Film Trilogi Terbaik

Awalnya saya berencana untuk membuat daftar keinginan sebelum mati, misalnya: mati di usia muda setelah sebelumnya mengikuti tes CPNS, menjadi penyuluh pertanian, menerjemahkan novel berbahasa asing ke dalam bahasa Minang, dan seterusnya dan seterusnya. Alih-alih menjadi kenyataan, keinginan itu malah menguap pada suatu sore yang tak ingin saya ceritakan karena keterbatasan bahan dan kosakata. Maka jadilah ini: daftar film trilogi terbaik yang sudah saya tonton dan tentu saja saya sukai.

1. Trilogi Dollars A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), The Good, the Bad, and the Ugly (1966)

pagemmmmmbb

Director: Sergio Leone

Film western—sepatu boots yang pada bagian telapak dilengkapi dengan penggeret korek api, saloon, padang tandus, baku tembak, topi laken, semuanya ada di “Trilogi Dollars” garapan Sergio Leone, yang jelas sangat lihai menampilkan aksi-aksi koboi dengan dramatis.

Banyak yang menyatakan bahwa Leone melahirkan genre baru dalam perfilman: Spaghetti Western. Disebut demikian karena film yang mengambil seting old-west Amerika, namun gambarnya diambil di Italia. Pun sutradaranya adalah orang Italia. Karena itulah kata ‘Spaghetti’ ditambahkan di kata tersebut. Continue reading

Advertisements

Sarajevo*

Sahabatku Zoran,
adalah contoh pemandu terbaik yang pernah ada
tak ada yang lebih baik darinya

Hari ini ia membawa ayahnya
pergi menyeberangi persimpangan jalan terbuka
ayahnya selalu berkata: “nak, mari kita berlomba,
lihat ke sebuah bukit,
mereka tak bisa menembakku

Zoran adalah pantomim hebat
dan saat ia tertembak
dia jatuh seperti seorang seniman
dia menyukai U2, Levis 501, dan Kafka

Istirahatlah dalam damai, teman**

*Saya tak tahu judulnya sehingga menggunakan judul sendiri
**dialihbahasakan dari salah satu narasi dalam film Twice Born (2012)

Sing Street (2016): Sebuah Perayaan Atas Mimpi-mimpi

SingStreet28201629image12

This is life, Conor. Drive it like you stole it. (Brendan Lalor)

***

Bagaimana seandainya jika dalam kehidupan manusia tak mempunyai impian. Hal itu membuat saya bertanya-tanya. Jadi sebenarnya hidup ini untuk apa? Apakah impian hanya untuk anak SD yang bercita-cita menjadi guru, dokter, pilot, dan astronot, lalu secara perlahan waktu memudarkan semua impian itu, terkubur bersama tahi dan omong kosong tentang realistis. Siapa yang ingin jadi pilot? Orang yang tak bisa melakukan apa pun akan menjadi guru, dan siapa yang ingin jadi astronot di masa sekarang? Continue reading

Cinema Paradiso (1988): Kenangan, Persahabatan, dan Pencarian Jati Diri

1990-cinema-paradiso-poster1

Seandainya setiap orang di dunia hanya boleh menonton sepuluh film selama hidupnya, saya tak ragu dan tak menyesal samasekali untuk memasukkan film Cinema Paradiso ke dalam 10 list film yang akan saya tonton. Begitu hebatnya film yang disutradarai oleh Giuseppe Tornatore buat saya. Ceritanya sederhana: tentang seseorang pembuat film (Salvatore) yang teringat masa kecil di kampung halamannya di kota Sisilia (Italia Selatan). Sebuah bioskop bernama Cinema Paradiso yang berdiri di tengah alun-alun kota mengingatkannya pada berbagai hal. Continue reading

Di Balik Film ‘Cobain: Montage of Heck’ (2015)

kurt-cobain-montage-of-heck

Baru saja selesai menonton film dokumenter tentang vokalis favorit saya. Kurt Cobain. Cobain: Montage of Heck, sebuah film dokumenter karya Brett Morgen, dengan produser eksekutifnya Frances Bean Cobain, putri Kurt Cobain sendiri. Majalah Rolling Stone mengomentari film ini: You’re left completely emotionally spent. Continue reading

Movie: Deux Jours, Une Nuit (2014)

Two Days One Night Poster

Banyaknya film Amerika atau film Hollywood yang beredar di Indonesia baik di bioskop maupun di website yang begitu mudah untuk didownload membuat selama ini saya terfokus pada film-film dengan efek canggih dan aksi yang dahsyat itu. Sehingga saya tidak tahu kalau begitu banyak film-film bagus dengan biaya produksi yang rendah yang tidak kalah bagus dalam sisi cerita. Misalnya film-film Eropa. Jujur saya pertama kali mengenal film Eropa ketika mengetahui The Artist sukses menjadi film terbaik di Academy Awards tahun 2011. Dan sensasinya memang jelas terasa berbeda dengan film Hollywood. Jika film Hollywood adalah film entertaiment, maka film Eropa menurut saya adalah film seni. Semenjak itu saya mulai menonton film-film Eropa. Dan semalam saya baru saja selesai menonton film Prancis, Deux Jours, Une Nuit atau Two Days One Night dalam bahasa Inggris. Continue reading

Movie: Jackie and Ryan (2014)

jackie ryan

“Sometimes people just come through to tell you something and…

then once you heard it, they go.”

Ini adalah salah satu film yang saya tonton yang awalnya hanya berniat untuk menghabiskan waktu luang namun ternyata film ini malah di luar ekspektasi saya (sebagai penonton, bukan kritikus)—in the good way, of course. Continue reading