Journal

Pertama Kali Mengenal John Lennon

Siang tadi, sesampainya di rumah, saya sengaja memutar lagu-lagu John Lennon/ Plastic Ono Band untuk mengenang John Lennon setelah paginya membaca artikel tentang kematiannya: Hari ini, tepat 37 tahun yang lalu, Lennon meninggal setelah diserobot peluru yang dilepaskan Mark David Chapman. Saya malah ketiduran dan hampir melewatkan salat Jumat andai adik tidak membangunkan saya. Saya sebenarnya susah dibangunkan, namun juga mempunyai ketakutan kalau adik saya itu bakal menyulut alis saya dengan puntung rokok jika tak segera bangkit.

Saya kembali mengingat-ingat kapan kali pertama saya mengenal John Lennon: kelas dua Aliyah, kalau tidak salah, dan tentu saja lewat The Beatles. Terlambat memang, sebab setahu saya, banyak hal menjadi tidak menarik setelah kelas dua Aliyah; Guru PPKn, misalnya, atau pelajaran yang mengandung pesan moral yang terlalu dibuat-buat, atau cara kerja mesin fotokopi. Continue reading “Pertama Kali Mengenal John Lennon”

Advertisements
Cerita Pendek, Journal

Malano dan Orang-orang Inggris yang Hidup di Hatinya

Aku mengenal Thom Yorke, sejauh yang kuingat, di suatu sore yang cemerlang dan aku bisa melihat dengan jelas tiupan angin menggugurkan daun suren dari tempatku duduk. Sore itu langit begitu cerah dan tak terdengar lagi berita tentang orang yang mati karena penyakit kelamin. Thom Yorke sedang menyanyikan lagu Creep versi akustik, yang entah karena alasan apa, di kemudian hari ia begitu membenci lagu tersebut sebagaimana halnya orang-orang di media sosial membenci satu sama lain karena pandangan politik yang berseberangan.

Jika kau tengah mengamati kami, kau tentu bisa melihat Malano, pria yang sebentar lagi mengenalkan Thom Yorke kepadaku, duduk dua meter dariku. Ia memandang jauh ke arah bukit Indah dengan raut muka penuh perhitungan, memikirkan beberapa hal yang sekiranya tak bisa ia jelaskan. Sebentar kemudian Malano menoleh ke arahku yang sedari tadi memperhatikannya dan itu membuatku sedikit gugup. Ia tersenyum kemudian membalikkan badan dan menjangkau sebuah kotak berisi puluhan kaset. Dengan ujung telunjuk kiri, ia meloloskan sebuah kotak kaset (ya, kaset. Jika kau ingin tahu, kaset adalah benda yang tak asing bagi manusia sebelum terciptanya tatanan dunia baru; dulu kau akan terpingkal-pingkal mendengar kata ‘powerbank’ atau ‘flashdisk’. Itu adalah masa di mana kaset begitu berharga dan orang-orang belum berteriak-teriak di jalanan menanggapi kenaikan harga daging sapi). Malano menyodorkan kotak kaset itu tepat di pangkal hidungku kemudian meneguk kopi. Continue reading “Malano dan Orang-orang Inggris yang Hidup di Hatinya”

Cerita Pendek, Journal

Apa yang Dibicarakan Semut Ketika Mereka Berpapasan?

Mengapa ayam menyeberang jalan? Apakah wanita usia dewasa lebih memilih pria yang mulai mengalami krisis kepercayaan diri, misalnya masalah kebotakan, atau lebih memilih pria yang seumur hidupnya selalu mencukur kumis dan jenggot setiap pagi? Bagaimana cara bertahan hidup di Alaska agar tak berakhir seperti Alexander Supertramp di film Into The Wild? Banyak, jika kau ingin tahu, terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Namun semua hal itu biasanya tak berputar terlalu lama dalam kepala. Sekitar dua-sepuluh detik kemudian saya seperti tak memikirkan apa-apa dan melupakannya begitu saja. Namun tidak dengan hal ini: Apa yang dilakukan—atau yang dibicarakan—semut pada saat mereka berhenti sejenak ketika berpapasan dengan semut lainnya?

Di kamar, ada secangkir kopi yang sudah dingin, rokok murahan karena tak cukup mampu membeli rokok Amerika setiap hari, komputer jinjing, gitar (senar tiganya putus), poster Kurt Cobain, lukisan Starry Night Van Gogh yang diunduh dari internet berukuran dua lembar kertas A4 menempel di lemari, dan dua buku fiksi yang belum selesai dibaca tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Continue reading “Apa yang Dibicarakan Semut Ketika Mereka Berpapasan?”