-hal baik dan hal-hal buruk yang ingin cepat kaulupakan—terjadi lewat sebuah perkenalan. Sama seperti perkenalanku dengan Thom Yorke (yang mana itu adalah hal baik). Kau akan mengalami berbagai hal: kau mungkin akan onani setelah mengenal film porno, kau mungkin akan menikah setelah mengenal seorang perempuan berkacamata yang fokus membaca buku di sebuah kafe sepi pengunjung, kau mungkin akan mengalami patah hati setelah ditinggalkan oleh istrimu, perempuan berkacamata yang fokus membaca buku di sebuah kafe sepi pengunjung, dan kau mungkin akan bunuh diri mengetahui perempuan yang kaunikahi meninggalkanmu karena ingin menjalani kehidupan kaum hippie.

Tentu saja kau akan merasa hidup setelah berkenalan dengan semua hal yang baru saja kusebutkan ataupun yang tak kusebutkan, yang mungkin bagimu hidup itu indah seperti suatu sore yang cemerlang dan kau bisa melihat dengan jelas tiupan angin menggugurkan daun suren dari tempatmu duduk, atau bagimu hidup itu hanya seperti jeda antara lagu Hunting Bears dan Like Spinning Plates di album Amnesiac-nya Radiohead.

–Untuk Hendry Nalla (Sungai Landia, 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s