Poldi

Kutemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi, seekor anak kucing yang datang padaku tak lama setelah kau memutuskan untuk pergi.

Rasanya seperti mimpi. Aku mengambang di udara seperti gelembung busa dan dengan jelas melihat diriku sendiri: tertelungkup mencium muntahan dan kotoran yang sudah mengering. Aku terlihat menyedihkan dan itu membuatku tak betah. Rasanya aku ingin lekas bangun, menyeduh kopi atau membaca buku atau apalah, kalau bisa melupakanmu. Namun alam bawah sadar terlalu kuat menahanku.

Lalu terdengar suara ketukan. Seseorang memanggil namaku dan kembali memanggil namaku. Suaranya yang serak bergantian dengan ketukan pada daun pintu. Aku—dalam keadaan yang masih mengambang—menjawab, namun anehnya, tak satu pun suara yang keluar dari mulutku. Apakah sekarang aku masih bermimpi? Selanjutnya ketukan itu berubah menjadi gedoran demi gedoran.

Tiba-tiba pintu rumah sudah didobrak. Tiga orang lelaki masuk sambil menutup mulut dengan telapak tangan dan menemukan tubuhku di ruang tengah. Wajah mereka seketika mengerinyit melihat tubuh pucat, terlalu pucat hingga kelihatan membiru, dan nyaris membusuk. Salah seorang dari mereka lantas membuka jendela dan yang lainnya hanya diam saling berpandangan sebelum akhirnya seseorang di antara mereka berkata, “beritahu orang-orang!”

Apa yang terjadi? Pikirku. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi sekarang?

Lalu aku mulai berteriak. Lagi-lagi tak satu pun suara yang keluar dari mulutku. Orang-orang mulai berdatangan bersama bisik-bisik dan bunyi ketukan di lantai. Lima orang dari mereka mulai menggotong tubuhku. Kurang ajar betul, mereka memperlakukan tubuhku seperti memperlakukan seekor bangkai dan teriakanku agar mereka berhenti masih sama: tak berarti apa-apa.

Tak ada gunanya berteriak. Aku bagai setoples acar yang tak bisa apa-apa selain pasrah memandangi mereka memperlakukan tubuhku selayaknya menyelenggarakan jenazah. Hingga mereka mengusung tubuhku ke pandam pekuburan suku Chaniago, aku menyadari—atau menerima kenyataan—kalau aku tidak sedang bermimpi. Aku telah mati.

Di pekuburan, orang-orang tak terlihat sedih, barangkali juga tak merasa kehilangan. Tak ada celutuk tentang kebaikan semasa hidup kecuali komentar-komentar rendah: “Ah, kasihan sekali. Malang betul nasibnya,” sambil berharap prosesi pemakaman lekas usai. Tak ada airmata, kecuali airmata engkau yang kini meraung-raung mencakar tanah basah. Untuk apa tangismu hari ini, Sayang? Karena malam itu kau tak begini; wanita hangat yang seketika berubah menjadi sosok sedingin es yang kemudian membekukanku. Benar-benar membekukanku.

Ingatkah engkau malam itu? Ketika berlalu di hadapanku yang berdiri terpaku di depan pigura yang tergantung di dinding ruang tamu: foto kau mencium tanganku setelah ijab kabul pernikahan kita, foto kau tersenyum dengan toga di kepala berlatar belakang deretan buku setebal ensiklopedi—tentu saja itu bukan buku betulan, dan ada kaligrafi ayat kursi yang dilukis dengan warna kuning emas. Kau berjalan tergesa-gesa, menenteng tas di lengan kanan sambil menarik koper secara serampangan dengan tangan kiri. Malam itu hujan menyerbu atap rumah kita, seakan Tuhan tahu bahwa akan ada perpisahan. Bodohnya, aku bingung harus bagaimana, sebab sia-sia segala usaha mencegahmu pergi, namun aku juga tak ingin kau kehujanan. Aku masih mematung ketika kau menutup pintu tanpa menoleh lagi. Meninggalkanku sendiri bersama aroma bunga lili, aroma parfum yang menguar dari lipatan bajumu.

Bagaimana bisa kau meninggalkanku? Benar-benar meninggalkanku seperti seekor anjing sehabis buang tai. Karena sungguh, aku tak bisa apa-apa tanpamu: aku tak mengerti cara menggunakan mesin cuci; tak cakap merapikan seprai; tak terbiasa menyetrika baju; tak cekatan  menyiapkan sarapan dan jarang memberi makan ikan yang memang menjadi tugasku seperti kesepakatan kita sebelumnya. Tak bisakah kau bersabar sedikit lebih lama menahan desakan orangtuamu yang jenuh menunggu lantaran terlanjur ingin menimang cucu? Andaikan bisa, sudah kuberikan kau anak lima, tujuh, atau berapa pun. Namun sabarmu tak ada lagi tersisa untukku.

