Film Trilogi Terbaik

Awalnya saya berencana untuk membuat daftar keinginan sebelum mati, misalnya: mati di usia muda setelah sebelumnya mengikuti tes CPNS, menjadi penyuluh pertanian, menerjemahkan novel berbahasa asing ke dalam bahasa Minang, dan seterusnya dan seterusnya. Alih-alih menjadi kenyataan, keinginan itu malah menguap pada suatu sore yang tak ingin saya ceritakan karena keterbatasan bahan dan kosakata. Maka jadilah ini: daftar film trilogi terbaik yang sudah saya tonton dan tentu saja saya sukai.

1. Trilogi Dollars A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), The Good, the Bad, and the Ugly (1966)

pagemmmmmbb

Director: Sergio Leone

Film western—sepatu boots yang pada bagian telapak dilengkapi dengan penggeret korek api, saloon, padang tandus, baku tembak, topi laken, semuanya ada di “Trilogi Dollars” garapan Sergio Leone, yang jelas sangat lihai menampilkan aksi-aksi koboi dengan dramatis.

Banyak yang menyatakan bahwa Leone melahirkan genre baru dalam perfilman: Spaghetti Western. Disebut demikian karena film yang mengambil seting old-west Amerika, namun gambarnya diambil di Italia. Pun sutradaranya adalah orang Italia. Karena itulah kata ‘Spaghetti’ ditambahkan di kata tersebut.

A Fistful of Dollars, yang juga terinspirasi dari film Yojimbo karya Akira Kurosawa, dimulai dengan seorang pria bernama Joe (Clint Eastwood) mendatangi suatu tempat di perbatasan Mexico yaitu San Miguel, kota yang diselimuti pertentangan antara dua kubu: keluarga Sheriff John Baxter (Wolfgang Lukschy) dan Rojo Bersaudara. Joe merasa bahwa situasi tersebut bisa membawa keuntungan baginya. Berdiri di tengah-tengah permusuhan tersebut dengan cara bergabung dengan kedua belah pihak, tentunya dengan cara yang cerdik.

For a Few Dollars More bercerita tentang dua orang koboi, Monco (Clint Eastwood) dan Kolonel Douglas Mortimer (Lee Van Cleef), yang bekerjasama untuk menangkap penjahat bernama El Indio dengan iming-iming hadiah $ 10.000. Mereka berpikir, untuk mengalahkan El Indio dan empat belas anak buahnya, harus ada yang menyusup dari dalam dan menjadi bagian dari kelompok bandit tersebut.

The Good, the Bad, and the Ugly ceritanya fokus pada tiga karakter sentral, yaitu The Good/ Blondie (Clint Eastwood), The Bad/ Angel Eyes (Lee Van Cleef) dan The Ugly/ Tuco (Eli Wallach). Ketiganya terlibat dalam pemburuan harta karun yang dipenuhi dengan intrik dan siasat. Menariknya, tidak ada yang benar-benar putih di film ini. Bahkan seorang Blondie yang berlabel “The Good” sekalipun adalah tokoh anti-hero.

2. Trilogi The GodfatherThe Goodfather (1972), The Goodfather Part II (1974), The Goodfather Part III (1990)

page

Director: Francis Ford Coppola

Ceritanya diadaptasi dari novel Mario Puzo dengan judul yang sama (kecuali The Godfather Part III) yang bercerita tentang sebuah keluarga mafia. The Godfather secara umum dianggap sebagai salah satu film yang paling berpengaruh, terutama dalam film berjenis Gangster.

The Godfather fokus bercerita pada transformasi Michael Corleone yang berasal dari luar keluarga yang kemudian menjadi bos mafia dengan menceritakan Corleone, yang sangat mengutamakan keluarga di atas segalanya, sebagai kepala keluarga Vito. Tak diragukan lagi, menurut saya, ini adalah seri yang paling mantap, terutama karakter Vito Corleone yang diperankan sangat baik oleh Marlon Brando—oh, ia adalah dewa film.

The Godfather: Part II. Di film ini ada dua cerita yang berjalan secara paralel, yaitu cerita tentang Michael (Al Pacino) yang meneruskan tugas sang ayah yang telah meninggal dan masa muda Vito (Robert De Niro diganjar Oscar dengan peran ini).

The Godfather: Part III, seperti setitik nila di belanga, menurut saya, hanya merusak dua film yang sudah ada.

