Melihat-lihat Apartemen

Oleh: Montasser Al-Qaffash

Cerita dimulai dengan sebuah panggilan telepon dari Muhsin. Ia menemukan sebuah apartemen di sekitaran Nil. Harganya termasuk dalam biaya yang kuanggarkan. Aku langsung menolak saat mengetahui apartemen tersebut dekat dengan penjara Tora. Aku juga menaruh curiga karena harganya sangat murah. “Kau tidak akan kehilangan apa pun jika datang melihatnya.” Aku telah mendengar pernyataan ini sedemikian rupa sehingga  kupikir aku tidak akan memperoleh apa-apa selain melihat apartemen dan membayangkan diriku tinggal di sana. Kuputuskan untuk pergi lantaran ini adalah apartemen pertama yang ditawarkan Muhsin untuk ditunjukkan kepadaku—dia telah mendengar sebagian besar cerita tentang apartemenku.

Aku tiba tepat waktu. Bukannya aku terbiasa tepat waktu, tapi lalu lintas di sepanjang kornis* secara tak terduga, mengalir dengan sangat lancar sehingga seorang penumpang di angkot terus berkata, “Ada apa?”—tak yakin dengan jawaban penumpang lain, mengomentari mereka: “Yang pasti, ada sesuatu yang lain,” tanpa menambahkan jawaban yang berbeda.

Aku turun dari angkot. “Bangunan ketiga setelah penjara, lalu lurus ke depan,” seperti yang dijelaskan Muhsin dengan cara seolah alamat itu adalah sepotong kue. Namun aku merasa tak enak saat membayangkan harus mengulangi penjelasan semacam ini kepada tamu, merasa berkewajiban untuk berbagi tawa setiap kali dia berlagak takut dengan penjara. Aku berdiri di depan pintu gedung. Aku bertemu seorang pria mengenakan jelaba** putih, gaun longgar tradisional, keluar dengan dua kursi plastik di tangan. “Saya Ismail. Mari, kita duduk di kornis.” Dia berkata dengan penuh semangat dan begitu Continue reading

Advertisements

Poldi

Kutemukan diriku terbaring di atas muntahanku sendiri dan di antara kotoran Poldi, seekor anak kucing yang datang padaku tak lama setelah kau memutuskan untuk pergi.

Rasanya seperti mimpi. Aku mengambang di udara seperti gelembung busa dan dengan jelas melihat diriku sendiri: tertelungkup mencium muntahan dan kotoran yang sudah mengering. Aku terlihat menyedihkan dan itu membuatku tak betah. Rasanya aku ingin lekas bangun, menyeduh kopi atau membaca buku atau apalah, kalau bisa melupakanmu. Namun alam bawah sadar terlalu kuat menahanku.

Lalu terdengar suara ketukan. Seseorang memanggil namaku dan kembali memanggil namaku. Suaranya yang serak bergantian dengan ketukan pada daun pintu. Aku—dalam keadaan yang masih mengambang—menjawab, namun anehnya, tak satu pun suara yang keluar dari mulutku. Apakah sekarang aku masih bermimpi? Selanjutnya ketukan itu berubah menjadi gedoran demi gedoran.

Tiba-tiba pintu rumah sudah didobrak. Tiga orang lelaki masuk sambil menutup mulut dengan telapak tangan dan menemukan tubuhku di ruang tengah. Wajah mereka seketika mengerinyit melihat tubuh pucat, terlalu pucat hingga kelihatan membiru, dan nyaris membusuk. Salah seorang dari mereka lantas membuka jendela dan yang lainnya hanya diam saling berpandangan sebelum akhirnya seseorang di antara mereka berkata, “beritahu orang-orang!” Continue reading

Waktu Makan Malam

Oleh: Russell Edson

Seorang pria tua sedang duduk di meja menunggui istrinya menghidangkan makan malam. Ia mendengar istrinya menggebuk panci yang menyebabkan tangannya terbakar. Dia membenci suara panci saat dipukuli, karena menyebabkan rasa sakit sedemikian rupa sehingga membuatnya ingin menimbulkan lebih banyak hal yang serupa. Dan ia pun mulai meninju wajahnya sendiri, dan buku-buku jarinya memerah. Betapa dia membenci buku-buku jari merah, warna yang menyala itu, lebih benci dari pada luka itu sendiri.

