Sebuah Cerita Tanpa Pesan Moral dan Tak Patut Dipercaya

Begitulah percakapan siang itu berhenti: aku mengatakan semoga kami bertemu lagi dan Yon menguap alih-alih menjawabnya. Janis Joplin sedang bernyanyi, diputar lewat ponsel. Dari liriknya, perempuan itu tanpa malu meminta pada Tuhan untuk membelikan sebuah Mercedes Benz dan sebuah televisi berwarna. Saat itu Yon sedang duduk di kursi plastik merah pudar tanpa menoleh kepadaku. Ia kemudian menekuri tangan kanannya yang dijatuhkan di atas lutut sambil menatap asap yang mengepul dari rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya seolah bisa menemukan sesuatu di sana. Badannya menghadap ke jendela. Di luar gerumbul rumput liar sedang berbunga. Bunganya seperti kapas dan rontok begitu dihembus angin. Aku akhirnya bangkit dan beranjak menuju pintu.

Untuk membuat cerita lebih menarik, esoknya Yon mengirimkan sebuah bungkusan serupa paket pengiriman barang kepadaku yang ia titipkan lewat seorang bocah laki-laki yang setiap sore rutin menangkap capung dengan getah nangka di belakang rumah. Aku membuka bungkusan itu dan menemukan barang-barang aneh di dalamnya: dua bongkah batu sebesar kelereng, papan nama—sepertinya nama seorang petugas beacukai atau kenalannya, busa pencuci piring yang berbentuk kue lapis dengan warna hijau dan kuning, sebuah botol minuman bersoda, tiga buah penjepit jemuran, dan album Coney Island Baby dari Lou Reed yang telah dipindahkan ke dalam sebuah CD, kemudian secarik kertas putih yang bertuliskan: AKU AKAN MENGAMBILNYA SEGERA SETELAH AKU KEMBALI. Aku mengumpat dalam hati, kenapa ia tak sekalian mengirimkan bokong pengendara ojek online, setumpuk koran harian yang menunggu diloakkan, sisa permen karet di bawah meja, atau apa pun yang akan membuatmu kesal. Kupikir itu adalah sebuah lelucon jelek. Tapi mengingat Yon memang agak aneh, kusimpan semua titipannya di bawah kolong lemari.

Harus kukatakan, bagaimanapun aku membencinya, mau tak mau aku mengangumi Yon. Mudah saja baginya untuk membuat sebuah keputusan, yang kadang tak masuk akal bahkan radikal. Aku benci bagaimana ia begitu sibuk dengan semua bacaannya dan sesekali menatapku seakan aku orang bodoh. Tentu saja ia miskin. Namun terkadang ada, seperti kata Albert Camus, semacam keangkuhan rohaniah yang membuatnya berpikir bahwa ia dapat bahagia tanpa uang. Pantas orang kampung menganggapnya gila.

Terakhir kali kami bertemu ia mengatakan ingin mendaki bukit dan tinggal di sana beberapa minggu. Sampai sekarang tak ada kabar apa pun darinya. Mungkin ia sudah dipatuk ular sendok atau diseruduk babi hutan atau dijadikan alat pemuas nafsu kaum halus penunggu bukit. Dua bulan berlalu dan aku masih tak tahu harus melakukan apa pun terhadap benda yang ditinggalkannya. Semuanya masih tersimpan dalam sebuah plastik, seperti plastik yang digunakan aparat untuk menyimpan barang bukti sebuah kasus.

Aku lantas aku mencari-cari alasan untuk membuangnya dan membenarkan apa yang akan kulakukan; suatu bentuk penyangkalan akan adanya Yon. Seperti yang tadi kukatakan, aku benci laki-laki sok itu. Jadi aku membakar semua barang titipannya di belakang rumah, kecuali busa pencuci piring dan album Lou Reed: tak ada salahnya jika kumanfaatkan.

Semua berjalan dengan sempurna dan aku seakan tak pernah mengenal Yon sebelumnya, hingga setahun yang lalu, tiba-tiba saja Yon muncul di depan rumahku dan meminta barang-barangnya dikembalikan. Kujawab kalau aku sudah tak menyimpannya karena kupikir itu adalah sebuah lelucon.

Dua detik berikutnya sebongkah tangan yang terkepal menghantamku tepat di kepala, dilanjutkan tendangan akrobat ke lambung. Aku kandas mencium lantai. Telingaku berdenging dan rasanya aku mau muntah.

“Jika kaupikir itu tak berguna, bukan berarti kau bisa membuangnya,” kata Yon datar. Ia kemudian meludah dan berbalik meninggalkanku yang terkapar di lantai seperti tai.

Hingga sekarang kami tak pernah bertemu lagi.

Sungai Landia (2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s