 “Malu aku, Uda,” katamu. “Tak tahu di mana harus kusurukkan kepala mendengar gunjingan tetangga.” Suaramu bergetar, lebih meyakinkan diri sendiri alih-alih bicara kepadaku. Kau menyelipkan helaian rambut yang jatuh di pipimu ke belakang telinga sambil terus membungkuk mengemasi pakaian sementara aku duduk di tepi ranjang memandangimu. “Cairanmu tak kental dan itu tidak cukup untuk memberikanku seorang anak.”

“Begitukah yang kaudengar?”

“Aku juga mendengar bisik-bisik kalau penismu tak bisa berdiri, jika kau ingin tahu.”

“Tapi kau tahu kalau itu tidak benar. Kata dokter—-”

“Uda. Aku akan pergi,” katamu meraih kotak perias wajah di atas meja kecil dekat lemari pakaian.

Tak ada yang bisa kulakukan. Aku tak tahu harus berkata apa lagi saat melihat api di matamu. Tiba-tiba aku merasa sangat iri pada Leman Acin, yang walau sepertiga hidupnya dihabiskan menghisap rokok, ia mampu memberi Jamilah lima orang anak. Peringatan merokok dapat menyebabkan impotensi tak berarti apa pun baginya dan andai saja Jamilah tak mengeluh, mungkin sekarang anak mereka sudah sembilan. Aku sendiri—seperti yang kautahu—tak pernah menghisap rokok barang sebatang. Aku bahkan menolak tawaran rokok dari pria berpeci yang datang ke rumah sebagai sirih undangan pernikahan walau untuk sekedar berbasa-basi. Malam itu, aku hanya memandangimu penuh harap agar kau berhenti dan perlahan menghampiriku. Kita duduk bersebelahan saling menggenggam tangan dan mungkin kau akan berkata, “malam ini adalah malam yang paling buruk dari semua malam, maafkan aku.” Kemudian kubayangkan kau mengikat rambut, bergegas ke dapur menyiapkan makan malam. Aku mengikutimu dari belakang, duduk di kursi meja makan tanpa berkata apa-apa sambil berusaha melupakan seolah tak terjadi apa pun sebelumnya.

Bayangan itu tak pernah tak terjadi serupa omong kosong semua pembual di warung kopi. Semua harapan itu hanya sebentar menggantung di udara kemudian lenyap begitu saja oleh kemarahanmu.

“Kumohon, bisakah kau berhenti?” kataku mengiba. Kau tertegun sejenak lalu menatapku. Memberiku tatapan menyalahkan, tatapan yang sama ketika aku tak sengaja memecahkan piring hadiah pernikahan kita dari orangtuamu.

“Uda, sebaiknya memang seperti ini dulu. Aku akan pergi ke rumah orangtuaku di Pekanbaru untuk sementara waktu,” katamu sambil berbalik memunggungiku.

“Kapan kau kembali?”

“Aku belum tahu.”

Jawabanmu yang dingin menyadarkanku bahwa kau tak akan kembali. Satu yang kutahu: di matamu kulihat bahwa kau masih mencintaiku. Apalah arti cinta jika pada akhirnya kita harus saling melepaskan—atau kau yang ingin melepaskan diri? Aku masih ingat dulu kita kita tak begini. Dulu kita bahagia. Di pesta pernikahan, di antara tamu yang datang, kita berharap resepsi cepat selesai agar kau bisa melepas suntiang yang membebani kepalamu, dan lebih dari itu, agar kita bisa segera menghabiskan malam pertama. Bercinta di antara kado yang bertumpuk di lantai, disaksikan jejeran gelas-gelas kaca di lemari.

“Apa nama yang bagus untuk anak kita nanti?” tanyaku ketika itu.

“Poldi,” jawabmu cepat. Agak aneh karena baru kali itu kudengar nama Poldi. Dan kau berkata lagi, “tak peduli apakah dia lelaki atau perempuan, anak pertama kita akan kuberi nama Poldi.”

“Poldi?”

“Ya, Poldi. Dalam bahasa Jerman, Poldi berarti orang yang paling berani,” katamu tak acuh sambil melepas ikat rambut. Rambutmu tergerai hingga menyentuh pinggang seperti rambut seorang putri kerajaan di masa lalu.

“Kau ingin kita punya anak berapa?” tanyaku lagi.

“Kau tahu kita pernah membahas ini sebelumnya.”

“Aku ingin kita kembali membahas hal itu karena sekarang sepertinya aku tak yakin apakah cukup hanya mempunyai dua orang anak denganmu.”

“Jangan macam-macam, ya! Kita sudah sepakat kalau—” Saat itu aku sudah memelukmu. Saking eratnya, rasanya aku bisa memelukmu hingga engkau hancur menjadi butiran pasir.

***

Lalu tiga tahun berlalu tanpa terasa. Meskipun begitu, waktu yang menggiring kita tak membuat kita lupa bahwa kita masih menunggu kedatangan Poldi.