Ia mendengar istrinya menjatuhkan seluruh makanan di lantai dapur sambil mengumpat. Karena saat menentengnya benda itu membakar jempolnya. Ia mendengar garpu dan sendok, cangkir dan piring, semuanya menjerit sekaligus ketika mendarat di lantai dapur. Betapa dia membenci makan malam yang, setelah disiapkan, mulai membakar, dan seolah-olah itu tidak cukup, memekik dan bergemuruh saat mendarat di lantai, di tempat asalnya.

Ia meninju dirinya lagi dan jatuh ke lantai. Continue reading

Sebuah Cerita Tanpa Pesan Moral dan Tak Patut Dipercaya

Begitulah percakapan siang itu berhenti: aku mengatakan semoga kami bertemu lagi dan Yon menguap alih-alih menjawabnya. Janis Joplin sedang bernyanyi, diputar lewat ponsel. Dari liriknya, perempuan itu tanpa malu meminta pada Tuhan untuk membelikan sebuah Mercedes Benz dan sebuah televisi berwarna. Saat itu Yon sedang duduk di kursi plastik merah pudar tanpa menoleh kepadaku. Ia kemudian menekuri tangan kanannya yang dijatuhkan di atas lutut sambil menatap asap yang mengepul dari rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya seolah bisa menemukan sesuatu di sana. Badannya menghadap ke jendela. Di luar gerumbul rumput liar sedang berbunga. Bunganya seperti kapas dan rontok begitu dihembus angin. Aku akhirnya bangkit dan beranjak menuju pintu.

Untuk membuat cerita lebih menarik, esoknya Yon mengirimkan sebuah bungkusan serupa paket pengiriman barang kepadaku yang ia titipkan lewat seorang bocah laki-laki yang setiap sore rutin menangkap capung dengan getah nangka di belakang rumah. Aku membuka bungkusan itu dan menemukan barang-barang aneh di dalamnya: dua bongkah batu sebesar kelereng, papan nama—sepertinya nama seorang petugas beacukai atau kenalannya, busa pencuci piring yang berbentuk kue lapis dengan warna hijau dan kuning, sebuah botol minuman bersoda, tiga buah penjepit jemuran, dan album Coney Island Baby dari Lou Reed yang telah dipindahkan ke dalam sebuah CD, kemudian secarik kertas putih yang bertuliskan: AKU AKAN MENGAMBILNYA SEGERA SETELAH AKU KEMBALI. Aku mengumpat dalam hati, kenapa ia tak sekalian mengirimkan bokong pengendara ojek online, setumpuk koran harian yang menunggu diloakkan, sisa permen karet di bawah meja, atau apa pun yang akan membuatmu kesal. Kupikir itu adalah sebuah lelucon jelek. Tapi mengingat Yon memang agak aneh, kusimpan semua titipannya di bawah kolong lemari. Continue reading

Tiket Lotere

Oleh Anton Chekov

Ivan Dmitritch, seorang pria kelas menengah tinggal bersama keluarganya dengan pendapatan seribu dua ratus setahun dan sangat puas dengan kapling*nya, duduk di sofa sehabis makan malam dan mulai membaca koran.

“Aku lupa melihat koran hari ini,” ujar istrinya sembari membersihkan meja. “Lihat dan perhatikan apakah daftar undian ada di sana.”

“Ya, memang ada,” kata Ivan Dmitritch; “tapi bukankah tiket undianmu hilang?”

“Tidak; aku memasangnya hari Selasa.”

“Berapa nomornya?”

“Seri 9.499, nomor 26.”

“Baiklah… akan kita lihat… 9.499 dan 26.”

