Setelah Membaca “24 Jam Bersama Gaspar”

Di dalam sebuah kamar, di samping meja kayu kecil, di atas kasur lipat tipis dan berbau keringat, tokoh kita ini duduk terbengong-bengong ketika menyelesaikan novel 24 Jam Bersama Gaspar. Ia lantas menyalakan rokok dan mulai memikirkan kemungkinan, dari caranya menjepit rokok di antara kedua sudut bibir, dirinya hampir menyerupai Tuan Clint Eastwood dalam salah satu film western kesukaannya. Untuk sesaat ia merasa senang dengan penilaiannya sendiri dan mulai tersenyum, hampir mendekati sebuah seringai jahat. Sebentar kemudian ia kembali memegang buku yang baru selesai dibacanya. Ia harus membuat beberapa catatan tentang buku ini, pikirnya kemudian. Namun ia tak tahu harus memulai dari mana.

Maka dalam rentang waktu yang sama dari azan magrib hingga datang waktu isya, ia tidur-tiduran, mendiamkan pikirannya sembari mendengarkan album Rid of Me dari PJ Harvey yang diputar lewat ponsel. Untuk beberapa hal yang tak perlu dipusingkan, kita harus menerima alasan dari tokoh kita ini melakukan hal tersebut.

Tepat ketika lagu Ecstasy berakhir, tokoh kita ini meraih laptop di atas meja kecil dan membukanya, memencet tombol power, dan menunggu dengan jengah layar menampilkan aplikasi Smadav berlalu. Sungguh menyebalkan, pikirnya. Ia mengikuti dorongan halus untuk merokok lagi dan membiarkan layar menampilkan gambar pemandangan yang sering ia lihat di kalender untuk beberapa saat. Setelah tujuh atau delapan hisapan, tokoh kita ini mengunci pandangannya ke taskbar dan mengklik logo Microsoft Office Word.

Sebuah cerita detektif, eh? gumamnya. Continue reading

Advertisements

Pagi Seorang Lelaki Muda

Aku telah melalui banyak hal dalam hidup, dan sekarang,  kurasa aku telah menemukan apa yang diperlukan demi kebahagiaan. Hidup terpencil di negeri yang tenang ini, dengan kemungkinan berguna bagi orang-orang yang biasa berbuat baik, dan yang tidak terbiasa untuk menerima hal tersebut. Dan berusaha agar harapan mana pun akan dapat berguna. Kemudian istirahat, alam, buku, musik, dan mencintai sesama. Itu adalah sumber kebahagiaan bagiku. Kemudian, di atas segalanya, kau mencari pasangan, dan mungkin anak-anak. Apalagi yang diinginkan oleh hati seorang pria? (Family Happiness – Lev Nikolayevich Tolstoy)

***

Inilah yang terjadi pagi itu, suatu pagi di akhir bulan Juni: seorang perempuan bergaun putih mengambang seperti Superman-di-hadapan-Lois-Lane di depan jendela kamar seorang lelaki muda.

Tak ada yang tahu pasti sudah berapa lama ia seperti itu. Namun sang lelaki muda, yang masih merasakan kantuk berat, mau tak mau terbangun ketika mendengar kepak sepasang sayap sang perempuan. Jika ini terdengar terlalu aneh, ada baiknya kita sebut saja perempuan bergaun putih dan bersayap itu bidadari. Continue reading