Waktu Makan Malam

Oleh: Russell Edson

Seorang pria tua sedang duduk di meja menunggui istrinya menghidangkan makan malam. Ia mendengar istrinya menggebuk panci yang menyebabkan tangannya terbakar. Dia membenci suara panci saat dipukuli, karena menyebabkan rasa sakit sedemikian rupa sehingga membuatnya ingin menimbulkan lebih banyak hal yang serupa. Dan ia pun mulai meninju wajahnya sendiri, dan buku-buku jarinya memerah. Betapa dia membenci buku-buku jari merah, warna yang menyala itu, lebih benci dari pada luka itu sendiri.

Ia mendengar istrinya menjatuhkan seluruh makanan di lantai dapur sambil mengumpat. Karena saat menentengnya benda itu membakar jempolnya. Ia mendengar garpu dan sendok, cangkir dan piring, semuanya menjerit sekaligus ketika mendarat di lantai dapur. Betapa dia membenci makan malam yang, setelah disiapkan, mulai membakar, dan seolah-olah itu tidak cukup, memekik dan bergemuruh saat mendarat di lantai, di tempat asalnya.

Ia meninju dirinya lagi dan jatuh ke lantai.

Ketika bangun lagi ia cukup marah, jadi ia kembali meninju dirinya dan merasa pusing. Rasa pusing membuatnya marah, dan karena itu dia mulai membenturkan kepalanya ke dinding, sambil berkata, sekarang pusinglah jika kau mau pusing. Ia pun merosot ke lantai.

Oh, kaki, eh? . . . Ia pun mulai menghajar kakinya. Ia telah memberi pelajaran pada kepalanya dan sekarang dia akan memberi pelajaran pada kakinya.

Sementara itu, ia dengar istrinya menghancurkan alat makan yang tersisa dan alat makan itu mengaum dan menjerit.

Ia lihat dirinya di cermin dinding. Oh, bisakah kau meniruku. Maka ia menghantam cermin itu dengan sebuah kursi, yang patah. Oh, tidak mau jadi kursi lagi; terlalu bagus untuk diduduki, eh? Dia mulai menghancurkan potongan-potongan kursi.

Ia mendengar istrinya menghantam kompor dengan kapak. Ia berseru, kapan kita makan malam? saat menjejalkan lilin ke dalam mulutnya.

Saat aku sudah baikan dan siap, pekik istrinya.

Mau kupukul sanggulmu? teriaknya.

Mendekatlah dan aku akan menendang biji matamu keluar dari kepala.

Akan kupotong telingamu!

Akan kuberi kau sebuah tamparan tepat di wajah!

Akan kuhancurkan kau menjadi potongan!

Pria tua itu akhirnya memakan salah satu tangannya. Wanita tua itu berkata, bodoh banget, kenapa engga memasaknya dulu? Kamu kayak binatang—kamu tahu aku harus menundukkan dapur setiap malam, jika tidak maka ia akan memasak dan menghidangkanku pada tikus di porselen terbaikku. Dan kau tahu penyantap kecil itu; selanjutnya akan datang lalat, dan betapa aku membenci lalat di dapurku.

Si pria tua menelan sendok. Oke, kata wanita tua itu, sekarang sendok kita berkurang.

Pria tua itu, yang kian marah, menelan dirinya sendiri.

Nah, kata istrinya, sekarang kamu sudah melakukannya.

***

(Terjemahan bebas dan asal-asalan dari cerpen Russell Edson, Dinner Time)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s