Ivan Dmitritch tak meyakini untung-untungan lotre, dan tak akan, seperti sebuah aturan, setuju untuk melihat daftar nomor-nomor pemenang. Tapi sekarang, karena tak ada hal lain untuk dikerjakan dan koran itu kini di depan matanya, ia mengurut jarinya turun di sepanjang kolom nomor-nomor. Dan segera, sambil berpikir dalam ejekan skeptisnya, tak lebih dari baris kedua dari atas, matanya menangkap sosok 9.499! Tak percaya pada penglihatannya, ia buru-buru menjatuhkan koran di lutut tanpa berusaha melihat nomor tiket, dan, seolah seseorang mengucurkan air es padanya, ia merasakan sesuatu yang dingin menyenangkan di perut; geli dan mengerikan dan manis!

“Masha, 9.499! katanya dengan suara hampa. Continue reading

Suatu Hari

Oleh Gabriel García Márquez

Senin menjelang dengan hangat dan tanpa hujan. Aurelio Escovar, seorang dokter gigi tanpa gelar, dan seorang yang bangun sangat pagi, membuka kantornya pukul enam. Ia mengambil beberapa gigi palsu yang masih terpasang dalam cetakan gips, mengeluarkannya dari kotak kaca dan meletakkannya di atas meja seperangkat alat yang telah ia susun berdasarkan nomor pesanan, serupa pajangan. Ia mengenakan kemeja bergaris tanpa kerah, pada leher ditutup dengan kancing emas, dan celana yang ditahan dengan bretel. Dia tegap dan kurus, dengan tampilan yang jarang sesuai dengan situasi, sebagaimana tampilan orang tuli.

Ketika mendapati barang-barang sudah tertata di atas meja, ia menggeser bor ke arah bangku kerja dan duduk untuk memoles gigi palsu. Ia tampak tak memikirkan apa yang sedang ia kerjakan, tapi terus bekerja, memompa bor dengan kakinya, bahkan ketika ia tak perlu melakukannya.

Lewat pukul delapan ia berhenti sejenak untuk memandang langit lewat jendela, dan melihat dua ekor elang termangu berjemur di bawah sinar mentari di atas bubungan rumah sebelah. Ia lanjut bekerja dengan gagasan bahwa hujan akan turun lagi sebelum makan siang. Continue reading

Pecundang yang Bahkan Tak Tahu Urutan Lagu Dalam Album Good As I Been To You-nya Bob Dylan

Kau tak perlu membayar tagihan listrik atau cicilan bulanan mesin pendingin makanan atau mengurus asuransi kesehatan dan kau tentu tak butuh pekerjaan setelah menerima surat pemberhentian secara tidak hormat dari atasan karena bolos kerja dengan membuat alasan tak masuk akal: kau dirawat di rumah sakit karena harus menjalani operasi pemotongan usus halus sepanjang 40 senti sebagaimana yang disarankan dokter ahli pemotongan organ tubuh dan berharap masih bisa mendapatkan gaji pokok bulanan dan sedikit uang santunan dari tempatmu bekerja. Begitulah malam itu, kau mengumpat-ngumpat dalam hati sambil terus berjalan menuju toko minuman, mengeluarkan dan menghitung uang receh yang tersisa di sakumu untuk membeli sebotol bir dingin. Kau menenggak minuman diselingi hisapan rokok mild sembari berjalan ke arah sungai, tempat di mana kau pernah menenggelamkan teman baikmu di dasarnya bersama lima bongkah batu bata yang kauikat ke badannya. Alih-alih merasa bersalah, kau malah bersulang dengan bulan mengingat peristiwa itu.

Udara malam semakin dingin dan kepalamu terasa berat. Kau pun merasa tua seolah sudah hidup selama dua ratus tahun. Lantas kau pulang ke rumah dalam keadaan terhuyung-huyung seperti baru habis naik bianglala dengan kecepatan dua detik per putaran selama tujuh belas menit. Sampai di rumah kau mendobrak pintu depan namun tak terjadi apa-apa lalu kau mulai marah dan mendobraknya sekali lagi dan tetap tak ada apa pun yang terjadi. Dengan amarah yang mulai mendidih bersama alkohol yang berpiuh dalam kepalamu, kau menendang pintu sehabis tenaga dan mendapati dirimu terjengkang dua detik berikutnya. Continue reading