Malano dan Orang-orang Inggris yang Hidup di Hatinya

Aku mengenal Thom Yorke, sejauh yang kuingat, di suatu sore yang cemerlang dan aku bisa melihat dengan jelas tiupan angin menggugurkan daun suren dari tempatku duduk. Sore itu langit begitu cerah dan tak terdengar lagi berita tentang orang yang mati karena penyakit kelamin. Thom Yorke sedang menyanyikan lagu Creep versi akustik, yang entah karena alasan apa, di kemudian hari ia begitu membenci lagu tersebut sebagaimana halnya orang-orang di media sosial membenci satu sama lain karena pandangan politik yang berseberangan.

Jika kau tengah mengamati kami, kau tentu bisa melihat Malano, pria yang sebentar lagi mengenalkan Thom Yorke kepadaku, duduk dua meter dariku. Ia memandang jauh ke arah bukit Indah dengan raut muka penuh perhitungan, memikirkan beberapa hal yang sekiranya tak bisa ia jelaskan. Sebentar kemudian Malano menoleh ke arahku yang sedari tadi memperhatikannya dan itu membuatku sedikit gugup. Ia tersenyum kemudian membalikkan badan dan menjangkau sebuah kotak berisi puluhan kaset. Dengan ujung telunjuk kiri, ia meloloskan sebuah kotak kaset (ya, kaset. Jika kau ingin tahu, kaset adalah benda yang tak asing bagi manusia sebelum terciptanya tatanan dunia baru; dulu kau akan terpingkal-pingkal mendengar kata ‘powerbank’ atau ‘flashdisk’. Itu adalah masa di mana kaset begitu berharga dan orang-orang belum berteriak-teriak di jalanan menanggapi kenaikan harga daging sapi). Malano menyodorkan kotak kaset itu tepat di pangkal hidungku kemudian meneguk kopi. Continue reading

Pecundang yang Bahkan Tak Tahu Urutan Lagu Dalam Album Good As I Been To You-nya Bob Dylan

Kau tak perlu membayar tagihan listrik atau cicilan bulanan mesin pendingin makanan atau mengurus asuransi kesehatan dan kau tentu tak butuh pekerjaan setelah menerima surat pemberhentian secara tidak hormat dari atasan karena bolos kerja dengan membuat alasan tak masuk akal: kau dirawat di rumah sakit karena harus menjalani operasi pemotongan usus halus sepanjang 40 senti sebagaimana yang disarankan dokter ahli pemotongan organ tubuh dan berharap masih bisa mendapatkan gaji pokok bulanan dan sedikit uang santunan dari tempatmu bekerja. Begitulah malam itu, kau mengumpat-ngumpat dalam hati sambil terus berjalan menuju toko minuman, mengeluarkan dan menghitung uang receh yang tersisa di sakumu untuk membeli sebotol bir dingin. Kau menenggak minuman diselingi hisapan rokok mild sembari berjalan ke arah sungai, tempat di mana kau pernah menenggelamkan teman baikmu di dasarnya bersama lima bongkah batu bata yang kauikat ke badannya. Alih-alih merasa bersalah, kau malah bersulang dengan bulan mengingat peristiwa itu.

Udara malam semakin dingin dan kepalamu terasa berat. Kau pun merasa tua seolah sudah hidup selama dua ratus tahun. Lantas kau pulang ke rumah dalam keadaan terhuyung-huyung seperti baru habis naik bianglala dengan kecepatan dua detik per putaran selama tujuh belas menit. Sampai di rumah kau mendobrak pintu depan namun tak terjadi apa-apa lalu kau mulai marah dan mendobraknya sekali lagi dan tetap tak ada apa pun yang terjadi. Dengan amarah yang mulai mendidih bersama alkohol yang berpiuh dalam kepalamu, kau menendang pintu sehabis tenaga dan mendapati dirimu terjengkang dua detik berikutnya. Continue reading

Sarajevo*

Sahabatku Zoran,
adalah contoh pemandu terbaik yang pernah ada
tak ada yang lebih baik darinya

Hari ini ia membawa ayahnya
pergi menyeberangi persimpangan jalan terbuka
ayahnya selalu berkata: “nak, mari kita berlomba,
lihat ke sebuah bukit,
mereka tak bisa menembakku

Zoran adalah pantomim hebat
dan saat ia tertembak
dia jatuh seperti seorang seniman
dia menyukai U2, Levis 501, dan Kafka

Istirahatlah dalam damai, teman**

*Saya tak tahu judulnya sehingga menggunakan judul sendiri
**dialihbahasakan dari salah satu narasi dalam film Twice Born (2012)

Dua Ribu Perak

Kunduik meneguk kopi, lalu sembari meletakkan cangkir kopi ke tatakan, ia menanyakan berapa belanjanya di warung itu. “Mau ke mana dia?” pikir Mr. Parker karena melihat kopi yang dipesan Kunduik belum benar-benar habis.

