Waktu Makan Malam

Oleh: Russell Edson

Seorang pria tua sedang duduk di meja menunggui istrinya menghidangkan makan malam. Ia mendengar istrinya menggebuk panci yang menyebabkan tangannya terbakar. Dia membenci suara panci saat dipukuli, karena menyebabkan rasa sakit sedemikian rupa sehingga membuatnya ingin menimbulkan lebih banyak hal yang serupa. Dan ia pun mulai meninju wajahnya sendiri, dan buku-buku jarinya memerah. Betapa dia membenci buku-buku jari merah, warna yang menyala itu, lebih benci dari pada luka itu sendiri.

Ia mendengar istrinya menjatuhkan seluruh makanan di lantai dapur sambil mengumpat. Karena saat menentengnya benda itu membakar jempolnya. Ia mendengar garpu dan sendok, cangkir dan piring, semuanya menjerit sekaligus ketika mendarat di lantai dapur. Betapa dia membenci makan malam yang, setelah disiapkan, mulai membakar, dan seolah-olah itu tidak cukup, memekik dan bergemuruh saat mendarat di lantai, di tempat asalnya.

Ia meninju dirinya lagi dan jatuh ke lantai. Continue reading

Proses | Franz Kafka

Entah kenapa, saya sangat menyukai bagian ini—bagian percakapan Josef K dengan seorang pendeta di sebuah katedral—yang sengaja saya ketik ulang, yang saya juga tidak tahu alasan kenapa melakukannya.

the-trial-proses-franz-kafka

Halaman 234-236 buku The Trial-PROSES oleh Sigit Susanto, yang diterjemahkannya dari novel Der Prozess, Franz Kafka.

…..

“Di pengantar buku hukum, tipu daya dijelaskan seperti ini: Di depan hukum, berdirilah seorang penjaga pintu. Seorang laki-laki dari desa datang menemui penjaga pintu itu dan minta izin untuk masuk menghadap hukum. Tapi penjaga pintu itu mengatakan bahwa ia tidak bisa mengizinkannya masuk sekarang. Orang desa itu berpikir dan bertanya apakah dia akan diperbolehkan masuk nanti. ‘Mungkin saja,’ jawab penjaga pintu, ‘tapi bukan sekarang.’ Karena pintu masuk menuju hukum itu selalu terbuka, seperti biasanya, dan penjaga pintu itu sedikit melangkah ke samping, orang desa itu membungkuk untuk melihat ke dalam pintu itu. Ketika penjaga pintu itu menyadarinya, dia tertawa dan berkata, ‘Kalau kau berhasrat sekali, cobalah masuk meskipun aku melarangmu. Tapi ingat, aku berkuasa. Dan aku hanyalah penjaga pintu yang kekuasaannya paling rendah. Dari satu ruang ke ruang lain, berdiri penjaga pintu yang kekuasaannya lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Ketika berhadapan dengan penjaga pintu ketiga, menatap sekalipun aku tak berani.’ Kesulitan-kesulitan seperti itu tak pernah terbayangkan oleh lelaki desa itu; hukum seharusnya bisa didapat oleh setiap orang dan setiap saat, pikirnya, tapi selagi saat ini dia mengamati dengan lebih jeli penjaga pintu yang mengenakan mantel bulu itu, mengamati hidung besarnya yang mancung dan jenggot Tar-tar-nya yang panjang, hitam, dan tipis, laki-laki itu memutuskan lebih baik ia menunggu sampai diizinkan masuk. Continue reading

Tiket Lotere

Oleh Anton Chekov

Ivan Dmitritch, seorang pria kelas menengah tinggal bersama keluarganya dengan pendapatan seribu dua ratus setahun dan sangat puas dengan kapling*nya, duduk di sofa sehabis makan malam dan mulai membaca koran.

“Aku lupa melihat koran hari ini,” ujar istrinya sembari membersihkan meja. “Lihat dan perhatikan apakah daftar undian ada di sana.”

“Ya, memang ada,” kata Ivan Dmitritch; “tapi bukankah tiket undianmu hilang?”

“Tidak; aku memasangnya hari Selasa.”

“Berapa nomornya?”

“Seri 9.499, nomor 26.”

“Baiklah… akan kita lihat… 9.499 dan 26.”

Ivan Dmitritch tak meyakini untung-untungan lotre, dan tak akan, seperti sebuah aturan, setuju untuk melihat daftar nomor-nomor pemenang. Tapi sekarang, karena tak ada hal lain untuk dikerjakan dan koran itu kini di depan matanya, ia mengurut jarinya turun di sepanjang kolom nomor-nomor. Dan segera, sambil berpikir dalam ejekan skeptisnya, tak lebih dari baris kedua dari atas, matanya menangkap sosok 9.499! Tak percaya pada penglihatannya, ia buru-buru menjatuhkan koran di lutut tanpa berusaha melihat nomor tiket, dan, seolah seseorang mengucurkan air es padanya, ia merasakan sesuatu yang dingin menyenangkan di perut; geli dan mengerikan dan manis!

“Masha, 9.499! katanya dengan suara hampa. Continue reading

Suatu Hari

Oleh Gabriel García Márquez

Senin menjelang dengan hangat dan tanpa hujan. Aurelio Escovar, seorang dokter gigi tanpa gelar, dan seorang yang bangun sangat pagi, membuka kantornya pukul enam. Ia mengambil beberapa gigi palsu yang masih terpasang dalam cetakan gips, mengeluarkannya dari kotak kaca dan meletakkannya di atas meja seperangkat alat yang telah ia susun berdasarkan nomor pesanan, serupa pajangan. Ia mengenakan kemeja bergaris tanpa kerah, pada leher ditutup dengan kancing emas, dan celana yang ditahan dengan bretel. Dia tegap dan kurus, dengan tampilan yang jarang sesuai dengan situasi, sebagaimana tampilan orang tuli.

Ketika mendapati barang-barang sudah tertata di atas meja, ia menggeser bor ke arah bangku kerja dan duduk untuk memoles gigi palsu. Ia tampak tak memikirkan apa yang sedang ia kerjakan, tapi terus bekerja, memompa bor dengan kakinya, bahkan ketika ia tak perlu melakukannya.

Lewat pukul delapan ia berhenti sejenak untuk memandang langit lewat jendela, dan melihat dua ekor elang termangu berjemur di bawah sinar mentari di atas bubungan rumah sebelah. Ia lanjut bekerja dengan gagasan bahwa hujan akan turun lagi sebelum makan siang. Continue reading