Sebuah Cerita Tanpa Pesan Moral dan Tak Patut Dipercaya

Begitulah percakapan siang itu berhenti: aku mengatakan semoga kami bertemu lagi dan Yon menguap alih-alih menjawabnya. Janis Joplin sedang bernyanyi, diputar lewat ponsel. Dari liriknya, perempuan itu tanpa malu meminta pada Tuhan untuk membelikan sebuah Mercedes Benz dan sebuah televisi berwarna. Saat itu Yon sedang duduk di kursi plastik merah pudar tanpa menoleh kepadaku. Ia kemudian menekuri tangan kanannya yang dijatuhkan di atas lutut sambil menatap asap yang mengepul dari rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya seolah bisa menemukan sesuatu di sana. Badannya menghadap ke jendela. Di luar gerumbul rumput liar sedang berbunga. Bunganya seperti kapas dan rontok begitu dihembus angin. Aku akhirnya bangkit dan beranjak menuju pintu.

Untuk membuat cerita lebih menarik, esoknya Yon mengirimkan sebuah bungkusan serupa paket pengiriman barang kepadaku yang ia titipkan lewat seorang bocah laki-laki yang setiap sore rutin menangkap capung dengan getah nangka di belakang rumah. Aku membuka bungkusan itu dan menemukan barang-barang aneh di dalamnya: dua bongkah batu sebesar kelereng, papan nama—sepertinya nama seorang petugas beacukai atau kenalannya, busa pencuci piring yang berbentuk kue lapis dengan warna hijau dan kuning, sebuah botol minuman bersoda, tiga buah penjepit jemuran, dan album Coney Island Baby dari Lou Reed yang telah dipindahkan ke dalam sebuah CD, kemudian secarik kertas putih yang bertuliskan: AKU AKAN MENGAMBILNYA SEGERA SETELAH AKU KEMBALI. Aku mengumpat dalam hati, kenapa ia tak sekalian mengirimkan bokong pengendara ojek online, setumpuk koran harian yang menunggu diloakkan, sisa permen karet di bawah meja, atau apa pun yang akan membuatmu kesal. Kupikir itu adalah sebuah lelucon jelek. Tapi mengingat Yon memang agak aneh, kusimpan semua titipannya di bawah kolong lemari. Continue reading