Film Trilogi Terbaik

Awalnya saya berencana untuk membuat daftar keinginan sebelum mati, misalnya: mati di usia muda setelah sebelumnya mengikuti tes CPNS, menjadi penyuluh pertanian, menerjemahkan novel berbahasa asing ke dalam bahasa Minang, dan seterusnya dan seterusnya. Alih-alih menjadi kenyataan, keinginan itu malah menguap pada suatu sore yang tak ingin saya ceritakan karena keterbatasan bahan dan kosakata. Maka jadilah ini: daftar film trilogi terbaik yang sudah saya tonton dan tentu saja saya sukai.

1. Trilogi Dollars A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), The Good, the Bad, and the Ugly (1966)

pagemmmmmbb

Director: Sergio Leone

Film western—sepatu boots yang pada bagian telapak dilengkapi dengan penggeret korek api, saloon, padang tandus, baku tembak, topi laken, semuanya ada di “Trilogi Dollars” garapan Sergio Leone, yang jelas sangat lihai menampilkan aksi-aksi koboi dengan dramatis.

Banyak yang menyatakan bahwa Leone melahirkan genre baru dalam perfilman: Spaghetti Western. Disebut demikian karena film yang mengambil seting old-west Amerika, namun gambarnya diambil di Italia. Pun sutradaranya adalah orang Italia. Karena itulah kata ‘Spaghetti’ ditambahkan di kata tersebut. Continue reading

Malano dan Orang-orang Inggris yang Hidup di Hatinya

Aku mengenal Thom Yorke, sejauh yang kuingat, di suatu sore yang cemerlang dan aku bisa melihat dengan jelas tiupan angin menggugurkan daun suren dari tempatku duduk. Sore itu langit begitu cerah dan tak terdengar lagi berita tentang orang yang mati karena penyakit kelamin. Thom Yorke sedang menyanyikan lagu Creep versi akustik, yang entah karena alasan apa, di kemudian hari ia begitu membenci lagu tersebut sebagaimana halnya orang-orang di media sosial membenci satu sama lain karena pandangan politik yang berseberangan.

Jika kau tengah mengamati kami, kau tentu bisa melihat Malano, pria yang sebentar lagi mengenalkan Thom Yorke kepadaku, duduk dua meter dariku. Ia memandang jauh ke arah bukit Indah dengan raut muka penuh perhitungan, memikirkan beberapa hal yang sekiranya tak bisa ia jelaskan. Sebentar kemudian Malano menoleh ke arahku yang sedari tadi memperhatikannya dan itu membuatku sedikit gugup. Ia tersenyum kemudian membalikkan badan dan menjangkau sebuah kotak berisi puluhan kaset. Dengan ujung telunjuk kiri, ia meloloskan sebuah kotak kaset (ya, kaset. Jika kau ingin tahu, kaset adalah benda yang tak asing bagi manusia sebelum terciptanya tatanan dunia baru; dulu kau akan terpingkal-pingkal mendengar kata ‘powerbank’ atau ‘flashdisk’. Itu adalah masa di mana kaset begitu berharga dan orang-orang belum berteriak-teriak di jalanan menanggapi kenaikan harga daging sapi). Malano menyodorkan kotak kaset itu tepat di pangkal hidungku kemudian meneguk kopi. Continue reading

Apa yang Dibicarakan Semut Ketika Mereka Berpapasan?

Mengapa ayam menyeberang jalan? Apakah wanita usia dewasa lebih memilih pria yang mulai mengalami krisis kepercayaan diri, misalnya masalah kebotakan, atau lebih memilih pria yang seumur hidupnya selalu mencukur kumis dan jenggot setiap pagi? Bagaimana cara bertahan hidup di Alaska agar tak berakhir seperti Alexander Supertramp di film Into The Wild? Banyak, jika kau ingin tahu, terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Namun semua hal itu biasanya tak berputar terlalu lama dalam kepala. Sekitar dua-sepuluh detik kemudian saya seperti tak memikirkan apa-apa dan melupakannya begitu saja. Namun tidak dengan hal ini: Apa yang dilakukan—atau yang dibicarakan—semut pada saat mereka berhenti sejenak ketika berpapasan dengan semut lainnya?

Di kamar, ada secangkir kopi yang sudah dingin, rokok murahan karena tak cukup mampu membeli rokok Amerika setiap hari, komputer jinjing, gitar (senar tiganya putus), poster Kurt Cobain, lukisan Starry Night Van Gogh yang diunduh dari internet berukuran dua lembar kertas A4 menempel di lemari, dan dua buku fiksi yang belum selesai dibaca tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Continue reading

Eternal Sunshine of The Spotless Mind

Ternyata menyenangkan bisa merenungkan sesuatu saat waktu terasa berhenti dan tak pergi ke mana-mana. Misalnya saat sedang hujan: tak tahu harus pergi ke mana atau melakukan apa selain berada di rumah sambil menyaksikan rintik hujan dan selapis kabut tipis dari balik jendela. Kemudian semua kenangan-kenangan yang sudah mengendap bertahun-tahun atau beberapa bulan belakangan muncul ke permukaan serupa kayu yang dilemparkan ke sebuah telaga. Tenggelam sebentar, sesaat kemudian mengambang di permukaan pikiran dan mau tak mau kau harus memikirkannya karena dia memang berada di sana. Continue reading