Proses | Franz Kafka

Entah kenapa, saya sangat menyukai bagian ini—bagian percakapan Josef K dengan seorang pendeta di sebuah katedral—yang sengaja saya ketik ulang, yang saya juga tidak tahu alasan kenapa melakukannya.

the-trial-proses-franz-kafka

Halaman 234-236 buku The Trial-PROSES oleh Sigit Susanto, yang diterjemahkannya dari novel Der Prozess, Franz Kafka.

…..

“Di pengantar buku hukum, tipu daya dijelaskan seperti ini: Di depan hukum, berdirilah seorang penjaga pintu. Seorang laki-laki dari desa datang menemui penjaga pintu itu dan minta izin untuk masuk menghadap hukum. Tapi penjaga pintu itu mengatakan bahwa ia tidak bisa mengizinkannya masuk sekarang. Orang desa itu berpikir dan bertanya apakah dia akan diperbolehkan masuk nanti. ‘Mungkin saja,’ jawab penjaga pintu, ‘tapi bukan sekarang.’ Karena pintu masuk menuju hukum itu selalu terbuka, seperti biasanya, dan penjaga pintu itu sedikit melangkah ke samping, orang desa itu membungkuk untuk melihat ke dalam pintu itu. Ketika penjaga pintu itu menyadarinya, dia tertawa dan berkata, ‘Kalau kau berhasrat sekali, cobalah masuk meskipun aku melarangmu. Tapi ingat, aku berkuasa. Dan aku hanyalah penjaga pintu yang kekuasaannya paling rendah. Dari satu ruang ke ruang lain, berdiri penjaga pintu yang kekuasaannya lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Ketika berhadapan dengan penjaga pintu ketiga, menatap sekalipun aku tak berani.’ Kesulitan-kesulitan seperti itu tak pernah terbayangkan oleh lelaki desa itu; hukum seharusnya bisa didapat oleh setiap orang dan setiap saat, pikirnya, tapi selagi saat ini dia mengamati dengan lebih jeli penjaga pintu yang mengenakan mantel bulu itu, mengamati hidung besarnya yang mancung dan jenggot Tar-tar-nya yang panjang, hitam, dan tipis, laki-laki itu memutuskan lebih baik ia menunggu sampai diizinkan masuk. Penjaga pintu itu memberinya dingklik dan mempersilakannya duduk di samping pintu. Di situlah dia duduk selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Dia sudah mencoba berkali-kali supaya diizinkan masuk dan membuat penjaga itu lelah mendengarkan permohonan-permohonannya. Penjaga pintu itu sesekali menginterogasi si orang desa, menanyakan kampung halamannya dan banyak pertanyaan apatis lainnya, namun itu jenis pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang besar, dan pada akhirnya penjaga pintu itu selalu berkata bahwa dia belum bisa memperbolehkan orang desa itu masuk. Orang desa itu, yang membawa banyak perbekalan untuk perjalanannya, memberikan semua perbekalan yang dimilikinya, tidak peduli betapa berharganya benda itu, untuk menyuap si penjaga pintu. Penjaga pintu itu menerima semua barang berharga itu sembari berkata, ‘Aku menerima semua ini hanya agar kau tidak berpikir kau melalaikan sesuatu.’ Selama bertahun-tahun, si orang desa memperhatikan penjaga pintu itu nyaris tanpa henti. Dia melupakan penjaga-penjaga pintu lainnya dan menganggap penjaga pintu pertama itu sebagai satu-satunya rintangan untuk menghadap hukum. Dia mengutuk keras nasib malangnya, begitu lantang pada tahun pertama dan selanjutnya, seiring bertambahnya usia, dia hanya bergumam pada dirinya. Orang desa itu menjadi kekanak-kanakan, dan selama bertahun-tahun yang ia lewatkan untuk mengamati penjaga pintu itu, ia bahkan mengenali kutu-kutu yang ada di kerah mantel bulunya, orang desa itu juga memohon pada kutu-kutu itu untuk membantunya membujuk penjaga pintu itu agar berubah pikiran. Akhirnya pandangannya mulai kabur dan dia tidak tahu apakah hari sudah benar-benar gelap atau matanya-lah yang memperdayanya. Tapi dalam kegelapan dia mengenali cahaya abadi berpendar dari pintu masuk menuju hukum. Dia tidak hidup lebih lama lagi. sebelum kematiannya, segala hal yang dia alami selama ini berkumpul di kepalanya membentuk satu pertanyaan yang sampai sekarang belum pernah dia tanyakan kepada penjaga pintu. Dia melambaikan tangan kepada penjaga pintu, karena tidak bisa lagi mengangkat tubuhnya yang kaku. Penjaga pintu itu harus membungkuk begitu rendah, karena perbedaan tinggi badan mereka sudah berubah, dan itu benar-benar merugikan bagi si orang desa. ‘Apa lagi yang masih ingin kauketahui?’ tanya penjaga pintu, ‘kau tidak pernah puas.’ ‘Semua orang berjuang demi hukum,’ kata orang itu, ‘bagaimana mungkin selama beberapa tahun ini tak seorang pun kecuali aku yang meminta izin masuk?’ penjaga pintu sadar bahwa orang desa itu sudah mendekati ajalnya, untuk menembus pendengarannya yang makin berkurang, penjaga pintu itu meraung kepada si orang desa, ‘Tak ada orang lain yang bisa mendapat izin masuk, karena pintu ini dimaksudkan hanya untukmu. Sekarang aku harus pergi dan menutup pintunya.’”

…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s