3. Trilogi Colors – Blue (1993), White (1994), Red (1994)

pagej

Director: Krzysztof Kieslowski

Dinamakan ‘trilogi warna’ karena memang judul dan tema film ini mengambil tiga warna pada bendera Prancis: Biru melambangkan kebebasan (liberté), putih melambangkan kesetaraan (égalité) dan merah melambangkan persaudaraan (fraternité). Tiap film memiliki tema yang didasari dari salah satu makna warna tersebut bahkan sinematografinya dipengaruhi warna yang menjadi tema dasarnya.

Blue berjalan cukup depresif. Bercerita tentang Julie (Juliette Binoche), istri seorang komposer terkemuka yang tewas suami bersama puteri mereka dalam sebuah kecelakaan mobil. Julie kemudian memilih untuk melupakan masa lalunya namun ternyata tak mudah untuk lepas dari kenangan-kenangan tersebut begitu saja.

White bercerita tentang konflik suami istri: perceraian Karol (Zbigniew Zamachowski) dan istrinya, Dominique (Julie Delpy). Saya menyukai adegan di mana Karol, yang menggelandang dan tak punya apa-apa lagi, bertemu dengan seorang warga Polandia yang membantunya keluar dari Prancis dengan cara yang aneh.

Red berkisah tentang seorang model bernama Valentine (Irene Jacob), yang pada suatu hari, menabrak seekor anjing dan berinisiatif membawa anjing tersebut kepada pemiliknya, Joseph Kern (Jean-Louis Trintignant), seorang mantan hakim. Mereka akhirnya sering bertemu dan menjadi teman baik. Saya sangat menyukai bagian terakhir dari film ini.

4. Trilogi Batman Batman Begins (2005), The Dark Knight (2008), The Dark Knight Rises (2012)

pagedshkaj

Director: Christopher Nolan

Tanpa melupakan film-film Batman garapan Tim Burton, yang terkenal dengan gaya gothic dan noir,  Trilogi Batman garapan Christopher Nolan hadir sebagai film yang memukau tanpa melupakan kesan gelap khas karakter Batman. Menurut saya, Nolan membawa film-film sejenis (bertema superhero) ke tingkat yang lebih tinggi.

Batman Begins menggunakan plot dasar dari cerita Batman—masa awal kehidupan Batman, alter-ego Bruce Wayne (Christian Bale), yang bergabung dengan League of Shadows, kemudian menjadi musuh karena sebuah pertentangan. Dalam konfrontasi tersebut Bruce berhasil membunuh Ra’s Al Ghul dan kembali ke Gotham City dan dimulailah aksi Bruce Wayne sebagai Batman.

The Dark Knight, Bruce Wayne mulai menekuni kegiatan malamnya. Ia berteman dengan Komisaris Gordon (Gary Oldman) dan seorang Jaksa Wilayah bernama Harvey Dent (Aaron Eckhart). Sementara itu, Joker memasuki Gotham dan memulai kekacauan terhadap komunitas Gotham. Heath Ledger, pemeran Joker, sungguh luar biasa. Saya kadang berharap Joker bisa mengalahkan Batman saking menyukainya.

The Dark Knight Rises, menghadirkan Bane (Tom Hardy), seorang mantan anggota League of Shadows, yang ingin melanjutkan misi yang dulu gagal diusung. Namun Bruce Wayne, pada masa itu telah kehilangan semangat untuk menjadi superhero. Ia tampak berada dalam dilema psikologis yang pada akhirnya menjadi pertarungannya melawan diri sendiri.

5. Trilogi The Lord of the RingsThe Fellowship of the Ring (2001), The Two Towers (2002), The Return of the King (2003)

pagejjjj

Director: Peter Jackson

Kecuali calon manusia yang masih dalam bentuk sperma, saya kira hampir semua orang sudah tahu apa yang diceritakan oleh ketiga film ini yang ceritanya diadaptasi dari novel J.R.R. Tolkien. Bagian pertamanya kita berkenalan dengan para Hobbit termasuk Froddo Baggins (Elijah Wood) Froddo kemudian mendapatkan sebuah tugas yang berat sekaligus penting untuk membawa sebuah cincin yang diwariskan oleh sang paman. Cincin itu sendiri dahulu dibuat dan dimiliki oleh Sauron sang penguasa kegelapan. Meski raganya telah mati, jiwa Sauron masih berusaha untuk kembali bersatu dengan cincinnya. Untuk itulah Froddo dibantu para “Fellowship of the Rings” harus membawa cincin tersebut untuk kemudian dimunashkan di kawah Mordor.