“Bakwan—tiga, kopi—sekerat, kerupuk ubi—dua, dan pisang,” ujar Kunduik pada pemilik warung, meruntut apa saja yang sudah ia makan. Kunduik mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu kemudian mengelap mulut seakan mulutnya digenangi minyak goreng.

Mr. Parker menatap cangkir kopinya. Belum habis setengah. Ia mengedarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain pemilik warung yang tak terlalu akrab dengannya, bahkan untuk memulai pembicaraan pun Mr. Parker merasa segan. Kunduik menerima uang kembalian lalu menoleh pada Mr. Parker dan berkata: “Maaf, aku duluan. Ada urusan penting.”

Mr. Parker berpikir keras. Bagaimana cara membayar kopi dan dua buah bakwan yang terlanjur ia makan, mengingat isi sakunya tinggal dua ribu perak. Ia mengutuk Kunduik—atau dirinya sendiri. Mengapa ia menerima ajakan Kunduik duduk di warung itu. Awalnya ia pikir, Kunduik berniat mentraktir kopi karena habis menang judi. Dalam kondisi normal, terlalu kecil peluang Kunduik berbaik hati. Apa lagi alasan yang tepat kalau ia tak menang judi? Continue reading

Apa yang Dibicarakan Semut Ketika Mereka Berpapasan?

Mengapa ayam menyeberang jalan? Apakah wanita usia dewasa lebih memilih pria yang mulai mengalami krisis kepercayaan diri, misalnya masalah kebotakan, atau lebih memilih pria yang seumur hidupnya selalu mencukur kumis dan jenggot setiap pagi? Bagaimana cara bertahan hidup di Alaska agar tak berakhir seperti Alexander Supertramp di film Into The Wild? Banyak, jika kau ingin tahu, terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Namun semua hal itu biasanya tak berputar terlalu lama dalam kepala. Sekitar dua-sepuluh detik kemudian saya seperti tak memikirkan apa-apa dan melupakannya begitu saja. Namun tidak dengan hal ini: Apa yang dilakukan—atau yang dibicarakan—semut pada saat mereka berhenti sejenak ketika berpapasan dengan semut lainnya?

Di kamar, ada secangkir kopi yang sudah dingin, rokok murahan karena tak cukup mampu membeli rokok Amerika setiap hari, komputer jinjing, gitar (senar tiganya putus), poster Kurt Cobain, lukisan Starry Night Van Gogh yang diunduh dari internet berukuran dua lembar kertas A4 menempel di lemari, dan dua buku fiksi yang belum selesai dibaca tergeletak begitu saja di sudut ruangan. Continue reading

Lelaki Penghitung Detik

Suaranya terdengar sekilas. Sebuah getaran sesaat, tak bisa diulangi lagi. (Yang Sudah Hilang – Pramoedya Ananta Toer)

***

Ia selalu menghitung setiap detik yang terlewat. Lalu, ia memutuskan untuk berhenti.

Selanjutnya, detik-detik berlalu bagaikan sebuah kehampaan yang panjang. Kehampaan itu terulur, seakan tiada pernah habis seperti seutas pita yang keluar dari mulut seorang pesulap. Laki-laki itu merasa takjub, ternyata mereka bisa bertahan selama itu. Tak mengucap sepatah kata pun seperti orang bisu. Ia ingin mengatakan sesuatu—apa pun itu untuk memecah keheningan yang kian terasa menyesakkan—namun kembali mengurungkan niat.

Pikirannya kini fokus pada suara yang tak ia sadari sebelumnya: suara napas yang tak teratur namun terdengar menenangkan. Laki-laki itu bisa membayangkan kalau seseorang itu tengah berbaring dalam selimut tipis sambil menghadap dinding kamar, sedangkan tangan kirinya terjulur melewati sisi tempat tidur seperti papan lompatan di sebuah kolam renang. Continue reading