“Atau baiknya kita ke dokter saja? Sepertinya ramuan yang disarankan Tek Jorah—air rebusan buah mahkota dewa yang diminum dua kali sehari—tak menunjukkan gejala apa pun,” katamu. Awalnya aku tak mau. Aku terlalu takut dengan kenyataan yang tengah menanti: salah satu dari kita dianggap tidak subur secara medis. Tapi karena tak ingin mengecewakannmu, akhirnya kita ke dokter juga. Kata dokter tidak ada yang tak mungkin kalau kita selalu berusaha disertai doa—dan keajaiban. Malamnya, kita menangis, dan bersama airmata yang jatuh kau berjanji akan tetap mencintaiku.

Sudahkah kau lupa janjimu malam itu? Karena empatpuluh hari telah berlalu semenjak kau pergi, kau belum jua kembali. Kukuatkan hati menanti ‘pergi sementara waktu’ seperti yang kaujanjikan. Karena sementara waktu adalah sementara waktu dan sementara waktu tidak akan berlangsung selamanya. Empat puluh hari lagi lalu empat puluh hari lagi lalu empat puluh hari setelahnya. Aku sudah tak peduli berapa lama lagi harus menunggu.

Jika kau ingin tahu, banyak hal yang berubah semenjak kau pergi. Bunga-bunga di halaman tak pernah disiram. Dapur tak terurus. Aku malas mencuci dan menyetrika baju, buat apa melakukan itu karena bagaimanapun pakaian akan kotor dan kusut lagi. Sudah lima hari aku tak pernah mematikan televisi. Aku mulai lupa bau aroma parfum bunga lilimu—kadang hal itu membuatku ingin menangis. Dua ekor ikan peliharaan kita mengapung di akuarium karena tak pernah kuberi makan. Dan kau mungkin juga mendengar kabar kalau Pak Etek Gindo meninggal dalam tidurnya disebabkan paru-paru basah yang dideritanya setahun terakhir. Dan entah dari mana, seekor anak kucing datang dan tidur dalam lemari. Lalu pada suatu malam aku bermimpi didatangi oleh seorang peri. Ia mengenakan gaun putih, wajahnya meneduhkan hati setiap kali memandangnya dan rambutnya sama seperti rambutmu, hitam dan bergelombang hingga menyentuh pinggang. Lama ia menatapku sebelum tertawa, dan di tengah tawanya yang masih berlangsung, ia berubah menjadi seekor burung yang paruhnya mengeluarkan liur serupa cairan kental, kemudian terbang melewati lubang ventilasi. Paginya aku memutuskan untuk merokok. Setidaknya aku tak harus iri lagi pada Leman Acin. Kukatakan ini padamu karena aku sudah tak peduli; sebab aku terlalu marah dan tak tertarik lagi pada kehidupan.

Sudah hampir lima bulan semenjak kau pergi, hanya saja sekarang ada Poldi. Masihkah kau ingat Poldi? Nama anak pertama kita yang kini kuberikan pada seekor anak kucing yang datang ke rumah. Seekor anak kucing belang tiga yang lebih banyak menatapku dengan pandangan sedih walaupun beberapa kali ia pernah tersenyum. Mengapa kau belum jua kembali? Bukankah kau selalu menginginkan Poldi?

Hari-hariku sekarang dihabiskan bersamanya. Poldi, anak kucing belang tiga itu, sungguh setia. Ia tak pernah meninggalkanku bahkan tak pernah keluar rumah. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi anakku sendiri. Maka aku pun memperlakukannya seperti seorang anak. Aku tidur dengannya dan sebelum tidur aku akan bercerita padanya: mengisahkan cerita itik buruk rupa, menceritakan legenda Bujang Sambilan, dan aku selalu tak menuntaskan ceritaku, membiarkan kisahnya menggantung agar Poldi penasaran, persis seperti Syahrazad, seorang permaisuri yang setiap malam menceritakan kisah agar kepalanya tak dipenggal Sang Raja esok paginya. Hingga pada suatu hari aku diserang demam dan aku tak cukup kuat untuk melakukan apa pun selain mengerang dan menggigil saat kulitku bertemu dengan lantai yang sedingin es. Kepalaku terasa pening, dan kadang aku mengalami semacam disorientasi terhadap sesuatu: aku melihat Poldi tiba-tiba berubah menjadi sosokmu, engkau yang begitu kurindukan.

***

Kutemukan diriku terbaring. Aku menemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri. Aku menemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi. Aku menemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi, seekor anak kucing yang datang kepadaku. Aku menemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi, seekor anak kucing yang datang kepadaku tak lama setelah kau memutuskan untuk pergi.

Poldi sekarang baik-baik saja, setelah membunuhku, dengan kotoran yang menyebabkanku mati karena toxoplasma. (*)

Sungai Landia (2016)

**Cerita ini dimuat dalam antalogi cerpen “Kasam”, Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat, 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s