Mungkin sudah menjadi ciri khas trilogi ini untuk menyajikan perang seru dengan skala besar, puluhan ribu prajurit, dan spesial efek dan skoring musik yang megah.

6. Trilogi BeforeBefore Sunrise (1995), Before Sunset (2004), Before Midnight (2013)

pagejk

Director: Richard Linklater

Ide pembuatan film ini, begitu yang saya baca, terinspirasi langsung dari kisah nyata sang sutradara. Before Sunrise adalah jelmaan dari kehidupan Linklater di dunia nyata ketika bertemu dengan Amy Lehrhaupt pada musim gugur tahun 1989 di Philadelphia.

Setelah Before Sunrise, Linklater butuh waktu sembilan tahun untuk melahirkan sekuelnya, Before Sunset. Linklater kemudian merampungkan trilogi ini lewat Before Midnight pada tahun 2013. Delapan belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merampungkan trilogi ini.

Ketiga film ini hanya menampilkan Ethan Hawke (Jesse) dan Julie Delpy (Celine) sebagai tokoh sentral dan hampir seluruh filmnya hanya diisi dengan dialog. Kau takkan bisa berharap adanya ruang untuk adegan pesawat meledak atau kaki Ethan Hawke dikunyah biawak. Wajar kalau banyak orang mengatakan trilogi ini membosankan, meskipun banyak juga yang menyukainya. Termasuk saya.

Jesse dan Celine memperlihatkan suatu hubungan yang kuat. Percakapan mereka menarik dan selalu ada bahan untuk dibicarakan. Bahkan ketika mereka diam, kau pun mau tak mau juga tertarik. Saya merekomendasikan adegan saat mereka mendengarkan lagu Come Here dari Kath Bloom yang diputar dari piringan hitam.

7. Trilogi Ocean’sOcean’s Eleven (2001), Ocean’s Twelve (2004), Ocean’s Thirteen (2007)

pageghf

Director: Steven Soderbergh

Dibintangi sederet aktor Hollywood papan atas: George Clooney, Brad Pitt, Matt Damon, Andy Garcia, Julia Roberts, Don Cheadle dan Casey Affleck, Catherine Zeta-Jones, dan Al Pacino. Film bergenre kriminal ini bercerita tentang sebelas orang dengan keahlian masing-masing melakukan pembagian kerja, perencanaan, eksekusi yang brilian dalam merampok. Tentu saja unsur komedi membuat film ini menjadi lebih menarik.

Ocean’s Eleven merupakan remake dari film Ocean’s 11 yang rilis tahun 1960. Secara umum, film ini menceritakan tentang aksi perampokan kasino milik Terry Benendict.

Ocean’s Twelve  Setelah mereka berhasil merampok kasino Terry Benendict, Terry muncul secara tiba-tiba dan meminta semua hasil curian mereka dikembalikan dengan tambahan bunga. Ocean’s terpaksa kembali melakukan pencurian sebuah barang berharga. Saya memuji komedi film ini, yang dengan luar biasa membuat adegan, Tess yang diperankan oleh Julia Roberts, harus berpura-pura menjadi Julia Roberts. Kau bisa membayangkan betapa konyolnya bagaimana seorang aktris berakting memerankan dirinya di kehidupan nyata.

Ocean’s Thirteen berawal dari Reuben Tishkoff (Elliott Gould) ditipu oleh rekan bisnisnya, Willy Bank (Al Pacino): dia dipaksa menandatangani hak kepemilikan hotel/ kasino baru yang mereka bangun bersama-sama hanya untuk dirinya sendiri. Hal itu menyebabkan Reuben terkena serangan jantung. Sekali lagi Ocean’s kembali beraksi dengan mengacaukan malam grand opening hotel dan kasino baru Willy Bank.

Jadi, seperti itulah, akhir dari daftar ini. Saya berniat untuk memasukkan film trilogi besutan Wong Kar-wai: Days of Being Wild (1990), In the Mood for Love (2000), dan 2046 (2004). Sayangnya saya belum menonton semuanya kecuali In the Mood for Love.

Beberapa bagian, seperti data film, saya ambil dari imdb.com 
dan dari beberapa blog yang saya kunjungi.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s