Setelah Membaca “24 Jam Bersama Gaspar”

Di dalam sebuah kamar, di samping meja kayu kecil, di atas kasur lipat tipis dan berbau keringat, tokoh kita ini duduk terbengong-bengong ketika menyelesaikan novel 24 Jam Bersama Gaspar. Ia lantas menyalakan rokok dan mulai memikirkan kemungkinan, dari caranya menjepit rokok di antara kedua sudut bibir, dirinya hampir menyerupai Tuan Clint Eastwood dalam salah satu film western kesukaannya. Untuk sesaat ia merasa senang dengan penilaiannya sendiri dan mulai tersenyum, hampir mendekati sebuah seringai jahat. Sebentar kemudian ia kembali memegang buku yang baru selesai dibacanya. Ia harus membuat beberapa catatan tentang buku ini, pikirnya kemudian. Namun ia tak tahu harus memulai dari mana.

Maka dalam rentang waktu yang sama dari azan magrib hingga datang waktu isya, ia tidur-tiduran, mendiamkan pikirannya sembari mendengarkan album Rid of Me dari PJ Harvey yang diputar lewat ponsel. Untuk beberapa hal yang tak perlu dipusingkan, kita harus menerima alasan dari tokoh kita ini melakukan hal tersebut.

Tepat ketika lagu Ecstasy berakhir, tokoh kita ini meraih laptop di atas meja kecil dan membukanya, memencet tombol power, dan menunggu dengan jengah layar menampilkan aplikasi Smadav berlalu. Sungguh menyebalkan, pikirnya. Ia mengikuti dorongan halus untuk merokok lagi dan membiarkan layar menampilkan gambar pemandangan yang sering ia lihat di kalender untuk beberapa saat. Setelah tujuh atau delapan hisapan, tokoh kita ini mengunci pandangannya ke taskbar dan mengklik logo Microsoft Office Word.

Sebuah cerita detektif, eh? gumamnya.

Tokoh kita ini menarik napas dalam-dalam kemudian menjentikkan abu rokok yang memanjang ke asbak. Lantas, bersama asap rokok yang mengambang di hadapannya, ia mulai mengetik apa yang ia pikirkan setelah membaca novel 24 Jam Bersama Gaspar. Alih-alih membuat catatan dalam bentuk narasi, ia membuatnya dalam bentuk deretan angka. Tentu saja, selain tulisannya cukup dangkal untuk dianggap sebagai sebuah ulasan, ketikannya juga tidak begitu baik (tampaknya tokoh kita ini tak ambil pusing dalam menempatkan koma atau titik atau penggunaan huruf kapital dalam sebuah tulisan; intinya ia tak begitu peduli dengan tanda baca dalam hidupnya). Mungkin beginilah bentuk catatan itu setelah sedikit disunting—harap dicatat: tanpa menghilangkan satu kata pun!

  1. Saya telah membaca buku sebelumnya dari pengarang buku ini dan merasakan satu bentuk alur cerita yang hampir sama: Jika pada buku sebelumnya cerita berawal dari sebilah sendok, maka di buku ini, cerita tertumpu pada sebuah kotak hitam. Tokoh-tokohnya pun menyenangkan, kecuali Bu Tati, tentu saja, sehingga tanpa disadari selama membaca saya berdoa agar pada akhirnya mereka berhasil melaksanakan kejahatan yang mereka rencanakan—atau Gaspar rencanakan.
    Petualangan (mari kita samakan persepsi: petualangan yang saya maksud bukan semacam mendaki gunung atau membiarkan kaki berkubang dalam lumpur atau bermain Russian Roulette dengan seorang habib) tokoh-tokohnya terasa begitu mengalir dengan kejadian yang ringan namun terasa tidak ringan. Bagaimana, ya, cara mengatakannya?
  1. Sampul buku ini cukup menarik hati walaupun teman saya, Tansarih, pernah memparafrasekan kalimat Shakespeare: Apalah arti sebuah sampul, katanya angkuh. Saya kira ia terlalu naif dan tak lupa saya mendoakan bisul pada dahi yang dideritanya empat hari belakangan segera meletus. Dan gambar. Ya, gambar pada beberapa halaman sangat membantu saya; awalnya agak susah membayangkan bentuk VN4F1F atau Koka itu seperti apa.
  2. Yang menggembirakan adalah gaya dan teknik bercerita dari pengarang (Anda akan merasakannya sendiri saat membaca sehingga saya tak perlu bersusah payah menjelaskannya). Jalan cerita dan dialog antar tokoh (saya juga tak perlu bersusah payah menjelaskannya; atau silakan baca sampul belakang buku ini—terdapat testimoni menarik di sana).
  3. Dalam beberapa bagian—untuk saya pribadi—novel ini mengingatkan saya pada beberapa hal:
    Misalnya ketika Gaspar sedang berhenti di lampu merah dan melihat sebuah datsun kuning, mengingatkan saya pada buku pengarang sebelumnya, Kamu dan temannya itu, seorang lelaki sialan yang tak mempunyai obsesi apa pun dalam hidupnya.
    Atau kalimat dalam buku ini: “Mengulang-ulang kegiatan yang sama dengan cara yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda,” mengingatkan saya pada sebuah kalimat dalam film yang pernah saya tonton bertahun-tahun yang lalu—tentu saja saya sudah lupa karena begitulah Tuhan menciptakan manusia.
    Atau di bagian akhir novel yang menggambarkan Gaspar tengah membonceng Agnes mengendarai Cortazar, mengingatkan saya pada salah satu adegan di film Fallen Angels, di mana pemeran utama laki-laki membonceng seorang perempuan di atas sepeda motor di suatu malam melewati sebuah terowongan dengan lampu-lampu. Sebatang rokok terselip di bibirnya sementara si perempuan memeluknya dari belakang. P.S. Semoga Wong Kar-wai hidup selamanya.
  1. Setelah membaca buku ini, saya kira tidak semua kejahatan adalah kejahatan adalah kejahatan.
  2. Bagian akhir pada buku ini bukanlah yang terbaik yang bisa diciptakan pengarang. Yah, kau tahulah, ini menurut saya sendiri karena setiap hal mempunyai setidaknya tiga sudut pandang: sudut pandang A, sudut pandang B, dan sudut pandang selain A dan B.
  3. Setelah membaca buku ini, meminjam tagline sebuah produk kecantikan yang membohongi umat manusia: Saya senang, suami senang! (Begitupula Arthur Harahap setelah membaca buku ini, saya kira, sehingga si gaek itu ia mau-maunya menuliskan kata pengantar).
  4. (Dibiarkan kosong)
  5. (Masih kosong)
  6. (Mungkin tokoh kita ini kehabisan kosakata)
  7. (Mungkin ia tertidur atau merokok)
  8. (Atau mungkin tidak)

Sengaja kolom nomor yang kosong tersebut tidak dihapus melainkan diberi keterangan agar, Saudaraku sekalian, tidak mengira itu adalah sebuah kesalahan. Memang begitulah tokoh kita membuatnya.

Advertisements

2 thoughts on “Setelah Membaca “24 Jam Bersama Gaspar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s