Jalan Raya

Sebatang coklat yang terselip di saku samping ransel seorang bocah perempuan terjatuh ketika ia menyeberang jalan. Bocah perempuan itu melangkah tersuruk-suruk di belakang, berusaha menyamai langkah sembari mencoba meraih ujung baju ibunya yang ingin cepat sampai di pelataran parkir, di lantai bawah gedung tiga tingkat yang berada di sisi kanan jalan. Saat itu pukul sebelas lewat duapuluh menit. Udara panas dan berdebu dan kering.

Sepersekian detik setelah coklat itu jatuh, seorang sopir yang tengah mengemudikan angkot dengan kecepatan sedang, menginjak rem perlahan lalu membunyikan klakson lalu mengoper persneling. Matanya terbiasa melihat sesuatu dari jauh. Ia bisa langsung mengetahui benda itu adalah sebatang coklat yang baru saja jatuh dari ransel seorang bocah perempuan. Gema bunyi klaskson masih berngiang di telinganya. Sebatang coklat di badan jalan, pikirnya, terdengar seperti judul sesuatu.

Saat itu pukul sebelas lewat duapuluh satu menit. Udara panas dan berdebu dan kering. Jarak antara angkot dan coklat itu semakin ringkas. Sisa waktu yang dibutuhkan angkot untuk sampai ke coklat adalah waktu yang menentukan bagi sang sopir; apakah ia memutuskan untuk melindas coklat tersebut atau tidak. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s